Soloraya

Misi Puspo Wardoyo: Memoles “Permata” Surakarta Agar Tak Kalah Elok dari Jogja

Owner Wong Solo Grup, H Puspo Wardoyo menerima penghargaan dari Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, GKR Wandansari, atas partisipasinya dalam melestarikan budaya keraton. (foto dokumentasi)

SOLO, POSKITA.co  – Suasana magis menyelimuti Bangsal Semorokoto, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Rabu (29/4) malam. Di bawah pendar lampu temaram, gemulai penari klasik memperingati Hari Tari Dunia, seolah membangkitkan kembali kejayaan masa lalu yang adiluhung. Namun, di balik tirai seni tersebut, sebuah narasi besar tentang “penyelamatan” identitas Solo tengah digulirkan.

Sosok sentral malam itu bukan hanya para penari, melainkan Puspo Wardoyo. Raja kuliner pemilik Wong Solo Group ini hadir dengan komitmen penuh untuk memoles kembali wajah Keraton Solo yang ia nilai perlu perhatian serius.

Puspo Wardoyo, yang telah menyandang gelar dari Keraton sejak 2002, memberikan pernyataan jujur yang cukup menohok sekaligus memotivasi. Ia membandingkan kondisi fisik Keraton Solo dengan saudara mudanya di Yogyakarta.

“Kita pengen Keraton Solo itu secantik Keraton Jogja, yang terurus dan indah,” ujar pendiri Kalipepe Land tersebut dengan nada optimis.

Bagi Puspo, Keraton adalah harga diri warga Solo. Ia menekankan bahwa keindahan fisik dan kelestarian budaya non-fisik—seperti tari-tarian klasik—harus berjalan beriringan agar identitas kota tertua ini tidak luntur ditelan zaman. Namun, ia memberikan catatan penting: kerukunan internal adalah kunci.

“Harapan saya, keluarga Keraton harus rukun, kompak, dan bekerja sama dengan pemerintah supaya kecantikan dan keagungan Keraton bisa terus dipertahankan,” tegasnya.

Dedikasi Puspo tidak bertepuk sebelah tangan. Malam itu, pihak Keraton memberikan penghargaan khusus sebagai simbol apresiasi atas konsistensinya sejak awal era 2000-an.

GKR Wandansari (Gusti Moeng), Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta, tampak emosional saat menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia menyebut kepedulian dari sektor swasta seperti yang dilakukan Puspo sebagai “angin segar” yang langka.

Keprihatinan Tulus: Gusti Moeng mengungkapkan bahwa Puspo diam-diam mengamati kondisi Keraton dan merasa prihatin. Sinergi Masa Depan: Kerjasama ini diharapkan tidak hanya berhenti pada seremoni tari, tetapi merambah ke perbaikan fisik bangunan Keraton. Magnet Pariwisata: Harapannya, Keraton Surakarta bisa kembali menjadi pusat edukasi karakter bangsa sekaligus magnet utama pariwisata dunia.

Keterlibatan Puspo Wardoyo menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab “orang dalam” benteng, melainkan tanggung jawab moral setiap putra daerah yang telah sukses.

Momen Hari Tari Dunia kali ini bukan sekadar panggung gerak tubuh, melainkan momentum bagi para tokoh masyarakat untuk kembali menoleh pada situs-situs bersejarah yang mulai meredup. Jika sinergi antara pengusaha, pemerintah, dan internal Keraton terjalin kuat, bukan tidak mungkin impian melihat Keraton Solo seindah—atau bahkan lebih indah—dari Keraton Yogyakarta akan segera menjadi kenyataan. Tanto