Obituari Ibunda Jokowi: Rintis Furniture, Digusur, Berpindah-pindah Rumah…

Spread the love

Oleh: Cosmas Gun

Orang biasa,  penikmat buku Jokowi dari Bantaran Kalianyar ke Istana

 

Kisah perjuangan dimulai ketika  kedua orangtua Joko Widodo (Jokowi) setelah menikah. Kedua orantua Jokowi, Pak Notomihardjo dan Ibu Sujiatmi yang berasal dari desa, berpindah ke kota Solo, di bantaran Sungai Kalianyar.

“Kehidupan kedua orangtua Jokowi di awal pernikahannya tidaklah mudah karena mereka harus menghadapi berbagai bentuk kesulitan ekonomi dan perjuangan untuk kelangsungan hidup. Dari cerita dan kesaksian yang berkembang, orangtua Jokowi harus berpindah dari satu bantaran sungai ke bantaran sungai lainnya akibat penggusuran, di tengah upaya mereka merintis dari usaha perdagangan kayu dan pembuatan furnitur.

Di tengah kesulitan tersebut, keduanya harus membesarkan dan terutama memenuhi kebutuhan pendidikan Jokowi dan adik-adiknya. Perjuangan mengatasi kesulitan hidup yang dihadapi orangtua Jokowi merupakan gambaran perjuangan ribuan keluarga miskin lainnya di Solo pada era 1960-1980-an dalam mempertahankan kehidupan mereka,” kata penulis buku Jokowi, dari Bantaran Kalianyar ke Istana, Mobilitas Vertikal Keluarga Jawa, Akhmad Ramdhon  dan Wawan Mas’udi.

Kala itu, bedah buku  yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama,   di Omah Sinten, dengan dihadiri keluarga besar Joko Widodo, relawan, dan wartawan, termasuk media Poskita.co.

Kedua orangtua Jokowi berasal dari kawasan pedesaan di sebelah barat laut dan timur  laut kota Solo. Keluarga ibunya berasal dari pedukuhan miskin Gumukrejo Kabupaten Boyolali, yang sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian dengan sistem tadah hujan dan sebagian kecil bekerja di sektor kerajinan kayu. Sedangkan keluarga bapaknya berasal dari Desa Kragan, Kabupaten Karanganyar, yang terletak di sisi barat Bengawan Solo.

Di garis ibu, kakek Jokowi, Mbah Wiro, adalah pedagang kayudan bambu dari pedukuhan miskin di Kabupaten Boyolali. Bagi masyarakat Jawa kebanyakan, berdagang bukanlah pilihan pekerjaan yang umum dilakukan.

“Dari jalur ibu, Jokowi mewarisi karakter kewirausahaan yang kuat dan jiwa solidaritas sosial tinggi,” kata Ramdhon dan Wawan dikutip dari bukunya.

Perdagangan kayu menjadi etos kakek nenek Jokowi, yang kemudian menurun pada orangtua Jokowi dan kemudikan ke Jokowi sendiri.  Sebgaimana diketahui, sebelum masuk dalam arena kepemimpinan politik, Jokowi dikenak sebagai pengusaha dan pedagang furniture.

Kedua orangtua Jokowi adalah bagian dari rakyat kebanyakan yang berasal dari daerah pedesaan di utara Solo. Keduanya bermigrasi ke Kota Solo dan memiliki nyali kuat untuk berjuang masuk kedalam struktur herarkis sosial-ekonomi perkotaan yang pada masa itu didominasi oleh elite keraton, pedagagn keturunan Thionghoa, pedagang keturunan Arab dan saudagar Batik Laweyan.

Bagi kedua orangtua Jokowi, berjuang hidup di daerah perkotaan dengan struktur sosial-ekonomi, hierarkis dan didominasi oleh elite tertentu tidaklah mudah.

Meskipun dari berasal dari kelompok masyarakat kebanyakan, latar belakang keluarga Pak Noto dan Ibu Sujiatmi secara ekonomi bisa dikatakan mapan dan berada untuk ukuran saat itu (h.28).

Pak Noto adalah anak sulung Mbak Lamidi Wiryomihardjo, seorang lurah di Desa Kragan, Kabupaten Karanganyar. Perpindahan Pak Noto ke kota Solo dengan masa depan yang belum pasti menunjukkan semangat merantau dan keberanian untuk memulai kehidupan  secara mandiri, terlepas dari ketergantungan pada orangtua.

Bu Sujiatmi adalah anak Mbak Wirorejo, pedagang kayu dan arang  dari pedukhan Gumukrejo, di Kabupaten Boyolali. Sejak muda, Sujiatmi sudah belajar berusaha dengan membantu usaha orangtuanya dengan berjualan kayu dan arang di daerah Srambatan, wilayah di utara Kota Solo.

Pak Noto dan Bu Sujiatmi menikah pada 1959. Sesudah menikah, memilih untuk bertempat tinggal di Kampung Srambatan, Solo Utara. Pemilihan tempat tinggal ini adalah kedekatan dengan tempat usaha Mbah Wiro yang memiliki usaha perdagangan kayu di wilayah tersebut. Pasangan ini bisa membantu usaha Mbah Wiro.

Dalam perkembangannya, putra sulungnya (kakak Bu Sujiatmi), Miyono (biasa disebut Pakde Miyono), yang aktif mengembangkan usaha perdagangan kayu tersebut.

Terima kasih Mas Wawan Mas’udi dan Akhmad Ramdhon, penulis buku Jokowi dari Bantaran Kalianyar ke Istana.  Telah kau goreskan tinta sejarah di Republik ini.

Foto: Pak Noto dan Bu Sujiatmi, 1970-1980-an, sumber koleksi keluarga, dari buku Jokowi dari Bantaran Kalianyar ke Istana.)

(*)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *