Natal di Gereja St A Purbayan, Kebhinekaan sebagai Anugerah

Spread the love

SOLO, POSKITA.co – Hidup di zaman millenial, zaman now harus tanggap dan peka terhadap perkembangan zaman.  Walau berbeda suku dan agama, harus tetap kerjasama.

Semua petugas Natal menggunakan pakaian adat nusantara. Hal ini memberikan penekanan tentang arti penting dari keberagaman, kebhinekaan, tanpa memandang perbedaan suku dan agama. Semuanya dalam kebersamaan dan kerjasama.

Rm Stefanus Bagus AR SJ

“Kalau kita lihat dresscode among tamu, panitia memakai pakaian adat. Pakaian adat sebagai lambang merajut kebersamaan dan cinta kasih dalam kebhinekaan. Kebhinekaan kita sadari sebagai anugerah Tuhan untuk mempersatukan. Meski beda suku tetap kerjasama,” demikian pesan Natal Rm Stefanus Bagus Aris Rudiyanto SJ, saat misa malam Natal 2018 di Gereja St Antonius Purbayan.

Rm Bagus memberikan ilustrasi cerita. Ada dua anjing, saling bertolak belakang (ungkur-ungkuran). Anjing itu ditali di lehernya dan di depannya ada makanan, talinya pendek. Kalau mereka mau makan sendiri-sendiri tentu saling tarik menarik. Dan tidak sampai ke tempat makanan itu. Dua anjing itu saling ngotot, tapi juga tidak bisa makan.

“Anjing itu pusing pala barbie, piye carane bisa makan. Akhirnya mereka berdua menemukan solusinya, yaitu makan bersama secara bergantian tempat. Yang pertama, makan di tempat anjing pertama, kemudian makan di anjing kedua. Tidak ada yang tarik menarik, yang ada tentu wareg.  Ilustrasi ini menggambarkan  pentingnya kerjasama, melepas ego, mengalah tentu hal ini sangat berguna dalam pekerjaan, pernikahan dan persahabatan,” ujar Rm Bagus.

Dikatakan lebih lanjut, dalam hidup bermasyarakat, umat diajak untuk refleksi diri. Apakah kita selama ini keluargaku sungguh toleran dengan tetangga sekitar? Atau jangan-jangan, hidup kita yang terlalu ekslusif, kurang berani membaur? DI zaman modern sering terjadi fenomena antagonis zaman sekarang.

“Di satu sisi orang traveling kemana-mana, tetapi tidak kenal tetangga sendiri.  Di satu sisi orang pakai jam tangan mahal tetapi tidak tepat waktu (jam karet). Di satu sisi minuman itu bervariasi (ada ciu, oplosan) tetapi air bersih semakin berkurang. Di satu sisi banyak teman di dunia maya tetapi tidak punya sahabat sejati. Di satu sisi kualitas ilmu makin tinggi tetapi kualitas emosi makin rendah,” ucapnya.

Di sinilah yang menjadi tantangan kita, panggilan untuk hidup rukun, guyub, inklusif, dengan cara berani untuk membaur, menyempatkan waktu kerja bhakti di kampung, hadir dalam peringatan kemerdekaan, menjadi pengurus RT/RW, berpendapat dalam rembug warga dan lainnya. Itulah panggilan kita sebagai umat beriman di lingkungan-lingkungan. Ini adalah ajakan bagi kita untuk wani nggetih, militan, menjadi umat yang CTM (cerdas, tangguh, misioner).

“Natal bukan sekadar dress code, asesoris, jabatan atau kesalehan, kesucian, tetapi Natal artinya Allah mencintai kita, Allah sungguh penuh belas kasih.  Natal menggerakkan kita lebih dalam mencintai orang-orang dengan menciptakan suasana rukun damai tenteram,” ucap Rm Bagus.

Rm Bagus pun berbagi cerita tentang kisah nenek yang buta dan kakek yang hanya bisa jalan dengan cara ngesot.

“Suatu kali, saya berkunjung di sebuah keluarga. Rumahnya dekat dengan sungai. Tepat bulan Desember, air sungai itu meluap karena hujan deras. Di rumah itu hanya tinggal kakek dan nenek, nenek mengalami sakit buta, sementara kakek jalannya ngesot. Kunjungan kami pada waktu itu untuk berbagi berkat. Ketika kami sampai di tempat itu, kami ketuk pintu dan dibukakan oleh kakek yang jalan dengan cara ngesot. Kakek itu  kemudian memperlihatkan kepada kami, sampai ketinggian berapa air sungai itu kalau sedang meluap.  Kasihan melihat kakek ngesot, karena tidak sabar, saya gendong kakek itu masuk rumah yang sederhana sekali itu, terus kami ngobrol. Anaknya pulang kalau lebaran saja. Setelah ngobrol, kami memberikan sesuatu kepada kakek itu sebagai ungkapan syukur. Ketika mau pulang, kakek itu sambil ngesot melihat terus dengan tatapan yang dalam. Dalam kerapuhannya dia bisa menatap penuh kasih,” ujar Rm Bagus.

Sebelum misa Natal dimulai, Koor Anak Purbayan (KAP) mempersembahkan lagu-lagu bertema Natal, dengan pelatih Putu Indrati,  menyambut umat yang berdatangan masuk gereja. Lagu yang dibawakan di antaranya Bolehkah Yesus, Kling Denting Kling, Somewhere in My Memory, Warm and Fuzy, hingga A Million Dreams. (Cosmas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *