Seni Rupa Tradisi Sebagai Identitas bangsa

Spread the love

SOLO (Poskita)- Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) dan Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar kegiatan pameran Seni Rupa Tradisi di galeri Seni Rupa TBJT di Surakarta, 7-13 Agustus 2017. Pameran ini menampilkan karya-karya para empu seni rupa tradisi dari Solo dan sekitarnya, seperti maestro seni lukis wayang beber, Hermin Istiariningsih (Bu Ning Beber), Hajar Satoto (gamelan pamor), Nora Gunawan (batik tradisi), H. Ronggojati Sugiyatno (busana jawi), Bambang Suwarno (wayang kulit) dan Narimo yang karyanya topeng panji telah banyak tersebar di beberapa titik di kota Surakarta. Selain menampilkan karya para maestro tersebut, dalam pameran ini juga memamerkan produk batik dan gerabah dari Bayat Klaten.
Display pameran seni rupa tradisi ini berbeda dengan pameran seni rupa tradisi yang sudah-sudah. Putut H Pramono selaku kurator pameran ini telah mendisplay karya –karya yang ditampilkan dengan cukup menarik. Tidak hanya digantung atau diletakkan di meja seperti biasanya, tetapi ditata sedemikian rupa jadi menarik. Seperti karya Narimo, topeng panji yang dipamerkan ditata, ditempelkan di taing besi yang ditancapkan di atas lesung dengan taburan jerami. Atau karya wayang kulit dan gamelan pamor yang diletakkan di tengah ruang pamer, ditata berjejer dan di beri lampu blencong sehingga dapat dilihat dari berbagai sisi. Lain lagi dengan kain-kain batik yang diberi dudukkan dari bambu yang menarik imajinasi kita pada proses pembuatan batik tulis.
Pameran seni rupa tradisi ini adalah upaya pemerintah dalam melestarikan seni budaya asli Indonesia. Hal ini seperti pernyataan Direktur Kesenian Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, Restu Gunawan (7/8).
“Ini adalah bukti pemerintah hadir dalam upaya pelestarian seni tradisi dan budaya sebagai media pendidikan karakter bangsa. Melalui kegiatan ini kami berharap seni rupa, khususnya seni rupa tradisional dapat lestari dan tergali, sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda pada seni tradisi di daerahnya”.
Lebih dalam lagi, budayawan kota Solo, Narsen Afatara melihat pameran seni rupa tradisi ini akan memperjelas identitas bangsa. “ Kata kunci dari pameran ini adalah tradisi. Kata ini mengandung makna lokalitas, yaitu hasil lokal genius yang berbeda satu daerah yang satu dengan daerah lainnya. Sehingga bisa menjadi penanda dan identitas daerah tertentu. Lebih luas lagi identitas bangsa ini”, jelas Narsen (SAT 7/8).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *