Pendidikan

Meraih Cita Tanpa Cinta Orang Tua


Oleh: Dian Dwiyani Argha Dewi, S.Sn

SMPN 2 Jumapolo, Karanganyar

Impian tak selamanya harus diwujudkan karena motivasi dan dukungan dari orang tua ataupun dorongan dari orang-orang terdekat kita, namun impian itu dapat kita wujudkan karena keinginan dan keyakinan yang kuat akan bakat serta kelebihan yang diberikan Tuhan untuk kita. Hal inilah yang dialami oleh seorang anak yatim piatu yang kini sudah menjadi salah satu mahasiswa di perguruan tinggi seni negeri kota Surakarta, dia bernama Andi Saputro.
Andi Saputro merupakan salah satu sosok yang dapat dijadikan contoh oleh anak-anak di jaman milenial ini. Walaupun dia dari umur 6 tahun sudah menjadi yatim piatu, namun semangat perjuangannya untuk melanjutkan hidup melalui jiwa seninya patut kita acungi jempol. Jiwa seni itu dia sadari ketika duduk di kelas empat sekolah dasar, dimana pada saat itu dia diikutkan dalam berbagai lomba seni oleh guru ekstranya dan berhasil meraih juara walaupun baru di tingkat kecamatan saja.
Pengalaman itulah yang akhirnya menjadi alasan bahwa jiwa seni yang diberikan Tuhan kepadanya, adalah masa depannya. Keyakinan inilah yang akhirnya menjadi motivasi utama setelah dia lulus dari SD dan melanjutkan ke jenjang SMP, jiwa seni yang dimilikinya harus terus dikembangkan dan diolah dengan mengikuti ekstra seni walaupun selama tiga tahun hanya dia satu-satunya peserta laki-laki yang mengikuti kegiatan tersebut.
Berpijak dari optimisme dan ketekunan yang dimiliki oleh Andi Saputro dalam mengikuti kegiatan seni di SMP, saya selaku guru seninya sekaligus pembimbing ekstra seni di SMPN 2 Jumapolo merasa terpanggil untuk membantu anak tersebut mengembangkan bakatnya, apalagi pada jaman milenial seperti saat ini, sulit sekali mendapatkan siswa laki-laki yang benar-benar ingin mengembangkan bakatnya dalam berolah seni terutama seni tari, karena kebanyakan mereka beranggapan bahwa anak laki-laki yang hoby menari itu adalah banci. Anggapan tersebut juga diperkuat oleh beberapa guru agama yang kurang menyukai seni, dimana mereka menganggap bahwa seni dalam agama itu haram hukumnya. Selain itu, ada juga guru yang mendoktrin bahwa siswa yang mengikuti kegiatan seni menjadi bodoh dan mayoritas prestasinya menjadi turun.
Dari beberapa pernyataan tersebut, sebagai guru seni tari saya bertekad dalam hati bahwa anggapan itu tidak benar dan terus saya tanamkan kepada siswa yang mengikuti kegiatan ekstra seni untuk tidak melupakan pelajaran lain dan bisa membagi waktu dengan baik. Alhamdulillah usaha saya tidak sia-sia, dimana Andi Saputro yang menjadi satu-satunya anak laki-laki yang mengikuti ekstra tari di SMPN 2 Jumapolo nilainya tidak kalah dengan teman yang lain. Dia juga mempunyai rasa solidaritas tinggi kepada teman-temannya terutama kepada anak-anak putri yang membutuhkan bantuannya.
Kenyataan itulah yang juga mendorong saya untuk membantu Andi Saputro, supaya bisa terus mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan bakat seni sesuai dengan keinginannya melalui berbagai event-event yang diselenggarakan di tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten maupun Soloraya. Kegiatan tersebut antara lain lomba dalam class meeting, pentas seni dalam kegiatan pramuka, pergelaran seni malam tirakatan HUT RI ataupun HARDIKNAS, lomba PORSENI di kabupaten dan memeriahkan Hari Tari Dunia yang diselenggarakan oleh ISI Surakarta dalam setiap tahunnya.
Selain itu, Andi Saputro juga pernah saya ikutkan dalam kegiatan pembimbingan nyata salah satu mahasiswa di ISI Surakarta dalam bentuk pementasan tari sebagai bukti nilai mata kuliah kerja nyata, walaupun baru sebatas penari figuran. Namun, saat itu Andi Saputro sangat menikmatinya dan tidak pernah absen selama proses latihan walaupun harus dilakukan dari pagi sampai malam dan dalam waktu yang cukup lama.
Melihat semangat dan kerja keras yang sangat luar biasa dari Andi Saputro, saya jadi merasa terharu dan bertekad akan membantu dia untuk bisa sekolah di SMKI Negeri Surakarta yang sekarang bernama SMKN 8 Surakarta, dimana sekolah ini merupakan sekolah kejuruan setaraf dengan SMA namun khusus mewadahi siswa-siswa lulusan SMP yang berbakat di bidang seni agar bisa lebih nendalami bakatnya dalam berolah seni terutama seni karawitan, seni tari, dan seni pedhalangan.
Keinginan saya, akhirnya saya sampaikan kepada Andi Saputro saat akan menjelang pengumuman kelulusan kelas 9, dan dia merespon dengan bahagia apalagi saat itu saya berjanji akan membiayai sekolahnya jika nanti dia melanjutkan sekolah ke SMKI Surakarta. Namun niat baik dan keinginan tak selamanya sesuai harapan, rencana saya kandas di tengah jalan dan keinginan Andi untuk dapat sekolah seni tinggal harapan. Hal ini karena mendapat tentangan dari kakak kandung Andi yang mengeluhkan tentang biaya hidup di sana nanti. Selain itu, jarak sekolahnya sangat jauh dari tempat tinggal dan biaya transportasinya juga mahal, karena kebetulan saat itu kakaknya yang membiayai hidupnya harus merantau dan hanya bekerja sebagai tukang bakso keliling di kota Bandung.
Memahami dengan kondisi tersebut, Andi sempat berniat untuk berhenti sekolah dan akan bekerja membantu kakaknya yang berjualan bakso. Namun takdir berkata lain, di tengah situasi ini Allah mengirimkan rencana indah lewat bantuan dari saudara sepupunya yang kebetulan di hari terakhir pendaftaran SMA bertandang ke rumahnya, kemudian langsung menemani Andi untuk mendaftarkan sekolah di SMA, dan berhasil lolos lewat rangking nilai standart NEM.
Selama menjadi siswa di SMA, Andi mendapatkan beasiswa PIP yaitu bantuan dana sekolah bagi siswa yang kurang mampu. Kebetulan saat itu pemerintah juga menggratiskan biaya untuk anak yang bersekolah di SMA negeri. Kondisi ini dia manfaatkan dengan belajar lebih rajin agar bisa meneruskan kuliah di perguruan tinggi negeri namun juga tetap menyalurkan jiwa seninya dengan rajin mengikuti ekstra seni disekolahnya dan selalu berapresiasi seni ke ISI dan Mangkunegaran Surakarta.
Bakat seni yang dimiliki Andi Saputro ternyata diam-diam mendapat perhatian dari salah seorang guru SMAnya, dan beliau menyarankan agar setelah lulus dari SMA nanti Andi bisa kuliah di ISI Surakarta dan mengambil beasiswa Bidik Misi. Saran dari guru SMAnya itu, disambut dengan sangat riang gembira sebab dia sempat pesimis untuk bisa kuliah dikarenakan masalah biaya. Merasa mendapat peluang untuk bisa melanjutkan kuliah akhirnya kegiatan yang berkaitan dengan apresiasi dan berolah seni lebih dia tingkatkan lagi, walaupun harus meminjam motor saudaranya untuk bisa sampai lokasi karena jaraknya yang cukup jauh dari rumahnya.
Perjuangan yang diiringi doa dan ikhtiar dari seorang anak yatim piatu, akhirnya dikabulkan oleh Tuhan. Andi Saputro berhasil lolos ujian SBMPTN dan memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa Bidik Misi di ISI Surakarta. Selama kuliah dia kost di sekitar kampusnya dan untuk membiayai hidupnya dia mengajar ekstra di salah satu SD di Solo, menerima tawaran pentas tari, mengajar di sanggar Wirotomo Mojosongo, Solo, dan di sela kekosongan pembimbingan skripsi dia bekerja di Rumah Makan Ohlavita Solo mulai jam 16.00 sampai 23.000 dan digaji perminggu rata-rata hanya rp 250.000.
Berpijak dari kisah seorang Andi Saputro yang mampu menjalani hidupnya dengan penuh perjuangan, penulis berharap semoga artikel ini dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca, bahwa ternyata cita-cita yang kita impikan akan tetap bisa terwujud walaupun kedua orang tua kita telah tiada. **

Editor: Cosmas