Asep Yudha: Penting! Pelestarian Naskah Kuno

Spread the love

Solo, Poskita.co – Dosen peminatan Filologi Melayu Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) memaparkan pentingnya pelestarian dan pemanfaatan naskah kuno. Hal ini dipaparkan oleh Asep Yudha Wirajaya, M.A. dalam acara Bincang Sastra yang diselenggarakan oleh Alumni Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Sastra (Tesa) FIB UNS pada Minggu (28/3/2021).

Ia menjelaskan bahwa saat ini masih banyak pihak di Indonesia yang memandang sebelah mata mengenai keberadaan naskah atau manuskrip kuno. Padahal, banyak pengetahuan, wawasan, dan informasi yang terkandung dalam naskah-naskah kuno tersebut.

“Oleh karena itu, tidak heran jika kebijakan yang dibuat oleh pemerintah belum memihak keberadaan serta penyelamatan naskah-naskah kuno. Terlebih, saat ini gerakan pasar gelap naskah kuno juga cukup marak dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Mereka menjualnya ke kolektor asing atau negara lain sehingga saat ini banyak naskah kuno yang beralih kepemilikan,” jelasnya.

Meskipun sudah ada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang menegaskan bahwa naskah kuno merupakan salah satu benda cagar budaya yang dilarang diperjual-belikan. Namun, fakta di lapangan tidak menampik bahwa keberadaan para tengkulak atau pengepul naskah begitu aktif bergerilya untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah.

“Betapa tidak menggiurkan, nilai sebuah naskah bisa mencapai angka tiga hingga lima juta asalkan kondisinya masih baik,” terangnya.

Dosen filologi yang sudah lama berkecimpung dalam dunia pernaskahan ini juga menyayangkan tindakan-tindakan tersebut. Padahal, banyak nilai-nilai kearifan lokal luar biasa yang terkandung di dalam naskah tersebut. Nilai-nilai tersebut dapat digunakan sebagai sumber inspirasi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa yang tengah kita hadapi hari ini, hari esok, dan yang akan datang. Misalnya saja, dapat digunakan sebagai bahan kajian bidang obat-obatan tradisional, kecantikan, kebencanaan, teknik bangunan dan arsitektur, ketahanan pangan, perikanan, seni pertunjukan, dan banyak bidang lainnya.

“Hal itu akan menjadi sebuah harapan indah yang sulit untuk dapat terwujud bila pemerintah kurang peduli. Selain itu juga dunia pendidikan hanya berfokus pada output mahasiswa setelah lulus (nanti bekerja di mana?). Generasi muda juga kurang tertarik mempelajari khazanah intelektual nenek moyang dan adanya misspersepsi tentang keberadaan naskah yang dianggap sebagai komoditi yang bisa diuangkan atau naskah dianggap sebagai benda pusaka. Inilah yang menjadi PR besar bagi bangsa ini,” jelasnya kembali.

Asep memberi contoh pemanfaatan naskah kuno yang sangat spektakuler di dunia khususnya dunia pertunjukan.

“Dalam bidang seni pertunjukan, naskah kuno bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi dalam menghasilkan karya-karya baru yang spektakuler. Hal ini seperti I La Galigo yang berangkat dari naskah kuno abad 13–14 Masehi di daerah Bugis–Makasar. Kini, ia tampil sebagai karya pementasan teater yang memukau dunia yang dipentaskan lebih dari 12 kota dan 9 negara. Bahkan, kini I La Galigo telah ditetapkan United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Memory of The World (MoW) yang jauh melebihi Ramayana, Mahabarata, dan Homerus,” paparnya.

Selain I La Galigo, Asep memberi contoh naskah Serat Pustaka Raja Purwa Karya R. Ng. Ronggowarsito yang ditransformasikan menjadi pertunjukan wayang kulit, wayang orang, sendratari, drama atau teater, dan film.

“Naskah Kalatidha juga diubah menjadi sendratari dan film dokumentar Kalabendhu. Artinya, keberadaan naskah-naskah kuno tersebut benar-benar dapat diberdayagunakan sebagai sumber inspirasi dan bahan penciptaan bagi seni pertunjukan yang tiada habisnya. Semuanya itu tinggal menunggu kemauan dan keseriusan dari kita semua,” tutupnya dikutip dari humas UNS.

Cosmas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *