Pepadi Solo Gelar Wayang Rutin, Menjaga Keabadian Seni Pedalangan

Spread the love

SOLO, POSKITA.co – Jelang revolusi industri five point zero (5.0) yang dituntut untuk memenuhi kekosongan kehidupan sosial, hubungan antar umat manusia, antar manusia dan Tuhan serta humanity center.

Persatuan Pedalangan Indonesia Solo gelar wayang rutin di Pendhapa Balaikota Surakarta dalam rangka silahturahim antar dalang dan memperkuat perkembangan wayang bagi anak bangsa kelak di kemudian hari.

Demikian yang diungkapkan oleh Ki Agung Sudarwanto anggota Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kota Surakarta, Minggu (31/3/2019).

Menurut dia, “Aja nganti kelangan obor”, budayane bangsa. Membudayakan wayang, wayang berbudaya di tengah gejolak zaman beserta tantangannya. Lakon wayang pada dasarnya penuh dengan pesan moral pembentukan budi pekerti dan karakter bangsa, menjaga keabadian wayang merupakan kerja bareng antara seniman sebagai penyaji, masyarakat sebagai penikmat dan “penanggap” serta pemerintah sebagai pengambil keputusan,” katanya.

Meskipun demikian, kehadiran PEPADI Surakarta akan selalu adakan evaluasi demi kehidupan pedalangan. “Jika ketiga unsur ini tidak saling mendukung dan tidak bersinergi. Wa Allahu A’lam … sumendhe jidharing pesthi, lakuning kodrat,” ungkap Agung Sudarwanto, guru SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo.

Nah, dalam pementasan Jumat, (29/3/2019) itu, dalang tampil satu per satu mulai dari Ki Sidik Suradi, M.Pd.

Malam itu, Ki Sarmadi Sabda Utama, S.Sn tampil memukau. Berikut ini sinopsis ceritanya:

Berawal dari akar permasalahan pecahnya Perang besar Sari kudhup palwaga adalah dari sebuah ego dan ambisi besar.

Dasamuka punya kepercayaan jika negara Alengka ditunggui singangsananya sang bathari Sri Widowati (dewi kemakmuran), maka akan terwujud negara yang makmur.

Dasamuka simbol seorang raja yg bekerja keras untuk kemuliaan rakyat, terbukti dengan lakon-lakon sebelumnya sampai menculik Shinta.

“Saya kira dalam sebuah negara harus ada “kawicaksanan” dan kekompakan dari atas sampai akar rumput. Juga mengutamakan musyawarah mufakat. Kalau tidak ya … akan terjadi runtuhnya sebuah negara sebesar apapun, di samping itu, katresnan juga bisa membutakan segala-galanya. Bukan cuma katresnan dengan wanita,” ujar Ki Sarmadi.

Menurut Sekretaris PEPADI Surakarta, Rudy Wirutama, penonton non undangan kemarin ternyata sudah lebih banyak dibandingkan bulan-bulan sebelumnya meskipun belum terlalu signifikan.

“Dengan keadaan seperti itu rasanya banyak potensi yang bisa diolah dari ajang yang diberikan pak Wali,’’ katanya, seperti dikutip dari Pegiat Seni Wayang, Jatmiko. (COSMAS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *