Studi: Bagaimana Mutasi Covid-19 Bisa Mempengaruhi Vaksin

Spread the love
Seorang pria mengenakan masker berjalan melewati ilustrasi virus corona di luar kantor pusat sains, di tengah pandemi virus corona, di Oldham, Inggris, 3 Agustus 2020. (Foto: Reuters)

Penelitian baru menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 buatan Pfizer bisa melindungi dari mutasi yang ditemukan pada dua varian virus corona dengan kemampuan penularan tinggi yang mewabah di Inggris dan Afrika Selatan itu dan telah ditemukan di negara-negara lain.

Rasa takut terhadap meningkatnya penularan varian Covid-19 yang ditemukan di Inggris dan Afrika Selatan telah mendorong pemerintah untuk kembali menerapkan karantina wilayah dan berbagai tindakan tambahan untuk membendung penyebaran.

Inggris kini sepi. Jalan-jalan yang biasanya padat dan ramai hanya dilalui oleh kendaraan esensial.

Varian virus corona yang ditemukan di Inggris dan Afrika Selatan tidak serupa, tetapi keduanya memiliki wujud mutasi sama yang dijuluki “N501Y” oleh para ilmuwan. Ini merupakan perubahan kecil pada satu titik protein lonjakan yang membalut virus tersebut. Perubahan inilah yang diduga menjadi penyebab virus itu dapat menyebar dengan mudah.

Sebagian besar vaksin yang dikeluarkan di seluruh dunia melatih tubuh kita untuk mengenali protein lonjakan tersebut dan melawannya. Pfizer bekerja sama dengan para peneliti dari Fakultas Kedokteran University of Texas Medical Branch di Kota Galveston guna melakukan pengujian laboratorium untuk melihat apakah mutasi tersebut mempengaruhi kemampuan vaksin untuk melawan virus.

Seorang petugas kesehatan bersiap mendapatkan suntikan dosis kedua vaksin Covid-19 buatan Pfizer/BioNTech di Rumah Sakit Posta Central, di Santiago, Chili, 14 Januari 2021. (Foto: Reuters)
Seorang petugas kesehatan bersiap mendapatkan suntikan dosis kedua vaksin Covid-19 buatan Pfizer/BioNTech di Rumah Sakit Posta Central, di Santiago, Chili, 14 Januari 2021. (Foto: Reuters)

Mereka menggunakan sampel darah dari 20 orang yang telah menerima vaksin buatan Pfizer dan mitranya, BioNTech dari Jerman, pada sebuah penelitian besar terhadap suntikan tersebut. Zat antibodi dari para penerima vaksin itu secara sukses dapat menangkis virus tersebut saat dipertemukan di atas cawan petri, menurut penelitian yang dimuat pada 7 Januari 2021 pada sebuah situs daring bagi para peneliti.

Lawrence Young, seorang profesor Onkologi Molekuler di Fakultas Kedokteran University of Warwick,percaya bahwa hasil penelitian tersebut awal mulanya menjanjikan. Namun, ia juga menunjukan bahwa hasil penelitian tersebut masih berada pada tahap awal dan belum ditinjau kembali oleh para peneliti lain.

Profesor Young juga mengatakan bahwa kemungkinan ada masalah lain pada penelitian baru tersebut.

Profesor Young mengatakan, kelemahan dari data ini adalah bahwa mereka telah merekayasa versi virus corona ini di lab agar mengandung satu mutasi pada gen protein lonjakan, yang meniru salah satu mutasi pada varian Inggris.

“Jadi sebenarnya virus ini tidak membawa semua perubahan yang terjadi pada varian virus yang ditemukan di Inggris, dan tentu demikian pula pada varian yang ditemukan di Afrika Selatan,” kata Young.

Virus secara konstan mengalami perubahan kecil ketika menyebar antar manusia. Para peneliti telah menggunakan sejumlah modifikasi kecil ini untuk melacak bagaimana virus corona telah menyebar ke seluruh dunia sejak pertama kali terdeteksi di China sekitar setahun yang lalu.

Para ilmuwan Inggris telah mengatakan bahwa varian yang ditemukan di Inggris, yang telah menjadi tipe dominan di sebagian negara Inggris, tampaknya masih rentan terhadap vaksin.

Para penumpang dari London tiba di Bandara Internasional JFK di New York, di tengah pembatasan baru untuk mencegah virus corona (COVID-19), 21 Desember 2020. (Foto: Eduardo Munoz/Reuters)
Para penumpang dari London tiba di Bandara Internasional JFK di New York, di tengah pembatasan baru untuk mencegah virus corona (COVID-19), 21 Desember 2020. (Foto: Eduardo Munoz/Reuters)

Menurut Dr. Simon Clarke, seorang Profesor Virologi di University of Reading, tidak mungkin untuk mengetahui dari mana asal virus secara tepat hanya dengan melihat kode genetika.

Dr. Clarke mengatakan, bisa saja membuat tebakan beralasan dan mungkin saja virus tersebut munculnya di Inggris, tapi itu bukan jaminan.

“Kami punya sistim yang sangat baik di sini, yang memungkinkan kami untuk mendeteksi kode genetika, tapi kami tidak bisa mengetahui dengan pasti dari mana asalnya,” ujar Clarke.

Menurut Clarke, kode genetika virus mutan tersebut membuatnya dapat dilacak.

Para ilmuwan tersebut mengatakan mungkin saja suatu virus bermutasi sehingga sebuah vaksin tidak mempan melawannya. Namun,kata mereka, ini adalah kejadian yang ekstrem dan luar biasa.

Para ilmuwan di seluruh dunia sedang melakukan penelitian dengan sejumlah vaksin yang berbeda untuk mengetahui apakah mutasi ini dapat diatasi dengan vaksin-vaksin yang sudah dilakukan sejauh ini. [aa/lt/ft]

 sumber: voaindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *