PendidikanSoloraya

Yudisium Promosi Doktor Teknik Sipil UNS: Hana Wardani Kembangkan Mortar Kapur Berserat Rami untuk Pemugaran Bangunan Heritage

SOLO, POSKITA.co — Sidang Terbuka Promosi Doktor menetapkan Dr. Hana Wardani Puruhita resmi meraih gelar Doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berfokus pada inovasi material konservasi cagar budaya, Kamis, 6 Agustus 2026, di Ruang Multi Media Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS).

Sidang dipimpin Prof. Dr. Ir. Eko Surojo, S.T., M.T., Sekretaris siding Prof. Ir. Yusep Muslih Purwono, S.T., M.T., Ph.D,IPu., Promotor Prof. Dr. Senot Sangadji, S.T., M.T., dan Co-Promotor 1 Dr. Endah Safitri, S.T., M.T.,

Dalam penelitian tersebut mengenalkan penggunaan mortar kapur berserat rami (boehmeria nivea) sebagai solusi ramah lingkungan dan kompatibel untuk pemugaran bangunan bersejarah (heritage).

​Dalam pemaparannya, Hana menjelaskan bahwa derpaduan mortar kapur, serat rami, dan anyaman rami menghasilkan material perbaikan yang lebih kompatibel dengan bata merah pada bangunan heritage/cagar budaya.

Dalam penelitiannya Hana berhasil mengembangkan material perbaikan berbasis kapur diperkuat serat alami rami untuk mendukung pemugaran bangunan heritage/cagar budaya.

Penelitian tersebut berjudul “Kompatibilitas antara Bata Merah dan Mortar Repair Berbahan Dasar Kapur dengan Material Perbaikan Bangunan Heritage”

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kerentanan bangunan heritage/cagar budaya terhadap kerusakan akibat pelapukan lingkungan dan proses penuaan material.

Bangunan cagar budaya tidak hanya memiliki nilai arsitektur, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, sosial, dan budaya yang perlu dipertahankan melalui metode pemugaran yang tepat.

Menurutnya, salah satu persoalan yang sering dijumpai dalam pemugaran adalah penggunaan material perbaikan yang tidak sesuai dengan karakteristik material asli bangunan.

Mortar berbasis semen modern, misalnya, pada kondisi tertentu memiliki kekuatan dan kekakuan yang lebih tinggi daripada bata merah serta mortar lama.

Perbedaan karakteristik tersebut berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian perilaku material, keretakan, pelepasan bidang sambungan, maupun kerusakan lanjutan pada material asli bangunan.

Mortar berbasis kapur dinilai memiliki karakteristik yang lebih mendekati material asli pada bangunan bersejarah. Namun, mortar kapur juga mempunyai keterbatasan berupa kekuatan mekanis yang relatif rendah serta kerentanan terhadap penyusutan, rangkak, dan keretakan.

“Oleh karena itu, penelitian ini mengembangkan mortar perbaikan berbasis kapur dengan penambahan serat alami rami atau Boehmeria nivea,” jelas Hana Wardani Puruhita, mahasiswa Program Doktor Ilmu Teknik Sipil UNS.

Penelitian dilaksanakan menggunakan metode eksperimental dengan mengevaluasi jenis bahan kapur dan variasi kadar serat rami.

Pengujian dilakukan terhadap kuat tekan, penyusutan, rangkak, stabilitas dimensional, serta kompatibilitas antara mortar perbaikan dan bata merah. Evaluasi juga dilakukan pada panel dinding yang mengombinasikan material heritage dengan material repair untuk mengidentifikasi perilaku pada bidang pertemuan kedua material.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kapur murni dalam bentuk padat memberikan kinerja yang lebih baik sebagai bahan pengikat mortar perbaikan.

Dalam pembuatan bata merah pengganti, tanah liat perlu melalui proses pemeraman sekurang-kurangnya enam bulan untuk mengurangi risiko penyusutan.

Dimensi bata merah repair juga harus disesuaikan dengan ukuran bata merah asli pada bangunan yang dipugar agar tidak menimbulkan ketidaksesuaian geometris pada pasangan dinding.

Penambahan serat rami sebesar 3 persen dengan panjang serat 1 cm menghasilkan keseimbangan paling optimal antara kinerja mekanis dan stabilitas dimensional mortar. Serat rami berperan membantu mengendalikan keretakan sekaligus meningkatkan integritas mortar tanpa menghilangkan karakter alami material berbasis kapur.

Pada aplikasi panel dinding, penelitian menemukan bahwa bidang pertemuan antara material lama dan material perbaikan menjadi bagian yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Penambahan anyaman rami selebar 5 cm pada bagian pertemuan antara material heritage dan material repair terbukti meningkatkan kontinuitas serta kompatibilitas bidang sambungan.

“Pemugaran bangunan cagar budaya tidak cukup hanya menggunakan material yang kuat. Material perbaikan harus memiliki kesesuaian sifat fisik, mekanis, dan dimensional dengan material asli agar tidak mempercepat kerusakan pada bagian bangunan yang dipertahankan,”ujar Hana.

Ia mengatakan, penelitian ini menempatkan kompatibilitas sebagai dasar utama dalam menentukan material dan metode perbaikan bangunan heritage.

Kesesuaian tersebut mencakup dimensi bata, karakter bahan pengikat, kekuatan mekanis, perubahan bentuk akibat penyusutan dan rangkak, serta perilaku sambungan antara material lama dan material baru.

Berdasarkan hasil penelitian, mortar kapur yang diperkuat serat rami 3 persen serta penggunaan anyaman rami pada bagian antarmuka antara material substrate dan repair berpotensi menjadi alternatif material perbaikan yang alami dan kompatibel.

Material tersebut dapat digunakan khususnya dalam pemugaran panel dinding bata merah pada bangunan cagar budaya.

Pemanfaatan serat rami juga memberikan nilai tambah karena menggunakan sumber daya alami dan dapat mengurangi ketergantungan terhadap material sintetis.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip konservasi bangunan bersejarah yang menekankan intervensi seminimal mungkin, kesesuaian material, keberlanjutan, serta perlindungan terhadap keaslian bangunan.

Temuan penelitian diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah, pengelola bangunan cagar budaya, konsultan perencana, kontraktor konservasi, akademisi, dan praktisi konstruksi dalam menentukan spesifikasi teknis material perbaikan. Hasil penelitian juga dapat dikembangkan menjadi pedoman teknis untuk pemilihan material dan pelaksanaan pemugaran bangunan heritage berbahan bata merah dan mortar kapur.

Penelitian ini memperkuat kontribusi Program Studi S3 Ilmu Teknik Sipil UNS dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi konstruksi yang tidak hanya berorientasi pada kekuatan struktur, tetapi juga memperhatikan kompatibilitas material serta pelestarian nilai sejarah dan budaya bangsa.

Temuan Utama Penelitian

1. Bata merah repair perlu dibuat dengan dimensi yang menyesuaikan bata merah asli pada bangunan yang akan dipugar.

2. Tanah liat untuk pembuatan bata merah repair perlu melalui proses pemeraman sekurangkurangnya enam bulan untuk mengurangi penyusutan.

3. Kapur murni dalam bentuk padat memberikan kinerja yang lebih baik sebagai bahan pengikat mortar perbaikan.

4. Serat rami dengan kadar 3% dan panjang 1 cm menghasilkan keseimbangan optimal antara kekuatan mekanis dan stabilitas dimensional.

5. Anyaman rami selebar 5 cm pada pertemuan material heritage dan material repair meningkatkan kontinuitas serta kompatibilitas sambungan.

6. Mortar kapur berserat rami berpotensi menjadi material perbaikan yang alami, kompatibel, dan berkelanjutan untuk pemugaran bangunan heritage/cagar budaya.

(Arya)