Pengembangan Model Pembelajaran Interaktif Pelajaran Bahasa Jawa

Spread the love

Artikel Ilmiah Populer

Oleh: Mei Norhayati, S.Pd

Guru SDN 02 Jatiyoso, Kec. Jatiyoso Kab. Karanganyar

 

Model pembelajara interaktif adalah suatu pendekatan pembelajaran yang digunakan guru pada saat melaksanakan kegiatan pembelajaran, dimana guru menciptakan situasi interaktif yang edukatif, yakni interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber pembelajaran, agar siswa aktif membangun pengetahuannya dan diharapkan dapat menunjang tercapainya tujuan belajar.

Morgan (dalam Agus Suprijono, 2012:3) belajar adalah perubahan perilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman. Dalam proses mengajar seorang guru harus mengajark siswa untuk mendengarkan, menyajikan media yang dapat dilihat, memberi kesempatan untuk menulis dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan sehingga terjadi dialog kreatif yang menunjukkan proses belajar megnajar yang interaktif.

Pengembangan model pembelajaran interaktif dalam mata pelajaran Bahasa Jawa dapat dilakukan guru pada semua pokok bahasan, dengan syarat harus memperhatikan sembilan hal yakni: motivasi, pemusatan perhatian, latar belakang siswa dan konteksitas materi pelajaran, perbedaan individual siswa, belajar sambil bermain, belajar sambil bekerja, belajar menemukan dan memecahkan permasalahan serta hubungan sosial. Dalam proses kegiatan belajar mengajar yang interaktif, guru berperan sebagai pengajar, motivator, fasilitator, mediator, evaluator, pembimbing dan pembaru. Dengan demikian kedudukan siswa dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas melalui peran aktif, dimana aktifitasnya dapat diukur dari kegiatan memperhatikan, mencatat, bertanya menjawab, mengemukakan pendapat dan mengerjakan tugas, baik tugas kelompok maupun inividu. Dalam situasi belajar yang demikian siswa akan mendapatkan pengalaman yang berkesan, menyenangkan dan tidak membosankan.

Ahmad Sabari (2005;52) memaparkan tentang syarat-syarat yang harus diperhatikan oleh seorang guru dalam penggunaan model pembelajaran yaitu sebagai berikut:

  1. Model pembelajaran yang digunakan harus dapat membangkitkan motivasi, minat atau gairah belajar siswa.
  2. Model pembelajaran yang digunakan dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut, seperti melakukan interaksi dengan guru dan siswa lainnya.
  3. Model pembelajaran harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberikan tanggapannya terhadap materi yang disampaikan.
  4. Model pembelajaran harus dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian siswa.
  5. Model pembelajarn yang digunakan harus dapat mendidik ssiwa dalam tehnik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi.
  6. Model yang digunakan harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Ada empat alasan mengapa siswa harus dikembangkan kemampuan berpikir, yaitu :

  1. Kehidupan kita dewasa ini ditandai dengan abad informasi yang menuntut setiap orang untuk memiliki kemampuan dalam mencari, menyaring guna menentukan pilihan dan memanfaatkan informasi tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kehidupannya.
  2. Setiap orang senantiasa dihadapkan pada berbagai masalah dan ragam pilihan sehingga dituntut memiliki kemampuan berpikir krisis dan kreatif, karena masalah dapat terpecahkan dengan pemikiran seperti itu.
  3. Kemampuan memandang sesuatu hal dengan cara baru atau tidak konvensional merupakan keterampilan penting dalam memecahkan masalah
  4. Kreatifitas merupakan aspek penting dalam memecahkan masalah, mulai dari apa masalahnya, mengapa muncul masalah dan bagaimana cara pemecahannya.

Peran guru mempunyai hubungan erat dengan cara mengaktifkan siswa dalam belajar, terutama dalam proses pengembangan keterampilan. Menurut Balen (1993), pengembangan keterampilan tersebut yang harus dimiliki siswa adalah keterampilan berpikir, keterampilan sosial dan keterampilan praktis. Ketiga keterampilan tersebut dapat dikembangkan dalam situasi belajar mengajar yang interaktif antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. M. Uzer (1990), mengatakan bahwa pola interaksi optimal antara guru dan antara siswa dan siswa merupakan komunikasi multiarah yang sesuai dengan konsep siswa aktif. Sebagaimana yang dikehendaki para ahli dalam pendidikan modern, hal ini sulit terjadi pada mixed ability karena pada umumnya interaksi hanya terjadi antar siswa pandai dan guru. Agar siswa termotivasi dalam komunikasi multiarah, maka guru perlu memilih strategi pembelajaran yang menyenangkan.

Kegiatan belajar tidak ditekankan pada “hasil” tetapi pada “proses” belajar. Jadi yang lebih utama adalah menyusun strategi bagaiamana agar siswa memperoleh pengetahuan dengan cara “mengalami” bukan “menghafal”. Menurut Drost, SJ (1999), proses pembelajaran berjalan dengan baik dan lancar jika terjalin hubungan manusiawi antar guru dan siswa, hubungan persaudaraan antar siswa, situasi saling membantu, disiplin kerja, tanggung jawab, mitra dalam pelajaran, menolong, kerjasama yang erat, berbagai pengalaman, dan dialog reflektif antar pelajar. Hal tersebut sejalan dengan prinsip acceleratet learning yang dikutif dalam barokah (2002), menyatakan bahwa landasan sosial dalam belajar mutlak harus ada karena adanya kerjasama  akan membantu mempercepat belajar dan adanya persaingan akan memperlambat proses belajar.

Guru dalam proses mengajar yang interaktif dapat mengembangkan teknik bertannya efektif atau melakukan dialog kreatif dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa. Sifat pertanyaan dapat mengungkapkan sesuatu atau memiliki sifat inkuiri sehingga melalui pertanyaan yang diajukan, siswa dikembangkan kemampuannya kearah berpikir kreatif dalam menghadapi sesuatu. Beberapa komponen yang harus dikuasai oleh guru dalam menyampaikan pertanyaan yaitu pertanyaan harus mudah dimegerti oleh siswa, memberi acuan, pemusatan perhatian, pemindahan giliran dan penyebaran, pemberian waktu berpikir kepada siswa serta pemberian tuntutan. Sedangkan jenis pertanyaan untuk mengembangkan model dialog kreatif ada enam jenis yaitu : pertanyaan mengingat, mendeskripsikan, menjelaskan, sintetis, menilai dan pertanyaan terbuka. Untuk meningkatkan interaksi dalam proses belajar mengajar, guru hendaknya mengajukan pertanyaan terbuka. Untuk meningkatkan interaksi dalam proses belajar mengajar, guru hendaknnya mengajukan pertanyaan dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban dan menjadi dinding pemantul atas jawaban siswa. Dengan demikian, perbuatan, nilai-nilai, pengertian, sikap, apresiasi dan keterampilan serta perubahan pada perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja, namun juga kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia belajar baik berkenaan dengan intelektual dan sikap maupun yang berkenaan dengan keterampilan yang akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya, karena hasil belajar turut serta dalam membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik.

 

Editor: Cosmas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *