Wujudkan Persatuan dan Kesatuan Lewat Tari Kolosal

Spread the love

SOLO, POSKITA.co – Komisi Karya Misioner (KKM)  menampilkan tari kolosal yang diikuti ratusan anak dari berbagai daerah Surakarta dan beragam Budaya Lintas Agama. Mulai dari Tari kolosal  “Tanah Kamardikan Kemangiran”, Tari Bertema Lingkungan Hidup, Fragment tari tentang “Manunggaling Tekad Angrebut Kamardikan,” Seni Hadrah, Barongsai, Tari Pendet, Wushu,  hingga Tari Sufi.

Beragam pentas budaya  tersebut merupakan perwujudan  tema Menanam Kerukunan Menuai Perdamaian di Tengah Krisis Lingkungan Hidup”  dalam  Pameran Kitab Suci dan Pentas  Budaya  Lintas Agama,  Minggu (6/10/2019), di Balai Kota Surakarta, seperti   pers release yang diterima Poskita.co Selasa (8/10/2019).

Menurut Ketua Komisi Karya Misioner  F. Angga Rustam Rinjaya, kegiatan ini digelar atas kerjasama Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK), Komisi Karya Misioner, dan Komisi Kitab Suci Kevikepan Surakarta.

Pentas  budaya lintas agama menampilkan dari berbagai agama di Indonesia dan pentas kolosal  tari anak dari Surakarta. Adapun jumlah anak per  rayon  di antaranya Rayon Kota 163 anak, rayon Timur Selatan 160 anak, dan rayon Klaten 100 anak.

Dikatakan Angga, terlibatnya anak dan remaja dalam Gelar Budaya merupakan bentuk aksi nyata gerak misioner sebagai agen kerukunan. Mereka diajarkan proses dalam berdinamika selama dua bulan  untuk berlatih bersama, bahkan menabung untuk membiayai diri mereka dalam pengadaan kostum.

Dijelaskan Angga, berbagai atraksi di antaranya Agama Islam menampilkan  hadrah  pimpinan Gus Yusuf Dwi Akhial, Gedangan, Madegondo, Grogol Sukoharjo. Majelis Konghuchu Indonesia membawakan  Barongsai Tripusaka,  Ketua JD Heru Subianto dan Pembina ES Adjie Chandra.

Pertunjukan  dari Rayon Kota Surakarta membawakan tari kolosal  persatuan dan  kesatuan berjudul “Tanah Kamardikan Kemangiran” hasil garapan  M Yulius Bagus Satrio.

Menurut Yulius, drama tari mengisahkan tentang Desa Kemangiran yang dipimpin pemuda tampan yang bijaksana, Raden Mangir. Desa Kemangiran adalah salah satu desa di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram.

Perkembangan desa Kemangiran yang pesat, membuat Panembahan Senapati gusar. Sehingga berupaya menyerang desa Kemangiran dengan adu senjata. Namun sayang, peperangan tersebut justru dimenangkan oleh Pasukan Kemangiran.

Dengan bantuan ide licik Wo Juru, sekali lagi Panembahan Senopati berusaha menguasai desa Kemangiran. Dengan cara mengirimkan putrinya yang cantik “Retno Pembayun” untuk memikat hati Raden Mangir.

Namun cinta yang ada antara Raden Mangir dan Retno Pembayun sungguh murni, sehingga mampu mengalahkan ambisi Panembahan Senapati, dan menyatukan Desa Kemangiran dengan Kerajaan Mataram.

Anak-anak Rayon Timur Selatan, perwakilan Karanganyar, Jumapolo, Sragen, Gemolong, Palur, Kebakeramat, Batureno, Danan, dan Wonogiri menampilkan tari bertema  Lingkungan hidup, penata tari Veronika Cahyani  SSn dengan aransemen musik Timotius Setiawan SSn.

Tari kolosal bertitel Adyatma Nagari, yang pada intinya  berkisah tentang negeri Indonesia. Indonesia yang memiliki aneka ragam kebudayaan, kekayaan alam melimpah, hutan yang luas yang menjadi penyangga.

Indonesia yang gemah ripah loh jinawi. Namun, manusia tidak bersahabat dengan alam. Merusaknya dengan menebang hutan, membuang sampah sembarangan, Dan aneka macam ulah manusia yang merusak alam tempat manusia tinggal.

Kini, ada harapan Ketika manusia mulai mencintai alam semesta. Manusia mulai mengubah cara hidup yang bersahabat dengan alam. Seraya memohon kepada Yang Empunya kehidupan supaya memberi rahmat untuk membantu manusia melestarikan alam. Gugur gunung bersama membangun alam untuk kehidupan Yang lebih baik. Membangun Indonesia yang lebih baik.

Sementara  perwakilan Cawas, Bayat, Wedi dan Klaten menampilkan tema Nusantara dengan pelatih Mariya Ananingrum dan Supriyadi. Ananingrum menceritakan,  fragment tari   Manunggaling Tekad Angrebut Kamardikan.  Rakyat indonesia pada waktu penjajahan digambarkan dengan tarian membawa batang kayu berat, sebuah situasi penderitaan .

Kain-kain  hitam digambarkan untuk masa kelam dengan munculnya sosok jahat. Muncul pejuang-pejuang yang membawa gunungan dan bendera, mereka melawan sosok hitam dan menang dengan persatuan. Dengan hilangnya sosok hitam, kemerdekaan mereka raih dan dirayakan dengan tari-tarian nusantara.

Gelar budaya juga memamerkan  keris besar setinggi 5 m milik Mpu Daliman, Sanggar Keris Meteor Putih, Gondangrejo Plesungan. Keris raksasa nan tinggi tersebut menarik perhatian peserta yang hadir.

Suasana semakin meriah saat  Dr.Id Band menampilkan lagu-lagu nasionalis, misioner dan lagu  Generasi Milenial ciptaan sendiri karya Flow CP Narendra.  SMP Kanisius Barata menampilkan suguhan karawitan dibawah asuhan  Prayitno. Gendhing Ibu Pertiwi menjadi latar suara doa lintas agama.

Berbagai pertunjukan lainnya di antaranya:  Tari Pendet perwakilan Agama Hindu di bawah Parisada Hindu Dharma Indonesia Surakarta. Penari dibawakan Komang Ayu Saraswati, Ketut Ayu Saraswati, Mudita, Ayu, Sasmita

Panti Asuhan Misi Nusantara pimpinan  Victory Hans Natanael,  perwakilan Agama Kristen menampilkan Tari Ba Aba dari Papua.  Wushu perwakilan dari Agama Budha oleh Fayola Nadya Lovey, menampilkan Taichi Kungfu Fan.

Keroncong Solo Manise dibawah asuhan ibu Hj Waldjinah dikoordinir  Ibu Erna Ms.   Tari Sufi oleh Lesbumi NU berkolaborasi dengan Saxophone oleh Hugo Budi Hartoko, dan Pianis Flow CP Narendra, dengan  iringan instrumen lagu Ndherek Dewi Mariyah.  Sementara lagu  Flashmob  Nandur Rukun Sugih Sedulur merupakan ciptaan V. Eka Mulyantari dari Kebonarum  Klaten.

COSMAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *