Sruti Respati Menutup SIPA 2020

Spread the love

SOLO, poskita.co – Solo International Performing Art (SIPA) 2020 telah memasuki hari terakhir. Acara yang diselenggarakan dari tanggal 10-12 September 2020 secara live streaming tersebut telah menyajikan 25 karya seniman dalam negeri maupun luar ngeri dan telah ditonton lebih dari 44.000 orang di Youtube Channel: SIPA Festival.

Pengambilan live streaming di gedung Teater Murtidjono Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Jebres, Surakarta, di hari terakhir (12/9),  diawali pertunjukan Cristina Duque (Kolaborasi Ecuador-Indonesia) menampilkan “Feeling The Present”, sebuah tarian tentang kehidupan dan bagaimana mendapatkan cara lain untuk semangat dan merasa tenang, dengan tampilan secara virtual. Para penampil dalam negeri adalah WaJiwa (Bandung) melalui karya “Ibu Anak Cigantiri”, menceritakan kampung yang hilang dan berubah menjadi kota.

Sanggar Pesona Rumpun Pesisir Bencoolen (Bengkulu) menampilkan sebuah karya berjudul “Tabik Beredok”. Jamaluddin Latif (Yogyakarta) dengan karya “Babad Dermayu” yang menceritakan asal-usul berdirinya Daerah Indramayu. Ensambel Stone (Sragen) Menggambarkan “Sidhem Manekung” sebagai suatu aktivitas doa dalam keheningan atas rasa syukur dan harapan manusia terhadap Tuhan, dan lain sebagainya. Sedangkan delegasi dari Karanganyar, Enno Dance  menyajikan karya berjudul “WOMB” secara langsung di studio.

Sedangkan delegasi luar negeri yang ikut serta memeriahkan hari terakhir pelaksanaan SIPA tahun ini adalah Cina, Malaysia, Taiwan, Korea, hingga Ecuador turut menyuguhkan sajian khasnya secara virtual. Maskot SIPA 2010 sekaligus seniman keroncong asli Solo, Sruti Respati kembali menjejaki panggung SIPA sebagai penampil penutup.

Persiapan untuk di SIPA ini cukup lama, untuk komunikasi dengan panitia SIPA kurang lebih tiga bulan, jadi memang sudah kita persiapkan untuk ketemu dengan teman-teman musisi memang cukup singkat, kurang dari satu minggu juga. Karena kita mempunyai kesibukan masing-masing dan tentunya sesuai protokoler kesehatan, jadi kita mengutamakan kesehatan, lanjutnya.

“Di tahun 2020 ini saya kembali ke rumah saya, yaitu SIPA. Seperti halnya orang yang bekerja merantau, ketika kembali ke rumah tentu ada perasaan suka cita, perasaan bahagia,” ungkapnya.

Sruti juga berharap, SIPA di masa depan dapat menjadi rumah dan ruang bagi seniman-seniman lain untuk menyalurkan ide kreatifnya dan menjadi alternatif suguhan dunia. Sruti membawakan dua buah lagu berjudul Hujan Pagi dan Aku Melihat Indonesia secara live di studio.(aryadi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *