Sadranan di Bero Trucuk Dimeriahkan dengan Pentas Wayang Kulit

Spread the love

KLATEN, POSKITA.co – Ratusan warga Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Klaten, tampak duduk bersila lesehan di depan bangsal makam Selo Kondho Binangun, Senin malam (29/4/2019). Mereka asyik menyaksikan pentas wayang kulit semalam suntuk yang dimainkan dalang Ki Tomo Pandoyo.

Menurut Kepala Desa Bero, Suranto SSi, pentas wayang kulit ini setiap tahun diadakan yang bertepatan tanggal 25 bulan ruwah atau sya’ban. Kebetulan pentas wayang kulit ini bagian dari tradisi sadranan di Desa Bero ini dan semua RT/RW mendukungnya.

“Warga Desa Bero memang suka nonton wayang kulit, sehingga dalam tradisi sadranan digelar agenda pentas wayang kulit. Lakon wayangnya Puntodewo Winisudo dan semakin malam, warga yang datang justru mbludak,” jelas Suranto.

Puluhan aneka permainan anak dan aneka kuliner, turut meramaikan agenda sadranan di Desa Bero ini. Pentas wayang kulit ini murni disengkuyung warga dengan total anggaran gotong royong sekitar Rp 25 juta lebih. Kebersamaan dan kekompakan warga memang terlihat dalam sadranan ini.

Lebih jauh Suranto menyatakan, agenda pemilihan legislatif dan pemilihan presiden telah usai. Warga dengan aneka pilihan, diharapkan tetap menjaga kerukunan dan bersatu kembali membangun Desa Bero. Ratusan warga yang hadir, memang guyup dan sama-sama menikmati pentas wayang kulit penuh suka cita.

Kades Bero Suranto serahkan tokoh wayang Puntodewo pada dalang.

Hal senada dikatakan Baidlowi, ketua panitia sadranan Desa Bero yang diramaikan dengan pentas wayang kulit. Momen sadranan bisa dijadikan awal membangun kebersamaan warga setelah pesta demokrasi usai digelar. Warga saling menyapa, bertemu di makam dengan nyekar makam leluhur dan sama-sama menyaksikan gelaran wayang kulit semalam suntuk.

“Para tokoh masyarakat, ketua RT/RW dan elemen masyarakat kita undang secara khusus. Kalau tak ada dukungan atau sengkuyung warga, acara wayangan juga susah digelar, sebab anggarannya tidak sedikit. Terpenting warga ada niatan nguri-nguri tradisi leluhur, nyekar makam leluhur dan berdoa buat leluhur. Pentas wayang kulit ini akan kita lestarikan setiap sadranan digelar,” ujar Baidlowi. (Hakim)

Caption Foto HL:
Pentas wayang kulit di bangsal makam Selo Kondho Binangun dengan dalang Ki Tomo Pandoyo. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *