Belajar Mandiri Sejak Usia Dini

Spread the love

Oleh: Thoyib  SPd

SD Negeri Gilirejo 2 Miri, Sragen

 

Biarkan anak berjuang sendiri untuk keluar dari “ KEPOMPONG”nya . Ada sebuah kisah tentang seekor kupu-kupu yang hendak keluar dari kepompongnya. Dia berusaha dan terus berusaha. Tiba-tiba datanglah seorang anak dan melihat kepompong tersebut. Karena merasa iba, sang anak mengambil gunting dan membantu kepompong tersebut. Apa yang terjadi selanjutnya? Ya, Kupu-kupu tersebut dapat keluar dari kepompong, tapi sayapnya rapuh. Semakin lama kupu-kupu tersebut melemah hingga akhirnya mati.

Dari ilustrasi singkat di atas, untuk menggambarkan bagaimana orang tua membentuk kemandirian anak. Anak diibaratkan seekor kupu-kupu yang sedang berusaha keluar dari kepompongnya. Sedangkan orang tua diibaratkan sebagai anak yang membantu kupu-kupu tersebut.

Sebenarnya, anak-anak sangat  ingin membangun kemandirian sejak dini. Perhatikan saja anak-anak kecil, kadang ingin membantu menyapu, ingin membantu mengelap meja, ingin membantu mengatur tempat tidur, bahkan mencuci piring. Namun kadang kita menganggap mereka belum mampu, malahan membuat pekerjaan menjadi kurang sempurna dan lebih lama.

Banyak contoh kemandirian bisa kita dapatkan dari kisah Ki Hajar Dewantara, ketika mendirikan Perguruan Tamansiswa pada tanggal 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik, agar mencintai bangsa dan tanah airnya, serta berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.

Di usia 40 tahun, pria bernama lengkap Raden Mas Soewardi Suryaningrat itu mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara dan tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanannya. Ki ialah panggilan untuk orang tua yang dihormati dan diteladani. Hajar berarti guru dan Antara ialah dewa penghubung  bumi dengan dunia yang lebih tinggi.

Latih kemandirian anak sejak usia dini. Kemandirian menjadi investasi jangka panjang hingga anak tumbuh menjadi dewasa. Namun untuk menerapkannya diperlukan latihan sejak dini dan kesabaran yang ekstra. Saat kecil, tidak akan ada masalah yang sangat berarti apabila para orangtua membantu mereka untuk mengerjakan pekerjaan atau membantu menyelesaikan urusannya. Akan tetapi saat dewasa mereka haruslah mampu dan berani menghadapi, menyelesaikan urusannya sendiri. Anak yang mandiri pada umumnya akan lebih kuat dalam menghadapi permasalahan kehidupan.

Seiring pertumbuhan si kecil, ada beberapa hal yang dapat mulai dilakukannya sendiri. Salah satunya adalah menyiapkan bekal makan siang. Kegiatan sederhana ini dinilai memiliki dampak positif bagi kemandirian anak. Pendapat itu dikemukakakn oleh ahli dari American Academy of Pediatrics, Damon Korb. Dalam bukunya yang berjudul Raising an Organized Child, saat sudah tiba waktunya, maka orang tua harus menyerahkan beberapa tugas kepada anak itu sendiri.

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari memiliki anak yang mandiri, antara lain:

  1. Anak-anak akan siap menjalani hidup.

Kemandirian yang dimiliki anak akan menjadi bekal dan kekuatan bagi mereka dalam menghadapi berbagai masalah yang akan terjadi, selama menjalani hidup bermasyarakat maupun sebagai mahluk individu.

  1. Menjaga harga diri anak.

Sikap mandiri dan idak menggantungkan diri kepada orang lain adalah sikap yang baik, merupakan cita-cita dari kebanyakan orang. Tentunya, hal ini akan meningkatkan harga diri dari orang yang bersangkutan.

  1. Sikap mandiri yang dimiliki anak akan menjadi sikap dasar orang-orang sukses.

Sikap mandiri yang ditanamkan pada anak sejak dini memiliki arti bahwa para orangtua sedang menyiapkan anak-anak untuk sukses setelah dewasa. Pasalnya, tidak ada orang sukses yang selalu bergantung kepada orang lain untuk membantunya atau menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

 

Adapun tips untuk membangun kemandirian anak yang terbaik bagi orang tua adalah melatih anak agar mandiri sejak dini, yaitu :

1. Orang tua harus bersikap sabar dalam menghadapi anak yang sedang berproses menuju kemandirian. Kemandirian seorang anak tidak didapatkan secara instan. Namun, kemandirian didapat dari proses yang membutuhkan latihan dalam waktu yang sering kali tidak sebentar. Itulah sebabnya orang tua harus memiliki rasa sabar dalam melatih anaknya menuju kemandirian.

2. Menyediakan waktu yang cukup bagi anak dalam berusaha untuk melakukan pekerjaannya sendiri. Jika akan berangkat sekolah pukul 08:00 maka sebaiknya orang tua meminta anak memakai sepatu pukul 07:30.

3. Perlu rasa tega orangtua dalam melihat anaknya melakukan pekerjaannya sendiri. Teganya orangtua tidak serta merta hilangnya rasa sayang kepada anak. Justru sebaliknya, rasa sayang tersebut diungkapkan dengan cara mendidik anak untuk melakukan pekerjaannya sendiri demi membangun pribadi anak mandiri.

4. Bantu anak dengan secara minimal. Jika anak benar-benar tidak bisa melakukan pekerjaannya sendiri, maka orangtua dapat memberikan informasi bahwa ayah atau ibu akan membantu memakaikan baju dan anak dapat mencoba memakai celananya sendiri.

5. Memberi teladan dengan menjadi orangtua yang mandiri kepada anak-anaknya. Orangtua dapat mengajarkan kemandirian mulai dari awal bangun tidur, merapikan tempat tidur, mengambil makan dan minum sendiri, dan lain-lain.

6. Memberikan apresiasi dan penghargaan kepada anak yang mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Dengan ucapan terima kasih dibarengi ciuman dan pelukan kepada anak atau hal lain yang sesuai dengan kemampuan orangtua.

Editor: Cosmas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *