Klaten

Mengenang Kembali Kiprah Kiai Singomanjat Pejuang Kemerdekaan Era Pangeran Diponegoro di Tempursari

Keterangan Foto: KH Mustamir Al Hafidz dari Pondok Pesantren Al Muayyad Solo memimpin dzikir tahlil.

KLATEN, POSKITA.co – Ratusan warga tampak hadir dalam acara peringatan majelis dzikir dan haul Kiai Imam Rozi Singomanjat ke-181 dan KH Abdul Muid ke-85 dengan pembicara KH Achmad Sholeh Ismail dari Magelang, Rabu (22/7/2026) malam.

Sudah seperti agenda tahunan, setiap ada majelis haul Kiai Imam Rozi Singomanjat dan KH Abdul Mu’id Tempursari, puluhan pedagang kaki lima atau UMKM, hadir dengan berjualan di sepanjang jalan menuju lokasi sejak sore hari.

Kepada redaksi, KH Muhammad Fatih Muftaroh Al Hafidz, panitia haul yang juga cucu KH Abdul Muid, haul ini dirayakan setiap tanggal 8 Shofar dengan berbagai agenda. Salah satunya dengan menggelar pengajian akbar dengan majelis dzikir tahlil serta pembacaan sholawatan dan manakib Kiai Singomanjat dan KH Abdul Mu’id.

“Keluarga yang tersebar di berbagai daerah juga mengadakan simaan Al Qur’an atau tadarusan Al Qur’an untuk kedua almarhum dan keluarga yang telah meninggal dunia. Kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kelancaran agenda tahunan ini,” ungkap Kiai Fatih Muftaroh yang juga Pengasuh Pondok Pesantren di Poncol, Semarang.

Camat Ngawen bersama Babinsa Tempursari Serma Dwi Santosa, Bhabinkamtibmas Tempursari Aiptu Parmadi dampingi Staf Ahli Bupati Joko Istanto, SH MSi hadir dalam majelis haul Tempursari tahun 2026 ini.

Dalam majelis ini ada pembacaan maulid Nabi Muhammad Saw Bersama grup hadroh, pembacaan manakib Kiai Imam Rozi Singomanjat dan KH Abdul Mu’id, sambutan Bupati Klaten yang disampaikan Staf Ahli Bupati Joko Istanto, serta materi pengajian inti.

Sementara itu, Kiai Djami’ul Ma’ruf asal Solo mengatakan, Kiai Imam Rozi memiliki gelar Singo Manjat. Kiai Singomanjat dikenang sebagai ulama sekaligus pejuang pada masa Perang Jawa sekitar tahun 1825–1830.

Kiai Imam Rozi merupakan putra Kiai Maryani yang lahir pada 1801 Masehi. Sejak kecil, ia belajar ilmu agama dari sang ayah sebelum memperdalam pengetahuan kepada sejumlah ulama. Dan menjadi salah satu santri di garis terdepan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kolonial Belanda.

“Menurut berbagai sumber, perjalanan spiritual dan intelektualnya semakin matang setelah berguru kepada Kiai Mojo, tokoh sentral Perang Jawa, serta ulama besar Kiai Abdul Jalil Kalioso. Saat Perang Jawa meletus pada 1825, Kiai Imam Rozi baru berusia 24 tahun. Ia kemudian bergabung dengan barisan laskar santri yang berjuang di bawah komando Pangeran Diponegoro melawan kolonial Belanda,” ungkap Djami’ul Ma’ruf.

Keberanian, ketangkasan, dan kepiawaiannya menyusun strategi membuat Kiai Imam Rozi dipercaya memegang peran penting di garis depan perlawanan. Pangeran Diponegoro mengangkatnya sebagai Manggala Yudha atau panglima perang. Selain itu, ia juga dipercaya mengemban jabatan Penghulu Mata Keadilan atau Jaksa Utama.

“Tak hanya berjuang di medan perang, Kiai Imam Rozi juga menjadi penghubung antara Pangeran Diponegoro dan Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Paku Buwono VI. Secara rahasia, Paku Buwono VI memberikan dukungan berupa dana, senjata, dan logistik bagi perjuangan laskar Jawa,” ungkapnya.

Salah satu keluarga sedang ziarah makam KH Abdul Mu’id yang juga sosok ulama kharismatik sebagai Mursyid Thoriqoh Syadziliyah di Tempursari.

Selepas masa perjuangan, Kiai Imam Rozi memilih Tempursari sebagai tempat berdakwah pada 1833. Di wilayah tersebut, ia mendirikan masjid dan Pondok Pesantren Singomanjat sebagai pusat penyebaran ajaran Islam.

“Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1837, Paku Buwono VI menetapkan Tempursari sebagai tanah perdikan atau wilayah yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak kepada kerajaan. Kebijakan itu menjadi tonggak penting dalam perkembangan kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Tempursari,” ungkap Kiai Djami’.

Hadir dalam majelis haul Kiai Singomanjat dan KH Abdul Muid yang juga seorang Mursyid Thoriqoh Syadziliyah antara lain Joko Istanto, SH MSi, Camat Ngawen H. Poniran, SIP, Babinsa Tempursari Serma Dwi Santosa, Bhabinkamtibmas Tempursari Aiptu Parmadi, KH Muchlis Hudaf (Rois Syuriah NU Klaten), H. Mujab, SH MSi (mantan Kabag Kesra Setda Klaten), dan tamu undangan lainnya. (Hakim)