Mangayubagyo Dhaup Ageng Mangkunegaran, Menjadi Kisah Manis Tak Terlupakan Bagi Komunitas Difabel
SOLO, POSKITA.co – Bagi Budianto, undangan untuk menghadiri Mangayubagyo Dhaup Ageng menjadi pengalaman yang membekas. Warga Kebakkramat yang tergabung dalam Kelompok Difabel Berdaya itu untuk pertama kalinya memasuki Pura Mangkunegaran, bukan sekadar sebagai pengunjung, melainkan sebagai tamu yang ikut merasakan kebahagiaan keluarga.
“Saya sampai gemetar saat diberi tahu kalau diundang ke Mangkunegaran. Seumur hidup baru kali ini saya diundang masuk,” tutur Budianto, Sabtu, 7 November 2026.
Budianto hadir bersama sekitar 100 peserta lainnya. Setibanya di Pamedan, mereka disambut untuk menikmati jamuan dan rangkaian kegiatan yang berlangsung selama Mangayubagyo pada 6-8 November 2026. Baginya, sambutan tersebut membuat ia merasa dihargai dan dilibatkan dalam peristiwa penting bagi keluarga besar Mangkunegaran.
Pengalaman serupa dirasakan Kholis, anggota komunitas penyandang disabilitas dari Jumapolo, Karanganyar. Ia telah bersiap sejak siang untuk menghadiri kegiatan tersebut. Selama ini ia hanya melewati Pura Mangkunegaran; Mangayubagyo menjadi kesempatan pertamanya untuk masuk dan mengambil bagian dalam suasana pahargyan.
“Biasanya hanya lewat. Kalau masuk, belum pernah,” ujar Kholis.
Kebahagiaan yang Dibagikan Bersama
Pengalaman Budianto dan Kholis menggambarkan semangat utama Mangayubagyo: membuka ruang agar masyarakat dapat ikut hadir, berbahagia, dan menyampaikan pangestu bagi G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas.
Masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari perjumpaan yang menyertai perjalanan baru kedua mempelai.
Mengusung tema Sumambung ing Rasa, Nyawiji ing Pangestu, Mangayubagyo mempertemukan warga, komunitas, pelaku usaha, dan berbagai kelompok sosial di Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebagai bagian dari partisipasi sosial tersebut, sekitar 200 undangan dari panti dan kelompok sosial hadir setiap hari bersama masyarakat yang mengikuti rangkaian kegiatan.
“Mangayubagyo merupakan ungkapan rasa syukur keluarga yang ingin dibagikan bersama masyarakat. Kami membuka ruang bagi masyarakat untuk turut berbahagia serta menyampaikan doa dan pangestu bagi kedua mempelai,” ujar Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti. (Arya)

