KOLOM

“ANGGARA KASIH”Bukti Nyata 59 Tahun RSPD Menjaga Budaya

Oleh: Kristian Apriyanta, S.Pd *

Momentum HUT RSPD Kab Klaten ke 59 tahun 2026 patut dirayakan bersama sebagai sebuah keberhasilan lembaga penyiaran publik daerah dalam menjaga Budaya Lokal kita. RSPD yang didirikan pada Rebo pahing 25 Januari 1967, (13 Syawal 1898) dengan segala dinamikanya terbukti kesetiaanya dalam menemani perjalanan dan berkontribusi nyata dalam pembangunan kebudayaan di Kabupaten Klaten.

Hal ini terbukti pada kontinuitas dan komitmentnya pada salah satu program acara penyiaran secara live seni pertunjukan tradisional wayang kulit yang dikenal dengan wayangan selasa kliwon. Selain program kesenian lainya seperti Karawitan, Ketoprak Lesehan, Kethoprak Jemuah Legen, wayangan selasa kliwonan adalah produk budaya yang telah menjadi satu kesatuan dalam dunia siarnya.

Wayangan selasa kliwonan ini selalu setia mengudara sepasar pisan pada hari senin malam selasa kliwon (35 hari sekali) difrekuensi 93,40 FM, mulai pukul 20.00 yang masuk pada kategori prime time to late fringe time 23.00 – 01.00, dimana siaran yang paling banyak menarik penonton beragam dari tua, muda, anak anak. dan bertepatan dengan usianya ke 59, bertepatan pula dengan penyiaran wayang kulit selasa kliwonan yang ke 650 kalinya.

Program acara pagelaran Wayang Kulit Selasa kliwonan merupakan potret keberhasilan RSPD klaten dalam menerapkan strategi pemberdayaan dengan konsep Pemungkinan, Penguatan, Perlindungan, Penyokongan, dan Pemeliharaan yang memberikan pengalaman dan pelatihan. Demi meningkatkan keterampilan serta mewadahi para dalang dalang yang ada di Klaten dan juga memberdayakan potensi kesenian tradisional agar tetap lestari bentuk kasih yang nyata dalam menjaga budaya.

Mengapa dipilih hari Selasa Kliwon ?, tidak malam minggu yang kemungkinan penontonya akan lebih banyak. Selasa Kliwon dalam kalender Jawa dikenal juga dengan istilah Anggara Kasih, hari pasaran ini dipercaya punya keistimewaan khusus dalam pandangan petung Jawa oleh masyarakat Jawa sebagai hari yang membawa energi keseimbangan dan perlindungan, karena neptunya berjumlah 11 (Selasa 3 + Kliwon 8), sewelas tegese sih kawelasan yang berarti hari penuh kasih sayang, kaserat angka 1 lan 1, pada pada imbange, siji- siji uga duweni arti sabar.

Meskipun era modern saat ini nama pasaran Kliwon terkadang disalah artikan sebagai hal yang mistis. Padahal justru kliwon pada masa lalu bermakna prihatin, waktu yang baik untuk tirakatan mencari kepekaan ketenangan batin wingit (kebak ing pengati ati) kejernihan hati dan pikiran dan mendekatkan diri pada Tuhan untuk berbagai peruntungan. Namun demikian saat ini semua hari itu baik, ngelmu titen nenek moyang sebagai pedoman pengingat untuk masyarakat agar selalu eling klawan Gustine.

Menurut informasi lisan wawancara penulis dengan (alm) Ki Sutopo Mulyo Widodo, SH, pada bulan Nopember 2010, saat itu beliau menjabat ketua PEPADI Klaten telah dimulai pertama kalinya pada hari Selasa Kliwon, 7 Februari 1967 ( 25 Syawal 1898) saat itu merupakan rangkaian Ujub Syukur nanggap wayang ngadegke Radio pada saat transisi pejabat Bupati Klaten dari (alm) R. Ng. S. Harjosantoho yang digantikan (alm) Kol. R. Sutiyoso.

Nanggap Wayang pada masa itu merupakan budaya yang dilakukan oleh Instansi Pemerintah ketika memperingati momentum hari hari istimewa. Pada saat wayangan syukuran berdiriya RSPD saat itu tidak diketahui jelas dalang dan lakonya. Tapi diinformasikan hadir pula diacara para tokoh tokoh dalang Klaten seperti (alm) Ki. Pujo Sumarto [https://id.wikipedia.org/wiki/Pujo_Sumarto], Pringgosatoto, Tiknosudarso Jombor, Katomiharjo Granting, Nartosuwiryo, dan Hadigangsar.

Panitianya dari seksi seni kantor kebudayaan ada pak hadidarsono, Ki Soemijanto, mas Bagyo Pujotaryono dan banyak lagi. Yang kemudian mengusulkan kepada Pemerintah saat itu untuk dirutinkan Wayangan yang disiarkan oleh radio RSPD, dan disepakati diadakan setiap malam selasa Kliwon yang semua ubarampenya Dalang sendiri yang menyiapkan, pemerintah hanya sebagai tempat dan menyediakan fasilitas siaran.

Sebagai Laku dalang Klaten dengan nyumbang kabisane mayang, sebagai ujub syukur dana rasa karena telah dihidupi dari kesenian wayang atau pedalangan. Niat Dalang Klaten tersebut akhirnya menjadi Rutinitas, dan RSPD Klaten mulai membuat program siaran tersebut dengan bekerjasama dengan para dalang-dalang yang ada di Klaten.

Wayang Kulit selasa kliwon di RSPD awal mulanya dekade awal tahun 1960 an merupakan sebuah acara silaturahmi bentuk syukur, tirakatan para dalang yang memainkan wayang dengan pakem baku /struktur lakon pedalangan gaya surakarta yang bersumber dari Kraton Kasunanan, pada masa itu dimulai dari jejer, kèndel gapuran, adegan kedhatonan, pasowanan, jawi, budhalan, kapalan, perang ampyak, adegan sabrang.

Juga ada perang gagal, adegan sabrang rangkep, gara-gara bila diperlukan, adegan pendhita, perang kembang, adegan sampak tanggung (sintrèn), perang sintrèn, adegan manyura, perang sampak manyura, perang sampak, amuk-amukan, tayungan, adegan tanceb kayon, golèkan. Dilakukan secara utuh dan penuh. Karena pada waktu itu Wayangan selasa kliwonan adalah wayangan kerjasama pemerintah sehingga penyajianya harus pakem berpedoman pada gaya pakem kraton pada umumnya seperti di atas.

Memasuki dekade 1970 an dalang penyaji wayangan selasa kliwon mulai menyajikan struktur lakon yang sesuai sanggit (kreativitas) dalangnya masing masing yang merupakan gaya warisan run tumurun para dalang Klaten yang ternyata banyak beranekaragam, bahkan dalam satu lakon yang sama berbeda strukturnya, seperti dikutip dari tulisan Krystiadi, S.Sn, MA dalam Narrative Structure of Bratayuda Jombor Performance, Jurnal wayang Nusantara ISI Yogyakarta ISSN 2356-4784.

Sebagaimana diungkapkan oleh Groenendael (1987, pp. 17–19) menyebutkan bahwa masyarakat pedalangan Klaten mengenal beberapa gaya pedalangan. Gaya-gaya itu meliputi gaya Jombor, gaya Wedi, gaya Pedan, dan gaya Kuwasa. Selain gaya-gaya tersebut, masyarakat pedalangan Kabupaten Klaten juga mengenal gaya Ngawangga, gaya Soran, gaya Somokaton, gaya Prambanan, gaya Demangan, gaya Manjung, gaya Pedan, dan lain-lain (Putra, 2021).

Meskipun struktur lakon yang diikuti secara ketat tetap pembagian lakon menjadi tiga pathet, (nem, sanga, menyura), Keragaman gaya sanggit dalang dalang Klaten ini justru menampakan kekayaan gaya (cak) atau ciri Klatenan yang disajikan dalam wayangan selasa kliwon menjad istimewa. dan RSPD Klaten tetap menjaga hal tersebut sampai saat ini.

Menjaga Budaya

Hingga memasuki era tahun 2000an meskipun pada kenyataanya pertunjukan wayang gaya Klaten berkembang pesat sesuai kreativitas dan tuntutan zaman terutama di era hiburan yang jika jujur diakui telah nampak bergeser trend budayanya yang dimulai dari era ritual, era tuntunan, era tatanan dan sekarang masuk era tontonan, Panita Selasa Kliwon tetap berpegang pada pakem Tadisi yang sampai saat in masih di uri uri, dilestarikan. maka tidaklah heran dan sudah sepatutnya wayangan selasa kliwon RSPD beraliran klasik tradisi, tidak banyak improvisasi terutama pada sajian hiburannya.

Pada tahun 2012, penulis masih ingat dan turut serta pada saat Pepadi Klaten yang diketuai Ki. Nuryanto Putra M.Hum, bersama sama dengan Ki Suwito Radyo dari Dewan kesenian beserta dalang sepuh seperti Ki Giyono Jlopo, Ki Sayoko Gondosaputra, Ki Gaib, Ki. Tomo Pandoyo, Ki. Gandung Sunarno dan beberapa dalang lainya dihadiri juga oleh pejabat dari Dinas Kebudayaan dan bagian humas penyiaran, telah merumuskan maklumat bersama yang mengatur tentang beberapa hal teknis.

Antara lain untuk menjaga kelestarian pakem cak klatenan maka dalang Penyaji diutamakan adalah trah dalang Klaten dan diperbolehkan jika ada Dalang tamu dari lain daerah yang ingin ngalap berkah selain sebagai ajang apresiasi dan silaturahmi tetapi dibatasi hanya sekali dalam setahun.

Kemudian diharapkan menggunakan lakon yang merupakan lakon dari tradisi leluhurnya bersumber dari dari epos baku Ramayana dan Mahabarata, bukan lakon carangan /karangan dalang yang belum lazim dipentaskan. Dan dilarang menggunakan musik modern dalam iringanya (Campursari/musik Dangdut). Dalam rangka berkontribusi menjadi media publikasi maka dalam adegan limbukan atau gara gara wajib menyampaikan pesan pesan program pembangunan Kabupaten Klaten, diperbolehkan menyampaikan saran kritik yang membangun dan yang mencerahkan masyarakat.

Serta dalam rangka menghindari degradasi makna seni tradisi jawa diusahakan ada bentuk sesajen dalam wayangan minimal berupa ; kembang setaman wajib melathi lan kanthil, sego golong lawuh gereh, dele ireng, lan jajan pasar, omben degan ijo yang disajikan dan diwerdeke/diudarke maknanya oleh dalang dalam pakeliran sebagai lambang tuntunan kebaikan hidup yang disajikan untuk menghindari salah tafsir kedalam mistis dan karena adanya beberapa permintaan masyarakat, diharapkan Dalang bersedia melayani masyarakat umum yang mempunyai keinginan meminta srana pandonga pamuji syukur atau luwar ujar dengan menyampaikanya langsung pada Ki Dalang.

Dan untuk mengatur lebih lanjut maka RSPD membentuk tim khusus Penjadwalan dan pelaksana terdiri dari unsur Pemerintah dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Humas Setda, Dewan Kesenian, Pepadi, dan tokoh Dalang. Dalam Hal ada pergantian Dalang secara mendadak maka dapat digantikan oleh dalang yang akan tampil sepasar berikutnya dan jika tidak bisa maka Tim berwenang mencari penggantinya

Dalam perjalanannya nyata kiprah RSPD berusaha keras agar acara pagelaran tersebut tetap bertahan dikemas berdasarkan apa yang menjadi tradisi khas Wayang Kulit di Klaten hingga saat ini. Dukungan banyak pihak merupakan kunci dari bertahanya kegiatan ini, seperti dikutip dari skripsi Fahmi Husaini Sanum dalam Studi Deskriptif Terhadap Program “Ketoprak dan Wayang Kulit” RSPD Klaten, Universitas Indonesia, 2018, menuliskan ada dalang yang mengatakan bahwa karena berkesempatan mayang di selasa kliwon ia mendapatkan rezeky terus.

Karena semula belum kondang setelah satu kali pentas di RSPD setelah itu job itu berdatangan sementara dari masyarakat pedagang kaki lima mengatakan ketika proses pagelaran itu berlangsung, banyak masyarakat dari berbagai usia untuk menikmati acara tersebut sehingga dagangan para pedagang kaki lima pun turut laris dan memperoleh rezeki tidak hanya dari Klaten tetapi dari luar Klaten juga banyak yang turut memanfaatkan program ini.

Selain menjaga tradisi Selasa Kliwonan harus juga bisa meregenerasi, maka pada tahun 2016 RSPD bekerjasama dengan sanggar omah wayang Klaten bersama menyepakati ada pertunjukan wayang kulit dalang dan pengrawit anak. Hal ini tentu sebagai bentuk regenerasi para seniman seniman tradisional itu sendiri agar kesenian tradisional tidak punah. ” (wawancara dengan Sukadi, tanggal 20 November 2017) pada masa Pandemi Covid 19.

Kegiatan wayangan selasa kliwonan sempat terhenti, akan tetapi dengan semangat greget gumregahnya para dalang Klaten, bersama sama dengan pemerintah maka wayangan Selasa Kliwonan dapat dilaksanakan kembali sampai saat ini bisa tetap dinikmati. Saat ini program inilah disiarkan secara live performance. Artinya, kedua program ini tidak hanya dapat didengar saja melainkan juga dapat dinikmati oleh indra penglihatan juga.

Kedua program ini disiarkan langsung di halaman kantor RSPD Klaten dan melalui berbagai chanel youtube baik milik RSPD sendiri maupun pihak lain, seperti Haji Sun, Pendopo Klaten, sanggar Cemara yang juga berkontribusi bagi pelestarian seni tradisi dengan target pendengar ataupun penonton pada program siaran langsung Wayang Kulit ini semua kalangan masyarakat wayang Kulit memiliki filosofi tersendiri bagi mereka baik sebagai tuntunan tatanan maupun tontonan.

Keberhasilan program siaran langsung Wayang Kulit yang di selenggarakan RSPD
Klaten dalam konteks indikasi menjaga Budaya memang cukup bisa dikatakan berhasil. Semoga momentum ini juga mendorong kita semua warga masyarakat Klaten untuk bersama sama menguatkan dengan aktif memberikan sumbangsihnya dan semoga kado niat baik kita semua untuk mencatatakan wayangan selasa kliwonan sebagai warisan budaya tak benda Klaten dapat terealisasi sehingga menjadi saksi bagi lestarinya seni tradisi.

Selamat Ulang tahun RSPD, teruslah berkarya menjaga budaya

*) Penulis adalah masyarakat biasa pelaku pendidikan dan kebudayaan, Guru SDN 3 Glodogan, Klaten Selatan, Sanggar Omah Wayang Klaten, PKBM Dewi Fortuna Klaten, Sekretaris Dewan Kesenian Klaten, Sekretaris Komite Ekonomi Kreatif Klaten, Tim Pengembangan Kabupaten Layak Anak Klaten.