OPERET CITA SUTA: Kisah Pergolakan Hati Anak Saat Menuntut Ilmu

Spread the love

SOLO, POSKITA.co

“Ini adalah tentang kami…

Yang pernah takut, resah, gelisah karena dituntut ilmu. 

Tetapi kami tidak sendiri.

Karena ada kamu, temanku, sahabatku, ilmuku.

Ilmu adalah kamu.

Ilmu adalah aku.”

Demikian inti pementasan Operet Cita Suta karya Wasi Bantolo, dengan sutradara musik dan lagu hasil duet Putu Indrati dan Wasi Bantolo, dibawah penata musik Stefanus Rio Murti Prakoso, di Teater Besar ISI Surakarta, Kamis (9/1/2020). Acara ini merupakan perayaan Natal bersama antara Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan UNS Solo.

Menurut Wasi Bantolo, Cita Suta hasil kolaborasi anak-anak Koor Anak Purbayan, SD Pangudi Luhur St Timotius Surakarta, Wanya Bala Art Community, anak-anak disabilitas SLBA YKAB, SLB Cangakan dan ISI Surakarta. Hasilnya sebuah karya operet yang berlagu, bermusik dan bergerak menjadi sebuah operet anak Cita Suta.

Berikut salah satu lirik lagu Cita Suta by Wasi Bantolo & Putu Indrati, dinyanyikan oleh Koor Anak Purbayan:

Tangis tawamu saat ada

Disambut hening gempita semesta

Hadirmu membawa bahagia

Entah jadi apa dan siapa

Gerakan dunia jiwamu

Menarikan sesamamu merdu

Kibaskan

Lambaikan

Lantunkan hidupmu

Terbangkan hati tinggi di awan

Ingat bumi berpijak

Menyelamlah sedalam langit

Terbanglah setinggi lautan

Dalam pengamatan Poskita.co, Cita Suta, sepotong kisah perjalanan dan pergulatan hidup anak-anak dalam menggapai ilmu, cita-cita, harapan. Dalam dunia pendidikan, anak-anak dituntut untuk belajar dan belajar, menghapal rumus-rumus, menguasai berbagai mata pelajaran. Akibatnya, anak-anak kehilangan dunia bermain. Maka, ada anak yang hanya suka belajar, tapi sebagian anak rindu akan teman bermain.

Pertentangan batin inilah menjadi pertunjukan operet yang bagus.  Di bawah penata gerak Damasius Chrismas, Dea Putri, Galuh Puspitasari, Grace Santoso, Maharani L Dewi, Nandhang Wisnu  dan Resta Martha, anak-anak berhasil mengeskpresikan kejenuhan, kebosanan, kegelisahan,bermain, dalam wujud olah gerak dan komposisi yang menawan. Apalagi didukung quintet ensemble music oleh Leon Gilberte, Reizki Habibullah, Stefanus Rio, Anggara Putra dan Putu Indrati.

Anak-anak memerankan anak yang rindu bermain dan anak-anak yang hanya berkutat dengan pelajaran. Mata pelajaran pun seolah menjadi “hantu” yang menakutkan bagi  pelajar. Rumus matematika dan IPA pun ditulis dikostum mereka: H2O, PxL=, Sin Cos Tangen, dan lainnya.

Menurut Putu Indrati, Cita Suta membawakan beberapa lagu di antaranya Cita Suta,  Bermain atau Belajar, Kudu Sinau, Peluk Jiwa, To be You (kesemuanya ciptaan Putu Indrati dan Wasi Bantolo), Carol Anne’s Theme, Pocung dan Wajibe Dadi Murid. Cita Suta lahir atas perjumpaannya dengan berbagai pihak.

“Operet Cita Suta ada karena perjumpaan dengan Pak Wasi. Berbagai keajaiban muncul,  dukungan  muncul dari penari, pemusik, hingga iringan karawitan,” ucap Putu Indrati.

Turut hadir dan memberi kata sambutan Rektor ISI Surakarta Dr Guntur Mhum, dan Rektor UNS  Prof Jamal Wiwoho, pendeta, rohaniwan dan tamu undangan dari ISI Surakarta dan UNS.

Ketua Panitia Natal Bersama ISI Surakarta-UNS, Maharani MSn menyatakan salut dan penghargaan untuk panitia, khususnya penampilan operet Cita Suta.

“Acara ini terselenggara hasil kerjasama umat Kristiani ISI Surakarta dan  UNS, dengan dukungan penuh semangat  Koor Anak Purbayan, SD Pangudi Luhur Surakarta, SLBA YKAB, SLB Cangakan.  Acara ini membawa semangat berbagi, berbagi  kasih dengan saudara-saudara. Kita adalah sahabat bagi semua orang,” kata Maharani, ketua panitia  dalam sambutannya.

Salah satu orangtua, Whiendfonsa menyatakan bangga dan haru atas sukses Cita Suta. Hal ini  berkat bimbingan pelatih, sebuah proses panjang yang harus dilewati.

“Proses tidak mengkhianati hasil. Saya merinding, terharu melihat operet tadi. Anak-anak luar biasa sekali,” ujarnya.

Romo Bagus, SJ dari Gereja Santo Antonius Purbayan  berkomentar singkat:

Proficiat dengan operet Cita Suta.That was awesome.  Kereennn,” ujarnya.

Yohanes Wardjo, pelatih Karawitan SD Pangudi Luhur Surakarta merasa puas atas pementasan operet, di antaranya membawakan gending Wajibe Dadi Murid hingga Pocung.

“Bagus. Ini kolaborasi yang luar biasa, ada pemusik, ada gamelan, menjadi pentas yang hebat,” katanya.

COSMAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *