Nasional

Satu Tahun Luthfi-Yasin: Menanam Investasi, Menuai Angka 5,37 Persen

SOLO, POSKITA.co – Di sebuah ruang diskusi di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Selasa (3/3), deretan angka statistik tidak lagi sekadar menjadi barisan digit yang kaku. Di sana, angka-angka itu berbicara tentang perjalanan satu tahun Jawa Tengah di bawah komando Ahmad Luthfi dan Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin).

Pertemuan bertajuk Focus Group Discussion (FGD) tersebut menjadi panggung evaluasi. Sebuah potret satu tahun kepemimpinan yang mencoba menjawab satu pertanyaan besar: Ke mana arah kesejahteraan warga Jawa Tengah?

Statistisi Ahli Madya BPS, Didik Nursetyohadi, membuka tabir data dengan angka yang cukup impresif. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tahun 2025 tercatat bertengger di level 5,37 persen.

Menariknya, angka ini diraih di tengah dinamika konsumsi rumah tangga yang mulai melambat sejak akhir 2023. Namun, Jawa Tengah tampaknya punya “otot” baru. Ekonomi tak lagi hanya bersandar pada daya beli pasar, melainkan pada fondasi investasi yang kian kokoh.

“Struktur ekonomi kita semakin kuat. Investasi dan sektor industri kini jadi penopang utama,” ujar Didik. Kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal disebut-sebut sebagai lokomotif yang menarik gerbong aktivitas industri skala besar ke jantung Jawa Tengah.

Bukan Sekadar Populer

Bagi Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jateng, Zulkifli Gayo, kepemimpinan Ahmad Luthfi dan Gus Yasin tidak bisa diukur hanya dari riuh rendah popularitas. Ia menegaskan bahwa esensi kepemimpinan adalah tentang dampak nyata.

“Pimpinan jangan diukur dari populisnya saja, tapi dari capaian nyata,” tegas Zulkifli.

Zulkifli menyoroti gaya collaborative government yang diusung sang Gubernur. Luthfi dipandang bukan sebagai eksekutor teknis yang bekerja sendirian, melainkan dirigen yang mampu mengharmonisasikan 111 perguruan tinggi untuk riset kebijakan, serta menjalin sinergi lintas provinsi mulai dari Jawa Timur hingga Lampung.

Salah satu bukti “tangan dingin” kolaborasi ini adalah urusan papan. Di tengah keterbatasan kuota pusat yang hanya mengover 17.000 unit rumah tidak layak huni (RTLH), Pemprov Jateng di bawah Luthfi-Yasin mampu melesat membangun sekitar 200.000 unit rumah. Sebuah lompatan kuantitas yang sulit dibantah.

Menjaga Napas Keberlanjutan

Namun, keberhasilan bukan berarti tanpa catatan. Dari delapan indikator kepemimpinan yang dipasang dalam RPJMD, tujuh memang sudah di tangan. Satu yang masih menjadi “pekerjaan rumah” besar adalah Indeks Integritas Nasional yang masih terus berproses.

Pihak akademisi pun mengingatkan agar pencapaian ini tidak menjadi sekadar snapshot atau potret sesaat. Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama UNS, Irwan Tri Nugroho, menekankan pentingnya menjaga ritme.

“Jangan sampai kerja sama ini hanya hangat di awal. Harus berkelanjutan dan benar-benar dioptimalkan,” tandas Irwan.

Kini, dengan UMP yang telah menyentuh angka Rp 3,2 juta, Jawa Tengah sedang bersiap melangkah ke tahun kedua. Tantangannya jelas: memastikan angka 5,37 persen itu bukan sekadar data di atas kertas, tapi benar-benar terasa di kantong dan dapur rakyat. Tanto/*