Peningkatan Life Skills Melalui Active Learning

Spread the love

Esi Sumarsih SPd MPd

Guru Kelas IV

SD Negeri I Kasihan Ngadirojo Wonogiri

 

Esi Sumarsih              foto: istimewa

Aplikasi metode pembelajaran aktif dewasa ini masih berkembang sebatas wacana, dan pada prakteknya banyak menemui hambatan, sehingga belum dapat diimplementasikan secara optimal. Salah satu hal yang menyebabkan kendala dalam aplikasi belajar aktif adalah tidak adanya model yang kontekstual, aplikatif, dan mudah diakses guru.

Panduan model pembelajaran yang ada masih bersifat teoritis dan belum mencakup operasionalisasi pelaksanaan proses belajar dan mengajar. Banyak guru tidak tahu bagaimana teknik yang tepat untuk menyampaikan suatu materi pelajaran dengan menggunakan belajar aktif. Selain itu, model pembelajaran yang dilaksanakan belum melatih life skill siswa.

Hal itu juga yang penulis rasakan sebagai guru yang juga mengampu pembelajaran sain di kelas IV SD Negeri I Kasihan Ngadirojo, Wonogiri. Seringkali pembelajaran sains hanya dilakukan secara konvensional. Tanpa memberi pengalaman siswa agar berbuat secara aktif dalam belajar sehingga siswa sering merasa jenuh. Tidak mengangap penting materi yang dipelajarinya, dan mudah untuk melupakannya. Untuk itu, penulis berupaya menerapkan pembelajaran active learning demi meningkatka life skill anak didiknya.

Pembelajaran aktif merupakan pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif dan menjadi pusat pembelajaran (Sumar & Razak, 2016). Belajar aktif pada umumnya merujuk kepada aktivitas pembelajar yang melibatkan peserta didik melakukan berbagai hal dan berpikir tentang apa yang dilakukan (student centered) (Baedowi, 2012).

Tetapi belajar aktif bukan hanya seperangkat kegiatan namun lebih ke arah suatu sikap yang mesti diambil baik oleh peserta didik, guru maupun sekolah untuk menjadikan pembelajaran efektif. Active learning merupakan istilah yang menunjukkan kegiatan belajar dimana siswa secara mental terlibat dalam suatu tugas (Kumara, 2004).

Sejalan dengan pandangan teori kognitif, active learning juga berpandangan bahwa yang menjadi fokus dalam belajar adalah aktivitas mental mahasiswa. Dapat dikatakan bahwa pembelajaran active learning merupakan pembelajaran yang memegang peranan utama adalah aktivitas kognitif siswa.

Model pembelajaran active learning membuktikan bahwa model ini mampu menfasilitasi munculnya perilaku life skills atau keterampilan hidup. Sayangnya, kajian ini belum terimplementasi dalam dunia pendidikan. Kemampuan life skills kurang dilatihkan kepada siswa, akibatnya banyak siswa hanya jago hafal, pandai secara pengetahuan kognitif. Sehingga siswa tidak mempunyai keterampilan hidup seperti kemandirian, kepercayaan diri, keberanian, tanggung jawab, dan kepemimpinan, serta kemampuan pengamatan lingkungan sekitar baik fisik maupun peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar.

Dalam penerapannya, penulis mengarahkan siswa untuk  melakukan banyak aktivitas, memecahkan masalah, mengaplikasikan apa yang dipelajari, mengemukakan pendapat, menyenangkan, suportif, ada kerja kelompok, ada diskusi, debat, dan tanya jawab, peer educating, kegiatan konkret, aktivitas berbasis pengalaman.

Aktivitas life skill yang diharapkan meningkat adalah keterampilan hidup seperti kemandirian, kepercayaan diri, keberanian, tanggung jawab, kepemimpinan dan kemampuan melakukan pengamatan lingkungan sekitar.

Salah satu jenis pembelajaran kontekstual dan pembelajaran “living skill”  yang penulis terapkan dalam mata pelajaran sain/IPA adalah menggunakan contoh daur hidup yang sempurna seperti ulat sebagai contoh metamorforsis sempurna, selanjutnya pelajaran “living skill” yang dilatihkan adalah kemampuan mengamati, mengorganisir data, mensistematisir, menganalisis serta melaporkannya dalam bentuk bagan, tabel, disamping itu mengkaitkan dengan ajaran agama.

Dengan menerapkan active learning dalam pembelajaran IPA, penulis meyakini dapat meningkatkan life skill siswa. Pendidikan life skill sebagai pendidikan dapat memberikan bekal keterampilan yang praktis, terpakai, terkait dengan kebutuhan pasar kerja, peluang usaha dan potensi ekonomi atau industri yang ada di masyarakat.

Pendidikan life skill memiliki cakupan yang luas, berinteraksi antara pengetahuan yang diyakini sebagai unsur penting untuk hidup lebih mandiri. Pendidikan life skill mengacu pada berbagai ragam kemampuan yang diperlukan seseorang untuk menempuh kehidupan dengan sukses, berbahagia dan bermartabat di masyarakat. foto ilustrasi: sekolahdasar.net

 

Editor: Cosmas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *