Rijang Merah, Primadona Potensi Pariwisata Tanah Kebumen

Spread the love

KEBUMEN, POSKITA.co – Belum lama saya bersama beberapa teman berkunjung ke Kebumen, Jawa Tengah. Sebuah kota kecil yang letaknya berdekatan dengan pesisir pantai selatan pulau Jawa. Seorang warga asli Kebumen, memperkenalkan kami dengan Rijang Merah. Sempat dibuat penasaran sekaligus takjub dengan sekelumit cerita tentangnya. Apalagi kemudian ada impian menjadikannya sebagai salah satu potensi tujuan pariwisata. Apa sih sebenarnya Rijang Merah?

Kabupaten Kebumen, salah satu kebanggaannya adalah keberadaan Rijang Merah. Di kota kecil pesisir selatan ini, sudah cukup lama sebenarnya diketahui sebagai kawasan geopark, setelah pihak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dengan para peneliti geologi, terus melakukan riset di sana. Rijang Merah adalah nama tumpukan batuan hasil sedimentasi, yang konon sejarahnya berasal dari benturan lempengan dasar samudra, terangkat sejak puluhan juta tahun lalu. Bebatuan raksasa yang membentuk bukit dan tercipta karena proses alam ini cukup unik. Karakter dan warna batu didominasi unsur kemerahan. Motif berlapis-lapis, halus dan rumit, menjadikannya sangat menarik. Hasil penelitian mendapatkan, hanya segelintir bagian dunia yang memiliki jenis bebatuan ini. Kebumen tentu saja harus berbangga.

Adalah nama desa Sadang Wetan, Kecamatan Sadang, jaraknya sekitar 35 kilometer arah utara dari pusat kota kabupaten. Di tempat ini terdapat geopark Rijang Merah, yang terintegrasi dengan kawasan geopark Karang Sambung, Karang Bolong. Desa Sadang Wetan sendiri, secara geografis sangat diuntungkan dengan keeksotisan alamnya. Perpaduan antara bukit bebatuan, hutan pinus berdampingan dengan hutan bambu. Juga keberadaan hamparan sawah terasiring hijau subur. Menarik lagi, ada aliran kali loning (loning artinya bening) di dasarnya, yang hulunya berasal dari sumber mata air gunung Sindoro dan Sumbing. Jika air sungai sedang pasang, warga dan wisatawan lokal memanfaatkan untuk ber-river tubing, dan jungle tracking sungai.

Sadar dengan keeksotisan potensi alamnya , tidak sedikit warga desa berangan-angan menjadikan desa Sadang Wetan dikemas untuk tujuan objek wisata alam. Salah satu tokoh muda di sana, bernama Aksin, mengemukakan impiannya. Apalagi jika mengingat Desa Sadang Wetan sesekali dikunjungi oleh rombongan tamu asing yang ingin lebih tahu tentang keberadaan geopark Rijang Merah.

 

Menurut Aksin, potensi alam desa Sadang Wetan layak dijadikan kawasan tujuan wisata. Cukup lengkap keindahan alamnya. Belum lagi cerita sejarah, adat istiadat, serta seni budaya warga setempat yang kental dengan nilai-nilai spiritual, bisa jadi pelengkap paket wisata di sana. Misalnya saja, tarian Lengger, yang biasa ditarikan warga pada acara-acara khusus, yang mengandung banyak unsur filosofi. Begitu juga ketika petani panen, ada kebiasaan warga menggelar ritual budaya tertentu yang bertujuan memberikan penghormatan serta ucapan terima kasih pada dewi padi yang dikenal dengan Dewi Sri. Tak kalah menarik, legenda jejak Majapahit di tanah ini menjadi bagian cerita tersendiri. Di seputar area persawahan ditemukan punden, berupa batu besar, yang dipercayai masyarakat desa sebagai tempat moksa Patih Gajah Mada. Lengkap dengan dua pohon besar berdiri kokoh, Miramaya dan Miranaya.

Menyulap suatu kawasan menjadi objek wisata, tentu bukan perkara mudah. Mungkin hal yang paling mendasar adalah masih agak kesulitan mengajak sekaligus menyadarkan warga untuk bersama membangun pariwisata alam di sana, mengingat masih minimnya SDM. Hal lain adalah masalah infrastruktur. Ini sangat penting. Kami merasakan sendiri perjalanan dari kota kabupaten sampai menuju desa Sadang Wetan, harus dilalui cukup jauh. Sementara, akses jalan dengan kendaraan roda empat masih sangat sederhana. Terkadang kami harus melalui jalan kecil terjal, naik turun, dengan medan cukup sulit.

Tapi jika berpikir maju, semangat mengeksplorasi potensi alam sebuah desa, apalagi diyakini itu sangat menjual untuk pariwisata, ya tidak ada salahnya untuk direalisasikan. Sayang kan, jika asset potensi alam seperti geopark Rijang Merah misalnya, yang sebenarnya sudah kesohor mendunia, justru banyak dari kita yang belum tahu. Promosi gencar serta sinergitas antara masyarakat dan pemerintah itu harus. Mengeksplor potensi alam menjadi tempat tujuan wisata, demi kemajuan dan kemakmuran bersama, ya jangan tanggung-tanggung. Segera lakukan. (endang paryanti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *