Spread the love

Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write  Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

Oleh : Syaiful Qomari, S.Si (SMK Islam Randudongkal)

Belajar matematika adalah aktivitas mental agar dapat memahami arti serta bagaimana menggunakannya dalam membuat suatu keputusan untuk memecahkan masalah. Belajar matematika adalah hal penting dalam rangka mengembangkan logika berpikir serta meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.

Permasalahan yang sering terjadi sehingga kemampuan pemecahan masalah pada pembelajaran matematika yang sering kurang didapatkan: (1) peserta didik belum berani mengemukakan ide/gagasan pada guru, (2) peserta didik selalu menganggap pelajaran matematika itu sulit, (3) beberapa peserta didik masih suka mengerjakan soal latihan dengan melihat pekerjaan temannya atau menyontek.

Penyebab Rendahnya tingkat kemampuan pemecahan masalah peserta didik dikarenakan beberapa faktor slah satunya yaitu guru, peserta didik, dan media pembelajaran. Berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka mengatasi masalah tersebut, tetapi hasilnya belum memuaskan. Dari kurang bervariasinya guru dalam menerapkan strategi pembelajaran dalam proses belajar mengajar di kelas. Selain itu, peserta didik juga kurang diberi kesempatan oleh Guru untuk mengemukakan ide atau gagasan selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam diri peserta didik, belajar matematika adalah pelajaran yang sulit karena materinya yang susah dipahami membuat peserta didik cenderung pasif selama proses pembelajaran berlangsung. Saat Kegiatan inti pembelajaran guru memberikan soal kepada peserta didik, banyak peserta didik yang tidak percaya kepada kemampuan dirinya sendiri. Peserta didik cenderung untuk menanyakan jawaban dari soal yang diberikan oleh guru kepada teman yang belum tentu jawaban itu benar. Faktor lain yang berasal dari guru yang berpengaruh juga terhadap kemampuan  peserta didik yaitu media pembelajaran. Media pembelajaran yang kurang menarik akan membuat peserta didik cepat bosan dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga kemampuan pemahaman materi dan hasil belajar kurang maksimal.

Pembelajaran Think Talk Write (TTW) merupakan model pembelajaran yang dapat menumbuh kembangkan kemampuan pemahaman dan komunikasi peserta didik. Model pembelajaran Think Talk Write ini dikembangkan oleh Huinker dan Laughlin (Yamin dan Ansari, 2008:84) dengan dibangun melalui proses berpikir, berbicara dan menulis. Model ini akan lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok yang heterogen dengan 3-5 peserta didik. Dalam kelompok ini semua peserta didik diminta untuk membaca, membuat catatan kecil, menjelaskan, mendengar dan membagi ide bersama teman kemudian mengungkapnya dalam bentuk tulisan.

Sintaks/Tahapan pelaksanaan Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW) menurut Yamin dan Ansari (2008:85) adalah:

  1. Think

Think adalah aktivitas peserta didik untuk berikir. Kegiatan ini dapat dilihat dari proses membaca suatu teks/bacaan atau cerita kemudian membuat catatan tentang apa yang telah dibaca tadi.

  • Talk

Talk adalah aktivitas peserta didik dalam berkomunikasi dengan menggunakan kata – kata dan bahasa yang dapat mereka pahami menurut Yamin dan Ansari (2008:86),

Komunikasi dalam model Think-Talk-Write bisa membuat peserta didik untuk terampil berbicara. Proses komunikasi dipelajari peserta didik melalui kehidupannya sebagai individu dengan berinteraksi dengan lingkungan sosia yang ada disekitarnya.

  • Write

Write adalah aktivitas peserta didik dalam menuliskan hasil diskusi/dialog pada lembar kegiatan peserta didik. Kegiatan menulis berarti mengkonstrusikan ide setelah berdiskusi antar teman dalam kelompoknya. Menulis dalam matematika dapat membantu mewujudkan salah satu tujuan pembelajaran, yaitu pemahaman peserta didik tentang materi yang sedang dipelajari.

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran model pembelajaran think-talk-write menurut Yamin dan Ansari (2008:84) adalah:

  1. Guru membagi teks bacaan berupa lembar kegiatan peserta didik yang memuat berbagai masalah yang bersifat open ended dan petunjuk  serta prosedur pelaksanaannya.
  2. Peserta didik membaca teks dan membuat catatan kecil hasil membaca  secara individual,  untuk presentasikan ke  forum diskusi (think).
  3. Peserta didik berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman yang lain guna membahas  isi catatan (talk). Guru  berperan sebagai mediator dan motivator lingkungan belajar.
  4. Peserta didik mengkonstruksikan sendiri pengetahuan sebagai hasil kolaborasi (write). Guru  memantau, mengevaluasi dan menyimpulkan tingkat pemahaman peserta didik.

Model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write yang memiliki karakteristik proses belajar secara berkelompok diyakini dapat memberdayakan peserta didik, meningkatkan keterlibatan dan kerjasama peserta didik. Mengembangkan potensi peserta didik sehingga dapat meningkatkan pembelajaran yang dapat menumbuh kembangkan kemampuan pemahaman dan komunikasi peserta didik dalam pembelajaran matematika di kelas. Oleh karena itu model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write ini bisa jadi alternatif solusi untuk diterapkan mengatasi permasalahan kemampuan pemecahan masalah pada pembelajaran matematika.

Editor: Cosmas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *