Satlantas Polresta Solo Poles Skill 100 Supeltas
Kasatlantas Polresta Surakarta, Kompol Dhayita Daneswari saat memberikan pembinaan kepada 100 Supeltas di Polresta Surakarta, Kamis (7/5). (foto dokumentasi)
SOLO, POSKITA.co – Mereka adalah sosok-sosok tak kenal lelah yang berdiri di tengah terik dan debu, memastikan roda kendaraan tetap berputar di persimpangan padat. Menyadari peran krusial tersebut, Satlantas Polresta Surakarta memberikan kado spesial berupa pembinaan dan perlengkapan baru bagi 100 Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas (Supeltas) Kota Solo, Kamis (7/5).
Halaman Polresta Surakarta mendadak dipenuhi “pasukan” rompi oranye. Di bawah arahan langsung Kasatlantas Polresta Surakarta, Kompol Dhayita Daneswari, para Supeltas ini tidak hanya sekadar berkumpul, tapi ditempa agar semakin mahir dalam menjinakkan kemacetan.

Kasatlantas Polresta Surakarta, Kompol Dhayita Daneswari
Pembinaan ini mencakup tiga aspek penting: Teori Pengaturan: Memahami aturan hukum dan rambu dasar. Implementasi Lapangan: Teknik gerakan tangan yang tegas dan jelas agar mudah dipahami pengemudi. Etika di Jalan: Cara berkomunikasi yang santun namun efektif dengan pengguna jalan.
“Kegiatan ini adalah bentuk perhatian kami sekaligus upaya meningkatkan kapasitas rekan-rekan Supeltas. Mereka adalah mitra kami dalam menjaga kelancaran arus kendaraan di titik-titik padat,” ujar Kompol Dhayita, mewakili Kapolresta Surakarta, Kombes Pol Catur Cahyono Wibowo.
Tak hanya bekal ilmu, momen ini juga ditandai dengan pembagian rompi baru untuk 100 peserta. Rompi ini bukan sekadar atribut, melainkan identitas resmi yang meningkatkan keamanan (visibilitas) mereka saat bertugas di bawah cuaca ekstrem maupun kondisi minim cahaya.
Langkah Satlantas ini menegaskan bahwa kolaborasi antara kepolisian dan masyarakat adalah kunci utama ketertiban lalu lintas di Kota Bengawan. Dengan bekal etika dan teknik yang lebih mumpuni, diharapkan tidak ada lagi kebingungan di persimpangan, sehingga kenyamanan warga Solo saat berkendara tetap terjaga.
Aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas pengaturan lalu lintas yang dilakukan para Supeltas. Karena itu, Satlantas terus melakukan pengawasan dan pendampingan agar para sukarelawan memahami batasan serta prosedur saat bertugas di jalan.
Dhayita menambahkan, para Supeltas biasanya turun membantu pengaturan arus kendaraan ketika kondisi jalan mulai padat, terutama saat jam berangkat dan pulang kerja maupun ketika jam sekolah.
‘Mereka sendiri biasanya terjun dengan melihat kondisi di lapangan. Biasanya di jam crowded, saat berangkat dan pulang kerja dan jam sekolah,” jelasnya.
Keberadaan Supeltas dinilainya cukup membantu menekan potensi kecelakaan lalu lintas di Kota Solo. Menurutnya, sebagian besar kecelakaan dipicu oleh pelanggaran maupun ketidakteraturan arus kendaraan, sehingga keberadaan petugas pengatur di lapangan dapat membantu meminimalkan risiko tersebut.
Di sela pembinaan dan pengarahan, Ketua Paguyuban Supeltas Kota Solo, Narno merasa bersyukur karena selama ini para Supeltas mendapat dukungan dan pembinaan dari Satlantas Polresta Surakarta.
“Dengan adanya pembinaan ini, kami merasa senang karena selalu mendapat support untuk menunjang kegiatan kami di lapangan,” katanya.
Narno yang kerap mangatur arus lalu lintas di kawasan Perempatan Kilat Nonongan, telah menjadi Supeltas sejak 2014.
Warga Baki, Sukoharjo tersebut secara ikhlas mengatur arus lalu lintas demi membantu ketertiban lalu lintas di Kota Solo.
“Paling utama kami bisa bermanfaat untuk masyarakat, terutama di Kota Solo, untuk menjaga ketertiban dalam berlalu lintas dan menekan angka kecelakaan yang terjadi di Kota Solo,” bebernya.
Menurutnya, menjadi Supeltas tidak selalu mudah. Namun semangat pengabdian dan keikhlasan menjadi modal utama bagi para anggota di lapangan.
“Sebagai Supeltas, kami bekerja secara ikhlas, dan selama ini masyarakat mungkin mendapat manfaat dari kami. Dari masyarakat banyak yang memberi perhatian, dan selama ini kami cukup dan ikhlas, itu yang kami tanamkan kepada anggota,” katanya.
Hal senada disampaikan Supeltas perempuan, Retno Esliningtyas. Dia menilai pembinaan dari Satlantas membuat para relawan semakin memahami teknik pengaturan lalu lintas yang benar.
“Dengan adanya pengarahan ini, tentu kami jadi lebih tertata, terutama pengaturan di jalan raya, karena pengaturan tidak sembarangan. Dan kami diberi 12 cara pengaturan lalu lintas,” urainya.
Retno mengaku telah menjadi Supeltas selama lima tahun dan biasa bertugas di kawasan Pertigaan Kalitan pada sore hari. Sebagai ibu rumah tangga dengan anak usia sekolah dasar, dia memilih menjadi Supeltas karena waktu yang lebih fleksibel.
“Sekarang saya sukarelawan di Supeltas ini jadi punya waktu yang fleksibel, baik dalam bekerja maupun saat menjaga anak-anak,” katanya.
Meski begitu, pekerjaan di jalan tetap memiliki risiko.
Dia pernah mengalami kejadian terserempet spion kendaraan saat bertugas mengatur arus lalu lintas. “Pengalaman buruk, pernah kesampluk spion,” ucapnya.
Retno mengakui penghasilan sebagai Supeltas tidak menentu. Namun dia tetap menjalani pekerjaan tersebut dengan ikhlas sambil membantu kelancaran lalu lintas di Kota Solo.
“Yang penting dapat manage waktu dalam menjalani pekerjaan dan mendampingi anak,” paparnya.
Tanto/*

