Covid-19 Melonjak, Beberapa Negara Lockdown Lagi

Spread the love

Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus

 

POSKITA.CO

Peningkatan kasus virus corona di seluruh dunia mendorong pihak berwenang di beberapa negara, termasuk India dan Amerika, memberlakukan kembali lockdown, sementara Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pandemi itu “masih jauh dari tuntas.”

“Umumnya orang tetap rentan. Virus ini masih leluasa bergerak,” ujar Ghebreyesus hari Senin (29/6) dalam pengarahan singkat di Jenewa.

India hari Senin melaporkan hampir 20.000 tambahan kasus, rekor dalam satu hari yang dikonfirmasi. Negara itu berada di belakang Amerika, Brazil, dan Rusia dalam total kasus sejak pandemi dimulai akhir tahun lalu di China.

 

Sebagian dari negara bagian Assam telah memberlakukan kembali lockdown sampai 12 Juli, sementara Bengali Barat memperpanjang pembatasannya sampai akhir Juli.

Di Amerika, Florida, Texas, California, dan Arizona adalah empat negara bagian yang mengalami peningkatan kasus.

Gubernur Florida Ron DeSantis, Minggu (28/6), mengumumkan, dia menutup kembali pantai Florida, dan menuduh orang-orang muda tidak patuh pada peraturan mengenakan masker serta mempraktikkan aturan menjaga jarak aman (social distancing).

Pejabat Florida juga menghentikan konsumsi alkohol di bar-bar.

Gubernur Texas dan California juga menutup bar-bar di negara bagian mereka. Gubernur Texas Greg Abbott mengatakan, “Covid-19 telah berubah cepat dan sangat berbahaya di Texas dalam beberapa minggu terakhir ini.”

Jacksonville, Florida, dimana Partai Republik merencanakan akan menyelenggarakan konvensinya pada Agustus, Senin (29/6), mengumumkan, ketentuan untuk mengenakan masker di semua tempat publik.

Di California, Gubernur Gavin Newsom telah menutup kembali bar-bar dan kafe-kafe di tujuh county.

Di seluruh AS, tercatat lebih dari 35 ribu kasus baru selama enam hari berturut-turut

Menurut Johns Hopkins University jumlah kasus global hampir 10,2 juta dan jumlah kematian hampir 503 ribu.

Banyak pakar kesehatan mengatakan jumlah kasus di dunia mungkin jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan karena kurangnya pengetesan dan adanya pengidap virus yang tidak menunjukkan gejala.[ka/lt/jm]  Sumber: voaindonesia.com

COS/* 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *