Kegiatan Infak Jumat Tumbuhkan Rasa Sosial  Anak Usia Dini

Spread the love

oleh: Hartono, S.Pd

Guru TK Aisyiyah 02 Pati

 

Pendidikan anak usia dini adalah merupakan pondasi bagi dasar perkembangan anak di masa yang akan datang. Anak yang mendapat bimbingan, pembinaan dan rangsangan sejak dini akan meningkatkan kesehatan perkembangan fisik dan mental yang akan berdampak pada kesiapan belajar. Pada  akhirnya anak akan mampu untuk mandiri dan mengoptimalkan potensi yang di milikinya.

Anak mempunyai karakter yang khas dan unik, baik secara fisik maupun mental. Oleh karena itu, strategi dan metode pengajaran yang diterapkan harus sesuai dengan kekhasan anak yaitu; dengan strategi Belajar sambil bermain, dengan bermain anak merasa senang dan memperoleh pengalaman dan pengetahuan sehingga anak bisa berekspresi dengan berbagai cara.

Melalui kegiatan berekspresi tersebut, baik dalam bentuk hasil karya cetak maupun bentuk perilaku sesungguhnya memupuk dan mengembangkan sikap dan perilaku kreatif. Aktivitas bermain bagi seorang anak memiliki peranan yang cukup besar dalam mengembangkan kecakapan sosialnya.

Soetarno (1989) berpendapat bahwa ada dua faktor utama yang memengaruhi perkembangan anak, yaitu faktor lingkungan keluarga dan faktor dari luar rumah atau luar keluarga. Kedua faktor tersebut di lengkapi oleh Hurlock (1978) dengan faktor ke tiga yaitu faktor pengalaman awal yang di terima anak. Dengan kata lain ketiga faktor tersebut akan berpengaruh terhadap rasa sosial anak di masa yang akan datang.

Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan sosisal anak, sehingga apabila seorang anak dari keluarga yang latar belakang berbeda maka rasa sosialnya pun berbeda. Sering kita lihat anak-anak suka jajan, beli mainan, bahkan orang tua pun tidak peduli dengan orang lain yang meminta-minta di sekitarnya.

Karena rasa  kasih sayang pada anak kadang memberi uang jajan yang lebih pada anaknya, berdasarkan pengalaman kalau anak diminta memberikan haknya pada temannya, anak tersebut justru menentang dan marah–marah, menangis bahkan mereka bergerak dengan tiga T yaitu; Tinju, Tendang, Tampar.

Dengan adanya hal tersebut perlu kiranya bagi kita untuk mencari solusi agar anak peduli dengan orang lain atau timbul rasa sosial pada  sesama. Solusi terbaik agar anak mampu menggerakkan hati untuk berbagi, menanamkan rasa sosial dan setia kawan, dan berbagi dengan senang hati adalah dengan cara belajar dengan anak lain, dan juga dari orang tua dan guru sehingga ketrampilan-ketrampilan sosial merupakan keuntungan yang besar dari pengalaman tersebut.  Belajar bergaul dengan orang lain memiliki suatu efek yang menetukan terhadap perilaku di rumah, perkembangan kepribadian, dan keberhasilan sekolah selanjutnya, anak akan belajar dari siapapun yang kontak dengan dirinya  (Solehuddin, 1997)

Dengan adanya pengalaman tersebut di atas maka solusi yang tepat adalah mengajari anak untuk berbagi/infak setiap hari Jum’at. Adapun tujuan dari infak/berbagi adalah; menanamkan rasa syukur sejak dini dan mengembangkan asfek sosial emosiaonal pada anak, rasa peduli dengan orang lain,  melatih anak untuk hidup tidak boros/tidak jajan sembarangan, peduli lingkungan dan respon terhadap situasi yang ada.

Adapun langkah-langkah yang digunakan agar anak merasa  senang untuk berbagi/infak dengan orang lain adalah:

Berikan cerita keagamaan tentang Indahnya bebagi. Tunjukkan gambar orang-orang yang yang hidupnya susah/kena musibah. Ajaklah anak–anak ke tempat panti-panti jompo, fakir miskin, panti asuhan, dengan melihat secara langsung anak akan tersentuh hatinya, sehingga keinginan berinfak/berbagi semakin besar.

Pembelajaran dengan cara melihat langsung situasi seperti inilah akan meningkatkan rasa sosial yang tinggi bagi anak dan nantinya akan menjadi anak yang suka menolong dan peduli sesama. Karena dengan pengalaman yang dialami dengan melihat langsung maka anak mersa senang ber infak tidak ada paksaan dalam diri anak.

Langkah selanjutnya guru menyediakan kotak amal yang berupa kaleng atau kotak di dalam kelas setiap hari Jum’at, kita tawarkan pada anak, siapa  yang mau berbagi/infak hari ini. Jangan paksa bagi anak yang tidak berinfak, lalu kita jelaskan keutamaan berinfak/berbagi dan apa tujuannya berinfak tersebut.

Dengan demikian  dengan sendirinya anak–anak akan senang berbagi sehingga rasa sosial emosional tertanam, moral agama, kognitif dan semua aspek perkembangan yang lain akan tertanam pada diri anak .

Dengan terkumpulnya uang infak maka kita bisa agendakan 1,2,3, bulan sekali kita merencanakan untuk menyalurkan bantuan tersebut. Lihat situasi di sekitar sekolah siapa kira–kira yang akan dibantu, tawarkan pada orang tua barang kali ada di antara mereka  yang butuh bantuan, ke Panti asuhan atau kemana saja yg membutuhkan.

Dalam penyaluran dana tersebut anak di ajak atau dilibatkan sehingga anak merasa senang, anak merasa bahwa dirinya berguna bagi orang lain, serta menjadi anak yang tangguh dan bersyukur pada Alloh Tuhan yang Maha Esa bahwa dirinya masih bisa membantu orang lain.

Dari uraian di atas  dapat kita simpulkan dengan pengalaman apa yang pernah dilakukan anak tanpa paksaan akan berhasil dan tertanam di dalam hati yang paling dalam. Mari kita buat pembelajaran yang menyenangkan bagi anak, berpusat pada anak, dan kita ciptakan lingkungan yang nyaman sehingga anak dalam mengikuti pembelajaran merasa senang dan berhasil sesuai dengan apa yang kita harapkan. Foto ilustrasi: ebookanak.com

 

Editor: Cosmas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *