Apresiasi Sastra Lahirkan Profil Pelajar Pancasila

Spread the love

Oleh: YOGYANTORO
Pendidik dan Agen Penguatan Karakter Puspeka, Kemendikbud Ristek

Dewasa ini muncul fenomena memprihatinkan seperti maraknya kekerasan dalam pendidikan, baik yang dilakukan oleh siswa terhadap siswa, siswa terhadap guru, guru terhadap siswa, dan orang tua terhadap guru. Tawuran massal, demo yang berujung anarkis, gesekan antar pelajar, perseteruan antara orang tua dengan guru masih kerap terjadi. Siapa yang tidak miris menyaksikan situasi bangsa seperti itu. Sungguh pilu melihat situasi sosial-politik akhir-akhir ini yang dipenuhi oleh kekerasan dan kebencian. Sebuah kegagalan terbesar dari sistem pendidikan kita. Sebetulnya itu bukan terletak pada masalah lemahnya pendidikan mencerdaskan rakyat, tetapi terletak pada masalah ketidakmampuan pendidikan menyadarkan rakyat terhadap permasalahan hidup yang nyata. Pendidikan malah membuat anak-anak kita menjadi tidak punya jati diri, kehilangan arah dan cerdas tetapi tidak berakhlak.
Pendidikan di Indonesia masih banyak melahirkan generasi yang tidak bermoral, cacat sosial (socio-idot) yaitu generasi yang tercerabut dari nilai kesantunan dan kesopanan serta tidak memiliki pati, simpati dan empati. Tujuan dari penguatan pendidikan karakter melaui profil pelajar Pancasila di sekolah adalah untuk mewujudkan sekolah yang aman dan nyaman bagi peserta didik. Hal ini menjadi bagian yang harus menjadi prioritas utama di pendidikan dasar khususnya dalam menghadapi permasalahan bangsa seperti maraknya tindakan-tindakan kekerasan di sekolah.
Sebuah hasil studi secara sangat jelas menyatakan bahwa kualitas hubungan antara guru dan siswa semakin berkurang setelah siswa masuk ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan setelahnya. (Freeman, Anderman, dan Jensen, 2007). Artinya, siswa kita dalam bahaya besar ketika para gurunya hanya fokus pada aktivitas mengajar saja. Bahkan pendidikan agama hanya menjadi semacam “mata ajar” yang terlalu berfokus pada pengetahuan sangat dan jauh dengan praktik dalam kehidupan nyata peserta didik dalam kehidupan keseharian mereka. Pendidikan agama dalam pendidikan kita belum mampu menumbuhkan ikatan persatuan dan kesatuan bangsa yang baik serta menyentuh aspek-aspek kemanusiaan.
Membangun relasi dengan orang tua atau wali murid, bagi seorang guru, merupakan permasalahan yang sulit yang mesti dicari solusinya. Demikian pula membangun hubungan (building rapport) antara guru dengan siswa atau bahkan menciptakan hubungan kesetiakawanan antar siswa yang notabene memiliki keberagaman yang bisa memicu munculnya perselisihan. Masih maraknya kasus kekerasan yang terjadi antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru atau orang tua atau wali dengan siswa tentu menjadi ancaman terwujudnya sekolah yang aman dan nyaman bagi peserta didik.
Rumusan masalah yang muncul kemudian adalah seberapa mampu pendidikan melahirkan peserta didik dengan profil pelajar Pancasila yang memiliki enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif sebagaimana yang didengung-dengungkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi? Seperti apapun perubahan yang akan terjadi di masa depan, prinsipnya adalah tetap berperilaku baik. Sesungguhnya masa depan terletak pada perilaku. Bukankah pendidikan itu yang sebenarnya adalah upaya memanusiakan manusia? Tujuan dari penguatan pendidikan karakter melalui pendekatan Kirpal Singh Way di sekolah adalah terlaksanakannya tiga prinsip utama pendidikan, yaitu pembiasaan, pembelajaran, dan peneladanan sehingga sekolah berkaraker akan tercipta. Sekolah berkarakter adalah tempat terbaik untuk melahirkan peserta didik yang sesuai dengan Profil pelajar Pancasila.
Dalam pendekatan Kirpal Singh dijelaskan bahwa sastra mampu mendongkrak olah rasa dan pemikiran seorang siswa sehingga bisa berkembang ke arah yang lebih baik. Literature is our linguistic heritage and a powerful resource which our schools and universities don’t give enough credence to. Kita sebagai civitas academica harus mencintai dan membaca karya sastra yang baik dan dengan sepenuh hati. Hal ini dapat menjadikan peserta didik menjadi lebih berkarakter yaitu dapat menerapkan unsur-unsur yang terkandung dalam profil pelajar Pancasila. Para peserta didik bisa menjadi generasi muda yang unggul dan berdaya saing asalkan memiliki semangat dan iktikad mengembangkan diri menjadi Pelajar Pancasila.
Lemahnya hidden curriculum (keteladanan guru dan kebijakan disiplin dan kejujuran) menjadi faktor pemantik ketiadaan kejujuran para penegak hukum seperti polisi, jaksa, hakim dan pengacara dan politisi kita, yang keteka mereka bersekolah dulu hanya diajarkan konsep “jujur, toleransi, religius dan peduli sosial” sebagai pengetahuan semata (kognitivisme) tetapi bukan sebuah tindakan. Maka tidak heran muncul fakta mencengangkan seperti maraknya kekerasan dalam pendidikan, baik yang dilakukan oleh siswa terhadap siswa, oleh siswa terhadap guru, oleh guru terhadap siswa, dan oleh orang tua terhadap guru.
Melalui pendekatan Kiparl Singh Way artinya memberikan ruang sastra di sekolah yang dapat dengan mudah mereka saksikan dan ikuti. Sastra jika dirunut secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta, memiliki akar kata sas- yang artinya mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi; dan akhiran –tra yang menunjukkan alat, sarana; sehingga sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Sedangkan dalam bahasa Jawa Kuna, kata sastra memperoleh perfiks su- yang artinya baik, indah; sehingga menjadi susastra yang berarti alat untuk mengajar hal-hal yang baik dan indah, buku pengajaran tentang hal-hal yang bersifat baik dan indah. Sementara itu dalam bahasa Indonesia, kata susastra lazim ditambah dengan konfiks ke-an yang artinya kumpulan, hal yang berkaitan dengan; maka kata susastra menjadi kesusastraan. Kesusastraan kemudian berari kumpulan atau hal yang berkaitan dengan alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran yang baik.
Implementasi pendidikan karakter untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila di SMPN 4 Muara Teweh sebagaimana yang ditandaskan oleh Kirpal Singh, seorang master spiritual (satguru) dan juga Presiden Persekutuan Agama Sedunia, sebuah organisasi yang diakui oleh UNESCO memerlukan keteladanan dari orangtua maupun guru sebagai langkah awal. Ada maxim yang mengatakan: “Parents can only give good advice or put their children on the right path. The final forming of a person’s character lies in their own hand” (Anne Frank). Ini artinya bahwa peran guru atau orang tua hanya memberi sebanyak mungkin contoh atau keteladanan.
Di lingkungan sekolah seperti SMPN 4 Muara Teweh menerapkan praktik baik melalui keteladanan dari guru mereka sendiri. Dalam bingkai budaya sekolah (school culture) serangkaian pembiasaan dan keteladanan dari guru adalah harga mati yang harus ditanamkan dan dibudidayakan. Budaya mengapresiasi karya sastra dari para guru atau tenaga pendidik di lingkungan sekolah harus terus dibumikan karena mengingat fungsinya sebagai media katarsis. Aristoteles seorang filsuf dan ahli sastra mengungkapkan bahwa salah satu fungsi sastra adalah sebagai media pembersih jiwa (katarsis) baik bagi pembaca maupun penulisnya. Bagi pembaca, karya sastra akan membuka jiwa, pikiran dan perasaan sehingga bisa mendapat khazanah ilmu pengetahuan, inspirasi positif dan hiburan yang menenangkan dan menyenangkan jiwa. Sementara itu bagi penulis yang menghasilkan karya sastra yang berkualitas akan mendapatkan kepuasan batin, kelapangan jiwa dan kedamaian perasaan karena berhasil mengekspresikan semua perasaan yang menghimpit atau membebani perasaan dan pikirannya.
Adanya keinginan kuat untuk memberi contoh dan teladan yang baik yang lahir dari substansi sastra akan melahirkan benih-benih anti kekerasan. Filsafat pendidikan Aristotelian (1995) dengan jelas mengonfirmasi bahwa: “ The most important thing to be learned is virtue or excellence of character, and the only way that this can be learned is witnessing exemplary members of one’s community as they enact the virtues.” Hal ini semakin memperkuat bahwa salah satu cara mengatasi maraknya kekerasan adalah membudayakan transfer virtue atau kebajikan melalui keteladanan guru kedalam relung hati peserta didik.
Salah satu cara untuk menanamkan kebaikan pada diri siswa adalah melalui media sastra. Hal ini dimulai dari para guru yang harus menghargai dan mencintai sastra terlebih dahulu sehingga siswa-siswa pun akan meneladani nilai-nilai kebajikan yang terkandung dalam sastra. Sastra menjadi media pembelajaran yang dapat berfungsi sebagai cara (way) yang bersifat reseptif atau menerima dan ekspresif atau kemampuan mengungkapkan dalam upaya pendidikan karakter di sekolah. Guru dapat memberi tugas mencari referensi dari tayangan bermutu atau mengarahkan peserta didik untuk mencari tayangan yang bersifat edukatif yang bisa menambah pengetahuan dan mengedepankan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Guru juga dapat mengarahkan peserta didik untuk mengikuti kegiatan yang bisa mengembangkan potensi mereka melalui kegiatan membaca karya sastra, mereproduksi karya sastra yang telah dibaca, mengubah puisi menjadi cerpen, atau mengubah cerpen atau novel menjadi drama dan lainnya. Sekolah dapat menyelenggarakan secara rutin lomba menulis dan membaca puisi serta prosa dari karya-karya Rendra, Hamka, Sanusi Pane dan sebagainya.
Untuk mengentaskan sekolah yang berada pada level nol yang ditandai dengan banyaknya tindakan kekerasan, harus segera ditanamkan keteladanan guru berupa praktik-praktik apresiasi sastra yang berkualitas. Karya sastra yang berkualitas yaitu yang terkandung di dalamnya nilai-nilai estetis dan etis yang mampu menginspirasi dan menuntun peserta didik menjadi orang yang lebih beradab dan berkarakter. Penguatan karakter dalam budaya sekolah di SMPN 4 Muara Teweh yang ditandai dengan peningkatan dalam beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong-royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif yang bisa tercermin pada hampir seluruh siswa dan guru yang berintegritas akan menciptakan sebuah sekolah yang bisa mencapai level tiga atau empat.
Memberikan sebanyak mungkin bentuk-bentuk keteladanan melalui pendekatan Kirpal Singh Way adalah pilihan paling strategis guru dalam membentuk karakter siswa-siswi mereka. Prinsip we create our character by the choice we make harus dijadikan semacam kreda ketika mengajar. Sehingga sekolah akan tetap berada pada pusaran budaya berketuhanan dan Pancasila melalui peneladanan nilai-nilai kebaikan yang berkelanjutan. Mengasah kepekaan sosial dan karakter melalui literasi karya sastra. Hubungan antara karya sastra dan budi pekerti serta perilaku manusia memang sangat erat. Karya sastra bisa membuat seseorang menjadi lebih stabil dan mampu mengendalikan emosi. Kirpal Singh, seorang spiritual master (satguru) mengatakan bahwa sastra mampu mendongkrak olah rasa dan pemikiran seorang siswa sehingga bisa berkembang ke arah yang lebih baik.
Semoga visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2025 untuk menghasilkan insan cerdas berkarakter bisa tercapai melalui internalisasi profil pelajar Pancasila. Insan Indonesia yang cerdas adalah insan yang cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual dan cerdas kinestetis. Mewujudkan profil pelajar Pancasila di sekolah artinya sama dengan menuju pendidikan yang humanis dan anti kekerasan sehingga terwujud lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi peserta didik. Sebagai penutup, penulis akan mengutip tulisan Muhammad Fauzil Adhim dalam buku “ Positive Parenting”: Orang cerdas kerap hanya menjadi pelayan bagi mereka yang memiliki gagasan, dan orang-orang yang memiliki gagasan besar melayani mereka yang memiliki karakter. Seseorang yang berkarakter kuatlah yang akan mudah mewarnai dunia. Sekecil apapun persoalan karakter, itu adalah persoalan besar.

Editor: Cosmas