Pemkab Klaten Gerakan Go To School Atasi Sampah dan Buat Sumur Resapan

Spread the love

KLATEN (Poskita) – Disarankan untuk para kontraktor perumahan dalam pembuatan master plan atau perencanaan pembangunan perumahan, benar-benar mempersiapkan titik-titik hijau resapan air.

Demikian dijelaskan Bambang Subiyantara, Kepala Bidang Dampak Pengendalian Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Klaten kepada wartawan di gedung Wanita Klaten, Kamis siang, 14 September 2017.

Para kontraktor juga wajib membuat rumah terbuka hijau (RTH) agar ketersediaan air bisa diserap lewat RTH ini. Seperti dengan membuat biopori, sumur resapan, pengelolaan limbah komunal yang baik dan lainnya.

“Kita juga dalam beberapa pekan terakhir melakukan gerakan pembuatan biopori bekerjasama dengan Kodim 0723/Klaten, seperti di Taman Gergunung dan Taman Lampion Bareng Lor. Selain itu, Pemkab Klaten melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Klaten menggiatkan program go to school dengan pembuatan biopori di lingkungan sekolah,” jelas Bambang.

Program go to school ini dengan pembuatan biopori ini bekerjasama dengan Forum Komunitas Hijau di Kabupaten Klaten. Langkah ini diharapkan bisa membangun kesadaranan masyarakat sejak dini dengan mengajak siswa atau pelajar langsung eksesn atau praktek membuat biopori.

Setidaknya ada 10 sekolah yang ada di dalam kota Klaten yang telah diajak praktek memasang resapan air dengan biopori, yaitu di SMPN 1 Klaten, SMAN 1 Klaten, SMKN 4 Klaten, dan sekolah lainnya. Pelajar dilatih dan diberikan pembelajaran membuat resapan air.

Maraknya perumahan dan jalan kampung yang dicor semen, jelas membuat air hujan sulit masuk meresap ke dalam tanah. Maka, harap Bambang, membangun kesadaran masyarakat untuk turut andil dalam menjaga kelestarian air, baik tingkat volume, kualitas dan kuantitas, tetap dijaga dengan pembuatan sumur resapan dan RTLH.

“Ingat, dari sekarang sumur resapan harus dipikrikan, ipal komunal jangan disepelekan, dan sampah harus bisa dikelola dengan baik. Sampah sampai sekarang juga jadi masalah. Tanpa peran serta masyarakat, sampah bisa menjadi bencana, maka harus bisa diolah dengan baik,” jelasnya. (aha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *