Bupati Madiun Soroti Lunturnya Nilai Pancasila, Ajak Masyarakat Tak Sekadar Hafal Sila
Sarasehan bertajuk Pancasila Kembali Sakti yang digelar di Gedung Monumen Pers Nasional (MPN), pada Sabtu (10/10) dengan menghadirkan para narasumber. (foto dokumentasi)
SOLO, POSKITA.co – Pancasila jangan hanya dihafalkan, tetapi harus benar-benar hidup dalam perilaku sehari-hari. Pesan inilah yang disampaikan Bupati Madiun, H. Hari Wuryanto, saat menyoroti pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila di tengah perubahan zaman.
Dalam Sarasehan Pancasila Kembali Sakti di Monumen Pers Nasional, Kota Solo, Sabtu (10/10/2026), Hari Wuryanto mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah hingga generasi muda, untuk bersama-sama membumikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut dia, Pancasila tidak cukup dipahami sebagai dasar negara atau diucapkan dalam berbagai seremoni. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus diwujudkan melalui sikap, tindakan, dan cara masyarakat memperlakukan sesama.
“Nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalamnya tidak sekadar untuk dihafalkan, namun dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Bupati Madiun yang untuk kali pertama menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut.
Sarasehan yang diinisiasi Forum Konsolidasi Komunitas Peduli Pancasila itu mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, komunitas, mahasiswa, Karang Taruna, serta tokoh masyarakat. Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk memperkuat kembali pengamalan Pancasila, terutama di kalangan generasi muda.
Berawal dari Keprihatinan terhadap Generasi Muda
Gagasan menggelar Sarasehan Pancasila Kembali Sakti berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi generasi muda yang dinilai mulai menjauh dari nilai-nilai luhur Pancasila.
Ketua P-PERISAI sekaligus panitia kegiatan, Amy Kadiono, mengatakan gerakan tersebut lahir dari kegelisahan pribadinya melihat pentingnya menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila kepada anak-anak muda.
“Jadi sebetulnya ini berangkat dari keprihatinan saya sebagai seorang ibu, ibu rumah tangga, yang melihat generasi muda kita ini hampir melupakan nilai-nilai luhur daripada Pancasila,” terang istri mantan Bupati Madiun, Kadiono, tersebut.
Amy menilai, upaya menghidupkan kembali Pancasila tidak bisa hanya dibebankan kepada masyarakat atau komunitas. Keterlibatan pemerintah, khususnya para kepala daerah, menjadi bagian penting agar gerakan tersebut dapat menjangkau lebih banyak kalangan dan berlangsung secara berkelanjutan.
“Utamanya stakeholder, yaitu pemerintah saat ini, mari kita bangun kembali, kita bumikan kembali nilai-nilai luhur Pancasila, utamanya untuk generasi muda kita,” katanya.
Menurut Amy, kegiatan di Solo menjadi langkah awal membangun sinergi antara komunitas dan pemerintah daerah. Ia berharap gerakan serupa mendapat perhatian dari berbagai kepala daerah sehingga pengamalan Pancasila tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
“Kita awali dari Solo dulu. Kemudian nanti kami juga berharap kepedulian daripada masing-masing kepala daerah. Kalau hanya masyarakat saja tanpa yang berwenang, yaitu kepala daerah, ini kita akan mustahil,” jelasnya.
Pemkot Solo Siapkan Ruang Kolaborasi
Dukungan terhadap gerakan tersebut juga disampaikan Pemerintah Kota Surakarta melalui Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Dra. Purwanti, M.Si., yang hadir mewakili Wali Kota Respati Achmad Ardianto.
Purwanti menegaskan, nilai-nilai Pancasila perlu diterapkan secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Pengamalannya dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menghormati perbedaan, menjaga toleransi, memperkuat gotong royong, menegakkan keadilan, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Pancasila, dengan demikian, tidak seharusnya berhenti sebagai hafalan di sekolah, slogan dalam pidato, atau simbol dalam kegiatan kenegaraan. Nilai-nilainya harus hadir dalam tindakan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, maupun ruang publik.
Pemkot Surakarta juga membuka peluang kerja sama dengan komunitas untuk memperluas sosialisasi Pancasila. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah memanfaatkan ruang publik, termasuk kegiatan car free day (CFD), sebagai sarana edukasi sekaligus ruang bagi masyarakat untuk mempraktikkan nilai-nilai kebangsaan.
Mahasiswa dan Karang Taruna Dilibatkan
Kehadiran generasi muda menjadi salah satu perhatian utama dalam sarasehan tersebut. Sejumlah mahasiswa dari delapan perguruan tinggi, perwakilan Karang Taruna se-Surakarta, dan tokoh masyarakat turut mengikuti kegiatan.
Keterlibatan mereka diharapkan tidak hanya menjadi peserta diskusi, tetapi juga mendorong lahirnya gerakan nyata untuk menjaga persatuan, memperkuat toleransi, dan menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Selain Hari Wuryanto, Amy Kadiono, dan Purwanti, sarasehan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Kepala Pusat Studi Kajian Rumah Pancasila, Ir. Prihandoyo Kuswanto; Kepala Bidang Sosialisasi BPIP Pusat, Andy Apriyanto, S.H., M.Si.; serta Kepala Pusat Studi Pengamalan Pancasila Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. Triyanto, S.H., M.Hum.
Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap Pancasila tidak hanya dipahami sebagai dasar negara yang wajib dihafalkan, tetapi juga menjadi pedoman dalam bersikap, mengambil keputusan, menghormati perbedaan, dan membangun kehidupan bersama.
Sebab, kekuatan Pancasila bukan semata-mata terletak pada bunyi lima silanya, melainkan pada kesediaan setiap warga negara untuk menjalankan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata.
Tanto/*

