Subagyo: Tebasan Padi di Jatipuro Capai Rp8-9 Juta Per Patok

Spread the love

KLATEN, POSKITA.co – Musim hujan ini tetap disambut bahagia para petani, termasuk para petani di wilayah Kecamatan Trucuk, Klaten. Dan air hujan yang terus mengguyur wilayah Klaten, tak menyurutkan kerja keras para petani.

Hal demikian dikatakan Subagyo (55 th), salah satu petani yang tergabung di Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sugih Rejeki Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk, saat ditemui wartawan akhir pekan ini. Sebagai petani, dirinya bangga bisa berbuat yang terbaik dengan hasil pertanian yang melimpah.

Dikatakan, kelompok tani ini sangat bersyukur dengan datangnya musim hujan. Airnya melimpah dan para petani merasakan air hujan sebagai keberkahan. Para petani di Desa Jatipuro ini menerapkan sistem bercocok tanam tiga musim, padi, padi dan palawija. Kalau musim kemarau memang susah airnya, sehingga memilih tanam palawija.

“Kelompok tani di Jatipuro ini mengelola lahan pertanian seluas 60 hektar dengan anggota 130 petani. Cara bercocok tanamnya tiga cara, padi, padi dan palawija. Kita bersyukur menjadi petani yang bisa melimpah hasil panennya. Terkait beras import, kita sangat menolak, lha wong hasil panennya di Klaten ini sangat melimpah,” ujar Subagyo.

Saat ini harga per patok tebasan panen padi antara Rp 8-9 juta dengan luasan 2200 meter persegi. Untuk petani tembakau, di Desa Jatipuro ini dulu ada 25 orang yang menanam tembakau dan sekarang tinggal 10 orang. Petani tembakau mengalami kerugian sekitar tahun 2010 dan hal ini dikarenakan harga tebasan tembakau jatuh.

Harga beras tebasan sekitar Rp 6 juta dan harga ini masih kalah dengan tebatas padi.  Subagyo mengatakan, untuk hasil pengolahan padi, jika diolah petani yang agak kurang rajin atau profesional, panen padi paling tembusnya Rp 6-7 juta. Dan harga ini juga masih lebih baik dibandingkan harga tebasan tembakau.

“Kami bersyukur bisa menjadi petani dan jangan anggap sepele peran petani dalam pembangunan ini. Presiden pun juga makan beras hasil jerih payah para petani, maka Klaten yang kondang sebagai gudangnya beras, harus bisa dipertahankan. Soal import beras, para petani jelas menolak,” ujarnya. (Aha)

Caption Foto:
Subagyo bersama para petani Desa Jatipuro, Trucuk, memang gemar berolahraga sepeda minggu pagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *