Sambut Hari Ayah SMPK Bharata 2:  Ayahku, Tukangku

Spread the love

KARANGANYAR, POSKITA.co -Suasana haru melanda sekolah ini. Ratusan siswa-siswi sungkem kepada ayahnya masing-masing, dilanjutkan sungkem kepada para tukang  yang memperbaiki sekolah mereka.

Menurut Gress Raja,  menyambut hari ayah,   Pasukan Penolong Ayah disingkat PASPENA dari SMPK Bharata 2 menggelar kegiatan bertema Ayahku, Tukangku.

“Sekolah menyediakan sarapan bersama,  makan tumpeng nasi uduk. Satu tumpeng dimakan 10 orang terdiri 5 anak dan  5 ayah  tanpa bicara, hingga selesai. Dilanjutkan pembacaan surat  untuk ayah Sang Tukang oleh Ria dan Rian, kemudian sungkeman pada ayah masing-masing  diiringi lagu sujud sungkem, dilanjutkan sungkem pada 20 tukang,” kata Gress Raja, selaku ketua panitia kepada poskita.co, Kamis (14/11/2019).

Lalu, apa makna sungkem kepada ayah? Menurut Gress Raja, agar siswa memiliki budi pekerti luhur, agar siswa lebih dekat secara psikologis dengan orangtua.

“Melatih siswa agar bisa mandiri,   ikut merasakan beban kerja orangtua,   melatih siswa untuk disiplin di rumah dan di sekolah,” kata Gress.

Salah satyu pengurus OSIS, Agnes Oktavia Ninit Setyaningrum menyatakan  PASPENA  ingin mengenang keberadaan dan peran ayah, dalam acara sederhana ini yakni sarapan bersama ayah.

“Kami juga ingin secara khusus mengucapkan terimakasih kepada semua ayah yang bekerja sebagai tukang, yang tengah bekerja keras membangun gedung baru bagi tempat belajar kami dan adik-adik kami di masa mendatang. Maka “Ayahku Tukangku” kami angkat sebagai tema dan semangat yang mendorong kami untuk menyelenggarakan acara ini.

Tempat acara  di area gedung baru SMPK Bharata yang sedang dibangun. Peserta   siswa-siswi SMPK Bharata bersama staf guru 66 orang, ayah para siswa   53 orang, para tukang  20 orang komite, pengelola, dan undangan di antaranya Kepala Desa Kedawung, Kepala Desa Jumapolo, dan Kepala Desa Karangbangun.

Rm Yanuarius Bambang Triantoro Pr,  Direktur Pengelola SMPK Bharata 2 Jumapolo menyatakan anak berbakti pada orangtua itu biasa. Yang luar biasa itu kalau anak tidak berbakti pada Orangtua.

“Orangtua mengasihi dan tanggungjawab membesarkan anak itu biasa. Jika tidak mengasihi dan tidak bertanggungjawab, itu baru luar biasa. Demikian juga tukang yang membangun sekolah ini. Bekerja dengan welasasih itu biasa. Yang jadi luar biasa jika membangun tanpa welasasih, membangun dengan sembrono, sehingga bangunannya tidak berkualitas,  gampang roboh dan membahayakan anak-anak kita sendiri,” ujar Bambang Triantoro.

COSMAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *