Retorika, Seni Bertutur dalam Masyarakat

Spread the love

oleh: Kenfitria DW

Prodi Pendidikan Bahasa Jawa FKIP UNS

 

Bagi masyarakat Jawa tentunya sudah tidak asing dengan istilah pambiwara, pranatacara, atau MC. Kegiatan tersebut membutuhkan kemampuan retorika yang baik. Retorik adalah seni dalam menggunakan bahasa agar pembicaraan yang dilakukan dapat berjalan dengan efektif dan menarik. Keahlian dalam berbicara selain memudahkan individu dalam berkomunikasi dalam masyarakat juga memiliki nilai ekonomi yang tidak dapat diabaikan.

Penggunaan bahasa yang baik dan menarik dapat dimanfaatkan sebagai modal dalam berpidato, memandu acara, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, banyak masyarakat yang kurang terampil dalam menggunakan bahasa sehingga tidak dapat memanfaatkannya secara maksimal. Perlu adanya beberapa pelatihan yang dilakukan untuk meningkatkan keterampilan berbicara masyarakat. Salah satu model yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara masyarakat adalah model expert practice.

 

Partisipasi Warga

“Kalau kami tidak diedukasi, tentu tidak akan tahu ternyata beberapa hal yang kami lakukan tersebut kurang tepat secara ilmiah,” katanya seusai mendapatkan pelatihan retorika yang baik dan benar dari Tim Pengabdian Pendidikan Bahasa Jawa FKIP UNS di Petoran, seperti dituturkan Ken Fitria DW kepada POSKITA.co(Senin, 10/12/18).

Wahjono mengungkapkan, bahwa selama menjalankan profesinya sebagai pambiwara tidak pernah sekalipun mendapatkan pendidikan formal atau bisa dikatakan belajar secara otodidak.

“Banyak diksi yang digunakan ternyata menyalahi aturan kebakuan berbahasa Jawa. Beberapa kata yang sering digunakan tersebut adalah sugeng enjang seharusnya sugeng enjing; para rawuh seharusnya para ingkang sami rawuh; li ring sambikala seharusnya nir ing sambikala; sepindhah seharusnya sepisan/kaping pisan; mriki seharusnya ngriki ‘di sini’ dan masih banyak lagi,” katanya.

Penyerahan kenang-kenangan           foto:IST

Kesalahan-kesalahan penggunaan diksi dalam beretorika tersebut disinyalir terjadi karena ketidaktahuan, diujarkan secara lisan akan memperbesar kemungkinan terjadinya kesalahan berbahasa, dan diperoleh secara turun temurun. Hal inilah yang menyebabkan kesalahan berbahasa terjadi di masyarakat. Tanpa adanya kroscek atau membaca referensi yang dapat dipertanggungjawabkan, masyarakat dengan mudahnya mempercayai diksi-diksi tersebut secara apa adanya.

 

 

Model Expert Practice untuk Meningkatkan Penguasaan Retorika pada Masyarakat

Expert Practice merupakan model pembelajaran dengan menghadirkan pakar dalam pelatihan. Melalui kegiatan pemodelan oleh pakar retorika, peserta lebih mudah memahami materi yang disampaikan. Kegiatan praktik yang dilakukan juga menunjang keberhasilan dari pelatihan retorika bahasa Jawa menggunakan model expert practice. Setelah pemaparan materi dan pemberian contoh dari pakar, para peserta diajak praktik membuat naskah pambiwara. Pemilihan kata dalam naskah pambiwara yang disampaikan harus memperhatikan nilai kesantunan. Seorang pambiwara dituntut mampu menggunakan bahasa yang halus dan indah, sehingga nyaman didengar dan mudah dimengerti. Kegiatan praktik yang dilakukan tidak hanya melakukan koreksi terhadap bahasa yang digunakan, namun juga gestur dari peserta pelatihan dalam menyampaikan ujarannya. Pada saat menjadi seorang pambiwara harus mengelola suwanten ‘suara’, patrap/solah bawa ‘perilaku’, pandeleng ‘penglihatan’, ageman ‘busana’, wasis basa lan sastra ‘menguasai bahasa dan sastra’, tanggap ing sasmita ‘peka terhadap situasi dan kondisi’. Keberhasilan seorang pambiwara tentu tidak hanya dilihat dari caranya menyampaikan ujaran, namun juga ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi keberhasilannya dalam membawakan acara. Kiat-kiat tersebut disampaikan oleh pakar retorika sebagai bekal peserta apabila kelak membawakan acara pada berbagai kesempatan.

“Banyak hal yang saya pelajari dari pelatihan ini. Setelah pelatihan ini, saya akan menerapkan teori-teori retorika yang sudah dipaparkan. Bahasa yang baik dan indah akan membuat nyaman pendengarnya. Selama ini saya menganggap semakin panjang tuturan, semakin berbelit-belit, maka semakin indah padahal justru akan membuat pendengar kebingungan menangkap maknanya,” tutur Wahjono.

EDITOR : COSMAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *