Mangayubagyo Dhaup Ageng Mangkunegaran, Masyarakat Ditempatkan sebagai Bagian dari Perjumpaan Kedua Mempelai
SOLO, POSKITA,co – Mangayubagyo Dhaup Ageng Mangkunegaran, Masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari perjumpaan yang menyertai perjalanan baru kedua mempelai.
Mengusung tema Sumambung ing Rasa, Nyawiji ing Pangestu, Mangayubagyo mempertemukan warga, komunitas, pelaku usaha, dan berbagai kelompok sosial di Pamedan Pura Mangkunegaran. Sebagai bagian dari partisipasi sosial tersebut, sekitar 200 undangan dari panti dan kelompok sosial hadir setiap hari bersama masyarakat yang mengikuti rangkaian kegiatan.
“Mangayubagyo merupakan ungkapan rasa syukur keluarga yang ingin dibagikan bersama masyarakat. Kami membuka ruang bagi masyarakat untuk turut berbahagia serta menyampaikan doa dan pangestu bagi kedua mempelai,” ujar Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti, Sabtu, 7 November 2026.
Abdi Dalem dan Pelaku Usaha Lokal Mengambil Bagian
Semangat berbagi juga diwujudkan melalui keterlibatan abdi dalem dan pelaku usaha lokal. Feri Setyawan, abdi dalem yang sehari-hari bertugas menjaga kebersihan dan pertamanan Pura Mangkunegaran, turut menghadirkan wedangan khas Solo yang ia kelola di luar tugas pengabdiannya.
“Saya abdi dalem di bagian kebersihan dan pertamanan. Saya bersyukur diundang dan diberi kesempatan untuk ikut dalam Mangayubagyo Dhaup Ageng,” kata Feri.
Feri membawa wedang ronde, wedang asle, dan wedang kacang, masing-masing sekitar 30 porsi. Seluruh sajiannya habis dinikmati para tamu. Kesempatan tersebut menjadi bermakna baginya karena ia dapat berpartisipasi dalam pahargyan di tempat ia mengabdi.
Pelaku usaha lain juga mengambil bagian. Nunung, penjual sate kere dari Sukoharjo, menyiapkan sekitar 500 porsi setiap hari, sedangkan Wimbu menghadirkan sekitar 200 porsi sate taichan. Keterlibatan mereka menempatkan usaha lokal sebagai bagian dari keramahan dan kebersamaan yang dibangun melalui Mangayubagyo.
Ruang Perjumpaan Budaya dan Pangestu
Selama tiga hari, Mangayubagyo juga menghadirkan tari, musik keroncong, wayang kulit, dan berbagai kegiatan bersama masyarakat. Warga dapat menyampaikan doa dan harapan bagi kedua mempelai melalui rangkaian pangestu, sehingga kehadiran mereka tidak berhenti pada menikmati acara, tetapi turut memberi makna bagi perjalanan baru pasangan.
Melalui perjumpaan tersebut, Dhaup Ageng tetap berakar sebagai peristiwa keluarga Mangkunegaran, sekaligus terhubung dengan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Kebahagiaan dibagikan melalui sambutan yang hangat, kesempatan untuk berpartisipasi, serta doa dan pangestu yang disampaikan bersama. (Arya)

