Nasional

Iran Mengonfirmasi Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei Akibat Serangan Udara

Foto: internet

TEHERAN, POSKITA.co  – Media pemerintah Iran (IRIB) secara resmi mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, telah “mencapai kesyahidan” pada Minggu pagi (1/3/2026).

Pengumuman ini menyusul serangan udara besar-besaran yang dilancarkan oleh gabungan militer Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Serangan yang dinamai Israel sebagai “Operation Genesis” (Operasi Bereshit) menyasar kompleks kediaman dan kantor Khamenei di Teheran. Sedikitnya tujuh rudal dilaporkan menghantam area tersebut.

Selain Khamenei (86 tahun), laporan menyebutkan sekitar 40 pejabat tinggi Iran lainnya tewas dalam rangkaian serangan yang menargetkan pusat komando dan infrastruktur militer.

Pemerintah Iran menetapkan 40 hari masa berkabung nasional. Televisi negara mulai menyiarkan lantunan Al-Qur’an dengan latar belakang bendera hitam.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Dubai, Doha, Bahrain, dan Kuwait, serta kota-kota di Israel.

Siapa yang Akan Memegang Kendali Iran?

Wafatnya Khamenei memicu krisis kepemimpinan terbesar sejak Revolusi 1979. Berdasarkan konstitusi, Majelis Ahli (Assembly of Experts) harus segera bersidang untuk memilih pengganti. Berikut analisis kandidat terkuat:

1. Mojtaba Khamenei (Putra Kedua Mendiang)

  • Kekuatan: Memiliki kontrol kuat atas jaringan intelijen dan kedekatan khusus dengan elit Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Banyak analis melihatnya sebagai “penerus takhta” yang telah dipersiapkan selama satu dekade terakhir.
  • Tantangan: Penunjukannya dapat memicu protes domestik karena dianggap mengkhianati prinsip Republik Islam yang anti-monarki/dinasti.

2. Alireza Arafi (Ulama Senior)

  • Kekuatan: Sebagai kepala seminari di Qom dan anggota Dewan Penjaga, Arafi adalah figur yang dihormati oleh faksi ulama konservatif. Ia dianggap sebagai pilihan “aman” jika Majelis Ahli ingin menghindari kontroversi dinasti Mojtaba.
  • Tantangan: Kurangnya basis dukungan militer langsung jika dibandingkan dengan faksi pro-IRGC.

3. Masoud Pezeshkian (Presiden Iran)

  • Kekuatan: Saat ini ia memimpin dewan transisi. Jika terjadi kebuntuan politik, ia bisa menjadi figur moderat yang didorong untuk menjaga stabilitas sementara.
  • Tantangan: Dianggap terlalu moderat oleh kelompok garis keras yang saat ini haus akan pembalasan dendam militer.

Red/berbagai sumber/*