Inovasi Guru dalam Mentransformasikan Media Pembelajaran pada Masa Pandemi Covid-19

Spread the love

Artikel Ilmiah Populer

Feri Ekayanti, S.Pd
SDFeriN 03 Waru Kebakkramat Karanganyar

Semenjak pandemi Covid-19 merebak di Indonesia, menyebabkan dampak yang problematik di segala bidang. Termasuk berdampak pada bidang pendidikan. Tidak sedikit persoalan muncul menerpa para praktisi pendidikan di sekolah. Guru yang memiliki peran mulia dalam mendidik peserta didik pembelajaran daring. Ini perlu disesuaikan juga dengan jenjang pendidikan dalam kebutuhannya. Dampaknya akan menimbulkan tekanan fisik maupun psikis (mental).
Tuntutan untuk kreatif dalam mengantisipasi berhentinya proses pembelajaran tatap muka di kelas. Hal ini tentu tidak mudah. Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) yang diterbitkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dimana surat edaran ini menekankan bahwa proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan media daring (online). Artinya, proses belajar mengajar bagi peserta didik untuk sementara waktu dilakukan di rumah. Sekalipun demikian, peran guru sebagai pendidik tetap dilaksanakan dengan memanfaatkan media pembelajaran yang ada. Kreativitas mengajar menjadi bagian yang sangat penting dalam sistem pembelajaran daring pada masa Covid-19.
Kreativitas ialah kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas mengajar guru menjadi penting dalam menghadapi masalah Covid-19. Akan timbul masalah dalam pelaksanaan pembelajaran daring, jika kreativitas guru rendah. Guru Sekolah Dasar dalam menghadapi tantangan pandemi Covid-19, dituntut untuk memiliki kreativitas yang tinggi dalam sistem pembelajaran daring karena guru merupakan jabatan profesional yang terkait langsung di dalam dunia pendidikan dan berinteraksi dengan siswa dalam kesehariannya harus memiliki
kreativitas yang tinggi. Terlebih peran guru sebagai pendidik sekaligus pembimbing siswa dalam pembelajaran tidak dapat ditinggalkan. Guru mesti melakukan segala cara agar siswa dapat terlayani dengan baik.
Kondisi pandemi Covid-19 ini mengakibatkan perubahan yang luar biasa, termasukbidang pendidikan. Seolah seluruh jenjang pendidikan ‘dipaksa’ bertransformasi untuk beradaptasi secara tiba-tiba drastis untuk melakukan pembelajaran dari rumah melalui media daring (online). Ini tentu bukanlah hal yang mudah, karena belum sepenuhnya siap. Problematika dunia pendidikan yaitu belum seragamnya proses pembelajaran, baik standar maupun kualitas capaian pembelajaran yang diinginkan. Berbagai aplikasi media pembelajaran pun sudah tersedia, baik pemerintah maupun swasta. Pemerintah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 9/2018 tentang Pemanfaatan Rumah Belajar. Pihak swasta pun menyuguhkan bimbingan belajar online seperti ruang guru, Zenius, Klassku, Kahoot, dan lainnya. Akses-akses tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pengetahuan danwawasan. Sangat diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Melalui pendidikan, akan melahirkan generasi penerus yang cerdas intelektual maupun emosional, terampil, dan mandiri untuk mencapai pembangunan bangsa ini.Namun
muncul polemik masyarakat pada metamorfosa di masa pandemi Covid-19. Hal ini tentu dirasa berat oleh pendidik dan peserta didik. Terutama bagi pendidik, dituntut kreatif dalam penyampaian materi melalui media pembelajaran daring. Ini perlu disesuaikan juga dengan jenjang pendidikan dalam kebutuhannya. Dampaknya akan sehingga menghasilkan capaian pembelajaran yang tetap berkualitas. Belajar di rumah dengan menggunakan media daring mengharapkan orangtua sebagai role model dalam pendampingan belajar anak, dihadapi perubahan sikap. Masa pandemi Covid-19 ini bisa dikatakan sebagai sebuah peluang dalam dunia pendidikan, baik pemanfaatan teknologi seiring dengan industri 4.0, maupun orangtua
sebagai mentor. Harapannya, pasca-pandemi Covid-19, kita menjadi terbiasa dengan sistem saat ini sebagai budaya pembelajaran dalam pendidikan. Guru atau dosen bukan satu-satunya tonggak penentu. Ini tantangan berat bagi guru, dosen, maupun orangtua. Tak sedikit orangtua pun mengeluhkan media pembelajaran jarak jauh melalui daring (internet) ini.
Melalui pendidikan, akan melahirkan generasi penerus yang cerdas intelektual maupun emosional, terampil, dan mandiri untuk mencapai pembangunan bangsa ini. Namun muncul polemik masyarakat pada metamorfosa di masa pandemi Covid-19. Hal ini tentu dirasa berat oleh pendidik dan peserta didik. Terutama bagi pendidik, dituntut kreatif dalam penyampaian materi melalui media pembelajaran daring. Ini perlu disesuaikan juga dengan jenjang pendidikan dalam kebutuhannya. Dampaknya akan sehingga menghasilkan capaian pembelajaran yang tetap berkualitas. Belajar di rumah dengan menggunakan media daring mengharapkan orangtua sebagai role model dalam pendampingan belajar anak, dihadapi perubahan sikap.
Masa pandemi Covid-19 ini bisa dikatakan sebagai sebuah peluang dalam dunia pendidikan, baik pemanfaatan teknologi seiring dengan industri 4.0, maupun orangtua sebagai mentor. Harapannya, pasca-pandemi Covid-19, kita menjadi terbiasa dengan sistem saat ini sebagai budaya pembelajaran dalam pendidikan. Guru atau dosen bukan satu-satunya tonggak penentu. Ini tantangan berat bagi guru, dosen, maupun orangtua. Tak sedikit orangtua pun mengeluhkan media pembelajaran jarak jauh melalui daring (internet) ini.
Terutama anak usia dini hingga sekolah menengah belum merata ketersediaan fasilitas
teknologi sebagai media belajar mengajar di sekolah. Meskipun sebagian besar sudah mengenal digital, sisi operasionalnya belum diterapkan optimal dalam media pembelajaran. Bagi guru sekolah PAUD/TK, dituntut sesuatu yang menyenangkan dengan kreativitasnya. Fasilitas video, voice note, dan Youtube dapat dijadikan media pembelajaran. Namun perlu pendampingan penuh dari orangtua. Anak Sekolah Dasar (SD) juga menggunakan media-media tersebut yang ditambah dengan penggunaan aplikasi Zoom. Bukanlah hal yang mudah, karena anak belum bisa mengoperasikannya secara mandiri. Jenjang Sekolah Menengah dan Pendidikan Tinggi, ini membutuhkan inovasi dari pendidik agar peserta didik tidak jenuh, tanpa menghilangkan poin capaian pembelajaran. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menginisiasi program Belajar dari Rumah yang ditayangkan di TVRI. Program Belajar dari Rumah mulai tayang di TVRI sejak 13 April 2020, dimulai pukul 08.00. Pelaksanaan program ini merupakan kelanjutan dari langkah Kemdikbud menyediakan sarana yang bisa dipakai oleh para siswa/i untuk melaksanakan “Belajar dari Rumah” selama pandemi Covid-19. Program ini ditujukan kepada para siswa/i jenjang TK/PAUD, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Program Belajar dari Rumah di TVRI itu sebagai bentuk upaya Kemdikbud membantu terselenggaranya pendidikan bagi semua kalangan di masa darurat Covid-19. Khususnya membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan pada akses internet, secara ekonomi maupun letak geografis.
Saatnya guru berinovasi, kreatifitas guru mulai dikembangkan di masa pandemi Covid-19dalam pemberian tugas ke peserta didik. Jika sebelumnya sekolah adalah rumah kedua bagi anak, di tengah pandemi Covid-19 saat ini keadaan berbalik menjadi rumah sebagai sekolah untuk anak. Berubahnya tempat belajar di rumah berbuntut ramainya chat komunitas para orang tua siswa. Tidak sedikit terjadi perubahan warna konteks obrolan yang ramai menceritakan tentang pengalaman para orang tua dalam mendampingi proses belajar mengajar (PBM) daring atau online anak-anaknya.
Para orang tua mau tidak mau harus dapat menjadi guru bagi anaknya dan memfungsikan rumah sebagai tempat anaknya belajar dan menuntut ilmu. Para orang tua juga mau tidak mau saling berbagi tips dan pengalaman cara mendidik, membimbing dan melatih anak serta menjadikan seisi rumah sebagai teman bagi anak layaknya di sekolah. Di sini diperlukan strategi orang tua agar anak menjadi kreatif. Menjadikan rumah sebagai ruang belajar di masa darurat Covid-19 ini menjadi hal menantang bagi sejumlah orang tua. Lalu bagaimana cara orang tua dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di rumah agar anak tetap mampu mengembangkan kreatifitasnya? Bukan hanya sebagai pembimbing pengganti guru di kelas, orang tua juga dituntut memiliki strategi khusus untuk memecah kebosanan yang kerap melanda anak. Memang usia sekolah, terutama siswa Sekolah Dasar (SD) adalah usia anak bermain, tak jarang mereka menghabiskan waktu untuk bermain di rumah. Kebiasaan demikian tentu membutuhkan penyesuaian, dimana kini mereka harus fokus pada pelajaran pada jam-jam tertentu sesuai jadwal yang diberikan sekolah. Agar pembelajaran tidak monoton dan tidak membuat siswa stres, beberapa guru disarankan untuk membuat tugas di rumah dalam bentuk proyek atau memanfaatkan aplikasi pembelajaran secara daring. Berikut ini beberapa ide yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan kreatifitas anak bersama orang tua di rumah.
Guru dapat membuat pembelajaran berbasis proyek dengan membuat produk bermanfaat, sebaiknya dengan pemilihan alat bahannya dan wajib menggunakan yang tersedia di rumah. Jadi siswa tidak perlu keluar rumah dan merepotkan orang tua. Tugas tersebut dikirimkan lewat grup WhatsApp orang tua siswa. Contohnya menyiapkan tugas berbasis proyek yang harus dikerjakan siswa dalam dua pekan di rumah. Misalnya dalam minggu pertama siswa membuat hasil karya dari sendok plastik, sendok tersebut boleh diwarnai dan boleh dibuat berbagai macam bentuk. Guru memberi contoh bentuk pot bunga, siswa bersama orang tua diminta berkolaborasi mengembangkan kreatifitasnya mencari informasi di Internet dan mencari contoh di Youtube dalam pembuatannya.
Contoh sederhana lagiyang dapat dilakukan oleh guru Sekolah Dasar dalam memberikan materi pembelajaran bagi siswa di rumah adalah mengirimkan cerita-cerita pendek bergambar atau video. Cerita pendek bergambar atau video yang dimaksud tentu berisi nilai-nilai kebenaran Alquran. Melalui nilai-nilai tersebut, kebutuhan siswa akan dapat terpenuhi. Tentu ada banyak contoh lain yang dapat guru lakukan dalam menyampaikan materi pembelajaran Sekolah Dasar bagi siswa selama belajar di rumah. Sistem pembelajaran dapat dilaksanakan melalui perangkat personal computer (PC) atau laptop yang terhubung dengan koneksi jaringan internet. Guru dapat melakukan pembelajaran bersama di waktu yang sama menggunakan grup di media sosial seperti WhatsApp (WA), telegram, instagram, aplikasi zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran. Dengan demikian, guru dapat memastikan peserta didik mengikuti pembelajaran dalam waktu bersamaan meskipun di tempat yang berbeda. Guru pun dapat memberi tugas terukur sesuai dengan tujuan materi yang disampaikan kepada peserta didik. Kreativitas guru dalam memilih media dan metode mengajar pada masa pandemi Covid-19 adalah sangat penting. Memilih dan menetapkan metode pembelajaran sama artinya dengan memilih dan menetapkan tujuan pembelajaran, sebab metode memiliki signifikansi fungsional yang kuat dan terarah dengan tujuan pembelajaran. Untuk itu, kreativitas guru dalam memilih media dan metode pembelajaran daring menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan dalam mengatasi tantangan guru dalam mengajar di masa Covid-19.
Tantangan atau kesulitan guru Sekolah Dasar dan siswa dalam sistem pembelajaran daring merupakan bagian dari dinamika pendidikan masa Covid-19. Guru sebagai kunci keberhasilan pembelajaran, berupaya untuk meningkatkan kreativitas dalam mengajar. Dalam menghadapi permasalahan pembelajaran daring, guru perlu meningkatkan kreativitas. Kreativitas tersebut berkaitan dengan kemampuan guru dalam menciptakan perubahan-perubahan model pengajaran, kemampuan guru melakukan pembenahan-pembenahan kelemahan prosedur atau tahapan pengajaran, kemampuan guru untuk mengeksplorasi (mencari) ide-ide baru, kemampuan guru dalam memanfaatkan kamajuan media teknologi serta berbagai kemampuan lain yang signifikan dengan kategori guru yang kreatif. Kreativitas mengajar guru yang semakin meningkat diharapkan dapat menjadi solusi pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Ide-ide kreatif diperlukan dalam mengembangkan sistem pembelajaran daring bagi siswa selama belajar di rumah. Untuk itu, sebagai guru diharapkan dapat terus mengembangkan diri dan berupaya untuk terus meningkatkan daya kreativitas dalam mengajar selama pandemi Covid-19 belum berakhir.

Editor: cosmas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *