Peran Guru dan Orang Tua Menjaga Psikologis Anak Selama PJJ

Spread the love

ARTIKEL POPULER

Sri Wahyuningsih, S.Pd

Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 2 Jenawi

Sejak Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) menyerang, sistem pendidikan dipaksa untuk melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).  Siswa diharuskan menyesuaikan diri dengan perpindahan sistem pembelajaran yang semula secara tatap muka  menjadi pembelajaran jarak jauh.

Siswa memerlukan waktu  beradaptasi dengan pembelajaran daring. Siswa harus menyesuaikan diri dengan model pembelajaran daring ini. Tidak hanya siswa,  orang tua dan guru juga harus menyesuaikan diri dengan pembelajaran jarak jauh ini. Apabila siswa tidak bisa menyesuaikan diri dengan pembelajaran daring ini, maka akan berdampak pada psikologisnya. Siswa akan merasakan tertekan, stres, atau bahkan bisa depresi. Bahkan, dalam beberapa kasus, ada siswa yang melakukan bunuh diri karena beban tugas yang diberikan oleh gurunya. Guru dan orang tua sangat mempengaruhi psikologi anak selama pembelajaran jarak jauh.

Sebagai seorang guru, guru harus memberikan pembelajaran secara menarik supaya siswa tidak terlalu tegang dan tertekan selama pembelajaran daring. Pembelajaran yang menarik dan menyenangkan terbukti ampuh dalam menjaga kondisi psikologis siswa tetap baik.

Zaman sekarang, teknologi sudah semakin maju. Guru harus bisa beradaptasi dengan kecanggihan teknologi zaman sekarang dan guru harus bisa memanfaatkan secara maksimal dalam menggunakan teknologi tersebut. Dalam memberikan materi guru dapat memanfaatkan teknologi.

Ada banyak jenis media pembelajaran yang tersedia saat ini. Contoh media yang dapat digunakan guru adalah, menggunakan media Audio (Contoh media audio antara lain radio, tape recorder, telepon), media visual (Media visual diam contohnya foto, ilustrasi, flashcard, film bingkai, OHP, grafik, bagan, dan lain-lain). Media visual gerak (bisa berupa gambar-gambar proyeksi bergerak seperti film bisu dan lain sebagainya), media audio visual (media audio visual dibedakan menjadi 2 yaitu media audio visual diam, seperti TV diam atau film rangkai bersuara, dan media audio visual gerak, seperti film TV atau gambar bersuara), dan masih banyak lagi media yang bisa digunakan untuk mendukung pembelajaran jarak jauh.

Sebagai seorang guru, tentunya guru juga harus memperhatikan kesehatan psikologis siswa. Terlalu banyak memberikan tugas kepada siswa akan berdampak buruk terhadap psikologis siswa. Solusinya adalah dengan memberikan sedikit kelonggaran terhadap siswa dalam memberikan tugas. Jangan memberikan tugas terlalu sering kepada siswa, misalnya setiap dua minggu sekali siswa diberi tugas. Tugas tersebut diberi tenggat waktu sedikit lebih lama dari hari pemberian tugas. Hal ini untuk mengantisipasi siswa yang kesulitan perihal sinyal. Jika setiap 1×24 jam atau kurun waktu beberapa jam setelah pemberian tugas siswa diharuskan mengumpulkan tugas, lalu bagaimana siswa yang tinggal di pelosok desa dan terkendala perihal sinyal? Hal ini akan mengganggu siswa dalam pengumpulan tugas dan akan menjadi beban tersendiri untuk siswa. Ini juga akan berdampak pada kesehatan psikologis siswa.

Dalam pembelajaran jarak jauh, orang tua juga harus memperhatikan kondisi anak, baik kondisi kesehatan maupun kondisi psikologis anak. Banyaknya tugas dari guru, dapat menyebabkan anak jatuh sakit karena beban pikiran yang diterima oleh anak terlalu banyak. Agar anak tidak mudah jatuh sakit orang tua harus memperhatikan asupan gizi yang diberikan kepada anak agar anak lebih mudah berkonsentrasi terhadap pembelajaran jarak jauh. Orang tua juga harus menjadi pengamat yang baik terhadap setiap gerak-gerik anak.

Anak yang mulai mengalami gangguan psikologis biasanya akan menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut: 1) pola makan dan tidur menjadi berubah dan menjadi tidak normal, 2) merasa sedih, stres, dan depresi secara terus menerus, 3) sering mengasingkan diri, 4) berubah menjadi lebih pendiam, 5) memiliki emosi atau perasaan yang berubah-ubah. Jika sudah menemukan gejala seperti ini, orang tua harus lebih mendekatkan diri kepada anak dan menjadi tempat keluh kesah yang baik untuk anak tanpa menghakiminya.

Editor: Cosmas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *