Gayeng..!! Grebeg Sadranan Nemlikuran Makam Ploso Kadilanggon Tahun 2026 Ada Rebutan Gunungan
Foto Atas: Sutarjo (depan berjenggot) memimpin arak-arakan gunungan keliling kampung sepanjang 500 meter menuju makam Ploso, Kadilanggon, Wedi, Klaten, Minggu (15/2/2026) pagi.
KLATEN, POSKITA.co – Terlihat 8 orang warga membawa tandu gunungan berisi aneka sayuran keliling kampung, seperti kacang panjang, terong, tomat, ceme, jagung dan lainnya, menuju Grebeg Sadranan Nemliburan Makam Ploso, Kadilanggon, Wedi, Klaten, Minggu (15/2/2026) pagi.
Sutarjo (63 th), tokoh RW 3 Dukuh Ngemplak, Desa Kadilanggon mengaku, gunungan tersebut sudah setiap ada acara sadranan selalu dibuat. Dan gunungan berisi aneka sayuran ini menjadi symbol kemakmuran dan kesejahteraan warga Desa Kadilanggon, Kecacamatan Wedi, Klaten.
“Kami warga RW 3 Desa Kadilanggon yang membuat gunungan sayuran ini untuk menyemarakkan tradisi sadranan nemlikuran makam Ploso. Kita arak gunungan ini sekitar 500 meter keliling kampung dengan harapan warga tetap Bahagia, guyup rukun dan kita nguri-uri budaya sadranan sampai kapan pun,” jelas Sutarjo yang tampil enerjik.
Sementara itu, Kepala Desa Kadilanggon Sri Agung Suko Wijoyo, SH menambahkan, setiap ruwahan atau sya’ban tanggal 26, di makam Ploso, Desa Kadilanggon ini rutin diadakan tradisi sadranan. Dan semua warga Desa Kadilanggon hadir dengan membawa snack yang telah dipersiapkan oleh masing-masing RW.
Sebelum dzikir tahlil dimulai, ada Kades Kadilanggon Sri Agung bersama tokoh agama Kadilanggon, ziarah atau nyekar dulu ke makam kasepuhan yang ada di malam Ploso. Dibandingkan sadranan tahun 2025 lalu, untuk sadranan tahun 2026 sangat meriah dan warga yang hadir sangat banyak dengan duduk di alas tikar di bawah tratak kisaran 250 meteran panjangnya.

Acara diisi dengan dzikir tahlil yang dipimpin Kiai Imam Digdo Wibowo yang tak lain murid thariqoh Syadziliyah Maulana Al Habib Luthfi bin Ali Yahya Pekalongan dan menjadi Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Wedi.
“Alhamdulillah, tradisi sadranan tahun 2026 ini lebih meriah dibanding tahun lalu. Semoga tradisi sadranan nemlikuran jelang memasuki bulan suci puasa Ramadhan ini tetap membawa berkah bagi masyarakat dan kita sama-sama bersiap diri menyambut kedatangan puasa Ramadhan dengan bahagia,” pesan Sri Agung.
Terkait adanya gunungan yang diarak, dipandang bisa memotivasi warga untuk datang ke acara sadranan nemlikuran yang juga dihadiri warga perantauan yang ada di Jakarta, Pekalongan, Semarang, Yogyakarta atau kota besar lainnya. Kades Kadilanggon Sri Agung sangat mendukung sadranan tetap dilestarikan dan tetap diurip-urip.
Hadir dalam acara grebeg sadranan nemlikuran makam Ploso tahun 2026 ada Camat Wedi Widaya, SH MSi, Kapolsek Wedi AKP Dariyanto, Babinsa Kadilanggon, pengurus BPD, Ketua RT/RW, kader TP PKK Desa Kadilanggon, tokoh agama, tokoh masyarakat, karang taruna, dan elemen lainnya.
“Kami atas nama Pemerintah Kecamatan Wedi tentu mendukung dan mengapresiasi adanya grebeg sadranan nemlikuran di makam Ploso Desa Kadilanggon ini. Kebetulan di kampung saya sendiri, Desa Jombor, Kecamatan Ceper, juga rutin ada sadranan yang juga dihadiri semua warga dengan nyekar ke makam keluarga yang telah tiada,” jelas Camat Widaya yang tahun ini akan purna tugas.

Sejumlah bidan desa Puskesmas Wedi juga hadir dan memberikan layanan cek kesehatan bagi warga, khususnya tensi dan kadar gula. Dari pantauan redaksi, warga sebelum duduk di tikar sadranan makam Ploso sesuai RW masing-masing, antusias mengikuti cek kesehatan terlebih dulu bersama Puskesmas Wedi.
Usai acara, tradisi sadranan nemlikuran di makam Ploso Kadilanggon ditutup dengan rebutan gunungan yang kebanyakan ibu-ibu yang ikut rebutan. Sementara itu Kades Kadilanggon terlihat mendampingi Camat Wedi, Kapolsek Wedi dan tamu lainnya, menikmati hidangan soto ayam khas Kadilanggon. Suasana sadranan tahun 2026 memang berbeda dari tahun 2025 lalu dan kesannya lebih meriah. (Hakim)

