Banyak Keterbatasan, Komitmen Pelayanan Maksimal Optimal

Spread the love

Oleh Endah Dewi Ariastuti, S.Pd, M.Pd.

SDN 02 Gedong, Karanganyar

Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah

Sekolah Dasar (SD) Negeri 02 Gedong, adalah salah satu sekolah Negeri yang memliliki jumlah siswa tidak banyak. Dengan jumlah siswa yang terbatas penerimaan Dana BOS dari pemerintahpun juga sangat terbatas. Padahal satu-satunya sumber dana untuk operasional sekolah negeri adalah bantuan pemerintah yaitu berupa dana BOS yang diberikan berdasarkan jumlah siswa yang di miliki oleh sekolah, karena kebijakan pemerintah Sekolah Negeri wajib membebaskan pungutan dalam bentuk apapun atau gratis kepada siswa-siswinya.

SD Negeri 02  Gedong  menyelenggarakan sekolah gratis sesuai kebijakan pemerintah. Meskipun segalanya serba terbatas,  sekolah berkomitmen untuk menyelenggarakan Pendidikan yang baik semaksimal mungkin. Berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi siswa-siswi di sekitar sekolah. Sebagian besar siswa sekolah SDN 02 Gedong adalah ekonomi orangtua yang kurang mampu, pra sejahtera dan membutuhkan bantuan dari sekolah.

Penerimaan  peserta didik baru seperti saat ini di tengah pagebluk Covid-19 menjadi tantangan cukup berat bagi SDN 02 Gendong untuk mendapatkan siswa-siswa baru, apalagi berdekatan dengan sekolah swasta, di mana masa pendaftaran  untuk sekolah swasta sudah lebih dahulu di buka. Maka sisa siswa yang belum mendaftar menjadi target untuk di jaring bagi sekolah negeri yang rata-rata di sekitar lingkungan ada 3 Sekolah Negeri. Makin lama sekolah negeri  jenjang Sekolah dasar  kesulitan mendapatkan siswa.

Meskipun sulit mendapatkan siswa tapi Sekolah Dasar 02 Gedong berusaha untuk mensosilaisaikan program-program sekolah ke masyarakat sekitar agar  orangtua Kembali tergerak untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah pemerintah ini dengan berbagai langkah-langkah dan strategi antara lain mensosialisasikan program-program sekolah lewat media berupa youtube agar program-program sekolah bisa dikomunikasikan dengan baik ke masyarakat luas.

Dari intern  sekolah sendiri  mulai berbenah dari Kepala Sekolah, para pengajar dan karyawan dengan lebih meningkatkan kompetensinya, membangun komunikasi yang baik dan lancar dengan rekan sejawat, meningkatkan kekeluargaan dengan mengembangkan mindset atau pola pikir yang positif  dalam setiap kegiatan sekolah yaitu meningkatkan kerjasama, saling membantu dan memperkuat kekeluargaan, senasip, sepenanggungan dan mempunyai tujuan sama yang hendak dicapai.

Demikian juga menjalin Kerjasama dengan berbagai pihak di sekitar lingkungan sekolah, melibatkan Komite, pemerintah Desa dan tokoh masyarakat untuk ikut berkontribusi  dalam memajukan sekolah. Meningkatkan pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler jika sekolah sudah Tatap Muka, jika tatap muka terbatas boleh dilaksanakan sekolah akan mengatur sebaik-baiknya dengan menerapkan prokes secara ketat sesuai aturan, dengan jumlah siswa yang tidak banyak memudahkan sekolah mengatur jarak kegiatan pembelajaran  di kelas.

Mendorong siswa untuk ikut kompetisi secara sehat dalam berbagai ajang perlombaan yang di gelar oleh dinas seperti FLS2N maupun lomba Mapel Agama Islam (Mapsi). Guru bekerjasama membimbing dan melatih dan menyiapkan siswanya agar siswa  mempunyai  kepercayaan diri yang kuat. Hasil lomba memang penting, tetapi tidaklah menjadi prioritas, yang utama adalah melatih guru dan siswa agar bisa berproses dengan baik. Dan mampu mengambil hikmah dalam proses tersebut, harapannya menjadi bahan evaluasi untuk waktu-waktu mendatang.

Editor: Cosmas/Iko

Satu tanggapan untuk “Banyak Keterbatasan, Komitmen Pelayanan Maksimal Optimal

  • Juni 23, 2021 pada 12:30 am
    Permalink

    Sekolah dengan pelayanan prestasi dengan mengedepankan Akhlakul Kharimah dan penajaman jiwa patriot NKRI dan tidak berjanji dengan berembel-embel masuk surga dan bayar mahal yaitu sekolah negeri. Jumlah siswa sedikit bantuan dana BOS juga kecil akan kesulitan dalam pengembangan sekolah.
    Sebaiknya pemerintah mulai lebih memperhatikan tentang perkembangan SD Negeri yang semakin memprihatinkan, dimana guru profesional dan cakap di SD Negeri tidak dapat menyalurkan keprofesionalannya gara2 dana bos sebagai acuan standar pembeayaan pendidikan (satu-satunya) yg hanya sedikit seiring dengan menurunnya jumlah siswa.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *