Kepala Sekolah Harus Kreatif dan Inovatif di Masa Pandemi

Spread the love

Oleh : Sri Lestari, SPd. AUD

Kepala TK Pertiwi 04 Jaten, Kabupaten Karanganyar

 

 

Sekarang ini pandemi Virus Corona COVID-19 masih melanda Indonesia dan sebagaian besar negara-negara di dunia.

Di Indonesia berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menekan penyebaran virus Corona COVID-19 ini. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) merupakan salah satu kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah.

Presiden Joko Widodo menghimbau untuk bekerja dari rumah, belajar di rumah, hingga beribadah juga di rumah pada masa pandemi virus Corona ini.

Akibatnya semua aktivitas di luar rumah menjadi terganggu dan dibatasi dengan virus ini. Sekolah-sekolah pun meliburkan siswanya dan menghimbau agar belajar dari rumah, mulai dari TK SD SMP SMA bahkan di jenjang universitas pun belajar di rumah.

Dari kalangan usaha banyak perusahaan yang menghentikan kegiatan produksi bahkan ada perusahaan yang memberhentikan karyawannya.

Dan dampak Virus Corona (COVID-19) di dunia pendidikan sangatlah besar dirasakan oleh siswa, orangtua, guru dan juga  kepala sekolah.

Sekolah tidak lagi mengadakan kegiatan pembelajaran tatap muka, ditiadakannya UNBK dalam semua jenjang pendidikan, penundaan proses bimbingan skripsi, serta proses perkuliahan diberhentikan.

Dalam aspek kebijakan pendidikan, semua institusi pendidikan diminta untuk menghentikan proses belajar mengajar di tempat atau tatap muka di sekolah menjadi bentuk belajar di rumah. Kebijakan itu dimulai terhitung tanggal 16 Maret 2020 hingga sekarang. Itu berarti membuat kegiatan pembelajaran di sekolah maupun kampus yang biasanya dilakukan secara konvensional, kini semuanya harus dialihkan menjadi model pembelajaran berbasis daring. Semua itu dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran dari Virus Corona.

Dalam situasi sekarang ini, teknologi daring ini sangat membantu kita untuk bekerja dan belajar tanpa harus keluar rumah, kegiatan belajar mengajar (KBM) terkesan lebih seru dan santai karena bias dilaksanakan di dalam rumah dan di manapun kita berada.

Namun seperti yang kita ketahui proses pembelajaran daring yang dilaksanakan masih kurang maksimal, ada hal yang perlu di perhatikan diantaranya ialah adanya gangguan jaringan, minimnya paket data yang dimiliki, keterbatasan keuangan untuk membeli gadget atau HP, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, sangat dibutuhkan peran orang tua dalam mengontrol waktu belajar anak-anak dirumah. Dalam kondisi seperti ini membuat minat belajar anak menjadi berkurang disebabkan karena anak lebih senang untuk bermain dibandingkan untuk belajar.

Peran serta kepala sekolah dalam pembelajaran daring atau jarak jauh sangat penting sekali. Agar guru dan orang tua tidak mengalami kesulitan dalam Pembelajaran Daring. Karena tidak semua orang tua mempunyai dan menguasai peralatan IT.

Tentunya selain guru dan orang tua, kepala sekolah juga adalah factor kunci efektivitas PJJ. Pasalnya desain pembelajaran dan kinerja guru dipengaruhi oleh kepemimpinan dan kinerja kepala sekolah.

Semakin kompeten dan kreatif kepala sekolah maka akan semakin efektif PJJ di era pandemi ini. Sebaliknya kegagalan PJJ di sekolah tertentu merupakan cermin kelemahan kapasitas dan kepemimpinan kepala sekolah.

Sesuai Permen Dikbud nomor 6 tahun 2018 tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah, pasal 15 yang menyebutkan, beban kerja kepala sekolah sepenuhnya untuk melaksanakan tugas pokok manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan. Kepala sekolah tidak lagi wajib mengajar di kelas tetapi focus pada manajerial dansupervisi guru.

Tugas manajerial kepala sekolah sendiri mencakup desain intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Dalam masa pandemi kuat dorongan agar pemerintah membuat pedoman standar pembelajaran masa pandemi. Dalam surat keputusan bersama 4 menteri tahun 2020 tentang panduan pembelajaran di masapandemi, secara tersirat disebutkan prinsip SPMP yakni, sesuai dengan kondisi siswa, guru tidak focus pada ketuntasan kompetensi dasar dan memprioritaskan kualitatif atau proses.

Sesungguhnya ketiga prinsip ini cukup menjadi bekal guru untuk mendesain PJJ yang efektif dan menyenangkan. Pada masa pandemi, kepala sekolahdan guru merumuskan ulang metode, media dan penilaian yang akan diterapkan.

Beberapa sekolah menggunakan aplikasi dan media social seperti zoom, email, google, classroom, google meet, google form, whatsapp, youtube dan media lainnya.

Beragam pilihan aplikasi ini disesuaikan dengan kondisi siswa dan guru. Guru harus kreatif dalam memilih metode dan media.  Seperti pesan Booker T. Washington, salah satu penulis dan penasehat presiden Amerika yakni “Keunggulan adalah melakukan hal yang umum dengancara yang tidak biasa’.

Kepala sekolah juga harus memetakan kebutuhan kuota internet guru dan siswa. Selain BOP, kepala sekolah memikirkan sumber lain untuk pemenuhan kuota ini. Misalnya melakukan kerjasama dengan provider internet di wilayahnya  masing-masing.

Kepala sekolah aktif mencari informasi kuota gratis atau kuota diskon bagi pendidikan.

Di era pandemi saat ini dibutuhkan banyak inovasi kepala sekolah dalam pembelajaran jarak jauh. Kelimpahan fasilitas belajar tidak akan berguna tanpa kreativitas kepala sekolah dan guru. Seperti pesan Steve Jobs, pendiri Apple yang menuliskan  “Yang membedakan seorang pemimpin dan pengikut adalah inovasi.”

Kemudian tugas kepala sekolah adalah menyusun form pelaporan PJJ guru yang berisi tanggal, materi, metode, media, penilaian, jumlah siswa dan kendala. PJJ dikumpulkan seminggu sekali sebagai bahan evaluiasi kinerja guru.

Kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bisa membaca dan menganalisa laporan PJJ selama satu bulan. Hasilnya didiskusikan dengan para guru untuk menemukan solusi-solusi masalah dan kelemahan PJJ. Maka, diharapkan PJJ bulan berikutnya lebih baik daripada PJJ bulansebelumnya.

Selain itu kepala sekolah bias melakukan pelatihan digital literasi atau metode dan media PJJ karena sebagian guru belum terbiasa dengan PJJ. Kegiatan ini bias dilakukan secara virtual atau tatap muka di hari  sabtu sehingga tidak mengganggu aktivitas pembelajaran. Tentunya bagi guru teladan, ia akan mencari dan belajar sendiri hal-hal terkait PJJ yang efektif melalui bacaan dan video di internet.

Kepala sekolah harus meminta guru menjalin komunikasi dengan orang tua murid. Karena tanpa keterlibatan orang tua PJJ atau belajar jarak jauh dari rumah tidak akan efektif karena tidak semua siswa memiliki motivasi belajar  yang kuat, tetapi sedang dan lemah.

Bagi siswa yang kuat dan kooperatif, orang tua tidak perlu keras mengingatkannya. Akan tetapi siswa yang lemah motivasi belajarnya, dibutuhkan keterlibatan dan kepedulian orang tua. Meskipun disadari, orang tua juga harus bekerja di satu sisi, dan harus mendampingi anak belajar di sisi yang lain.

Memang harus diakui bahwa mengajar di era pandemi lebih berat dari pada di masa normal. Tak hanya bagi guru saja, tapi bagi orang tua. Mayoritas PJJ belum optimal, itu sebabnya dibutuhkan kepala sekolah yang mampu menjalankan perannya di atas dengan baik dan komitmen yang tinggi. Kunci keberhasilan PJJ sendiri terletak pada perencanaan pembelajaran yang  baik dan matang.

Dan pendidikan sangatlah bagi perkembangan hidup manusia dan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik lagi. Sehingga pembelajaran dalam pendidikan harus dibenahi, pembelajaran yang merupakan perpaduan aktivitas belajar dan mengajar memiliki tujuan yang baik, yakni mengubah perilaku seseorang ke arah yang lebih baik guna untuk masa depan yang sukses.

Dalam suatu pembelajaran di sekolah tidak terlepas dari permasalah yang dapat mengganggu proses terjadinya belajar mengajar, tetapi permasalahan tersebut bisa diatasi apabila semua pihak dapat bersatu untuk mengatasinya.

Berikut ini beberapa saran penulis untuk arah perkembangan pendidikan di masa pandemi diantaranya yaitu menjaga kesehatan di lingkungan sekolah dan menjalin kerjasama orang tua, kepala sekolah dan guru harus terjaga dengan baik.

Menyatukan faktor-faktor yang  terlibat dalam proses pembelajaran agar berkesinambungan.

Mari kita bersatu membenahi sarana dan prasarana dalam proses pembelajaran yang belum sesuai atau yang tidak sesuai dengan proses pembelajaran di sekolah.

Mari kita bersama-sama berdoa dan mematuhi kebijakan dan arahan pemerintah agar tetap di rumah, menjaga jarak dengan orang lain, dan senantiasa mematuhi protokol kesehatan guna untuk mencegah penularan virus Corona (COVID-19) ini. ***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *