Kegiatan Sains Menanam Sayur Meningkatkan Motivasi Belajar dan Kemampuan Berpikir Kritis Anak

Spread the love

oleh: Ismu Supriyati, S.Pd. AUD Guru Kelas Kelompok B TK Islam Bakti 1 Karanganyar Padangan, Jungke, Karanganyar

Golden Age atau masa emas yaitu masa di mana saat yang paling tepat bagi seorang anak untuk memperoleh pendidikan yang sesuai dengan usianya. Pendidikan anak usia dini memiliki tujuan untuk mengembangkan seluruh potensi anak sejak dini agar individu dapat menyesuaikan lingkungan sekitarnya.
Berdasarkan tingkat usia, anak usia dini merupakan anak yang mempunyai interval usia antara 0 sampai 8 tahun (Morrison, 1989). Penentuan jarak usia ini merupakan pedoman yang ditentukan oleh National Assosiation Education for Young Child. Anak usia dini adalah anak yang pada tahapan pertumbuhan dan perkembangan. Perkembangan yang dimaksud adalah dalam aspek psikomotorik, kognitif, sosio-emosional, bahasa dan komunikasi yang secara spesifik sesuai dengan tingkatannya masing-masing.
Pengalaman yang di dapat anak nantinya akan dibawa anak seumur hidupnya, sehingga pada bidang pendidikan ini anak usia dini sangat memerlukan langkah-langkah yang tepat untuk membekali pengalaman pada anak sejak dini. Anak-anak memperoleh pengalaman baru selain di rumah yaitu di sekolah. Mereka juga memperoleh pengalaman di lingkungan sekolah seperti halaman sekolah dan tempat di sekitar sekolah. Pembelajaran yang diberikan dari sekolah pun bermacam-macam sehingga membuat anak dapat memperoleh pengetahuan serta wawasan baru dari luar rumah.
Pengenalan sains pada anak bukan berarti mengenalkan rumus-rumus, namun mengenalkan sains pada anak harus sesuai dengan tahapan umur dan perkembangannya, serta mengenalkan sains harus dalam suasana bermain. Sains sebagai sesuatu yang berisikan teori atau konsep yang berhubungan satu dengan yang lain berdasarkan hasil pengamatan alam dan isi alam, pengamatan yang dilakukan dapat mengajak anak agar mulai berpikir lebih kritis dari biasanya. Pembelajaran sains yang diberikan untuk anak usia dini merupakan sains yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari anak, misalnya asal mula sayur yang mereka makan. Di sini anak diberi tahu bahwa sayur yang mereka makan berasal dari sebuah biji atau bibit tanaman yang dirawat sampai tanaman siap di olah sehingga tanaman dapat dipanen, dan di masak matang sehingga anak bisa untuk memakannya.
Proses pembelajaran yang dilakukan di Kelompok B TK Islam Bakti 1 Karanganyar dengan contoh nyata dalam bentuk menanam sayur memberikan dampak yang baik terhadap perkembangan anak, karena anak mendapatkan pengalaman nyata dan dapat tertanam dengan baik di diri anak. Anak menjadi memahami proses apa saja yang harus dilakukan untuk membuat sayur, sederhananya anak tahu apa itu tanaman sayur yang bisa di olah, anak mengetahui cara merawat, serta anak mengetahui cara mempraktekkan memasak sayur. Dengan adanya pembelajaran sains ini membuat anak-anak menjadi mengerti bagaimana konsep proses dari asal muasal sayuran yang mereka makan.
Kegiatan menanam sayur di Kelompok B TK Islam Bakti 1 Karanganyar dapat menjadi penghubung anak mengenal sains kehidupan yang mana kegiatan tersebut menjadi ajang untuk anak dapat mengenal alam sekitar dengan cepat karena setiap kegiatan menanam anak bersentuhan dengan alam secara langsung. Di mana guru akan mengenalkan tanaman yang akan ditanam secara nyata bukan melalui penjelasan guru, sehingga membuat anak lebih tertarik. Seorang guru disebut sukses mengemban tugas apabila mampu membuat anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang selalu berpikir kritis, bersikap optimis, memiliki kepercayaan diri, serta perilaku-perilaku baik lainnya Fakhruddin (2010). Saat anak menanam sayuran, anak secara langsung menyentuh tanah dan tangannya dapat merasakan bentuk fisik dari tanah, seperti tekstur dan warnanya. Lalu saat anak merawat tanaman, anak akan menyiram dengan air dan memberikan pupuk untuk tanamannya agar tumbuh dengan subur. Setelah tanaman sudah siap panen, secara bersamaan guru dan anak memperoleh hasil tanamannya dan dapat memetiknya.
Hal-hal sederhana seperti itu dapat membuat anak termotivasi dan menambah pengetahuan sains mereka akan alam sekitar melalui kegiatan menanam sayur. Kegiatan tersebut dapat mengasah kemampuan berpikir kritis anak agar di kemudian hari terbentuk pribadi yang mampu mampu menghadapi, mengevaluasi dan memberi solusi terhadap permasalahan yang dihadapinya dengan pengetahuan dan sumber yang telah di dapat dan dipastikan kebenarannya. ***

Editor: Cosmas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *