Sarasehan Kebangsaan:  Mencari Titik Temu Kerukunan dan Perdamaian

Spread the love

SOLO, POSKITA.co – Indonesia terdiri beragam suku, budaya, agama, ras. Maka, potensi konflik pasti ada. Tetapi, harus ada titik temu.  Jika titik temu ada, maka akan menuai perdamaian.

Demikian benang merah sarasehan kebangsaan dengan menghadirkan KH Dian Nafi, pimpinan pondok pesantren Al-Muayyat Windan Makamhaji, KP Bambang Pradoto Nagoro (praktisi), Ki Janthit Sanakala (pembuat topeng, seniman), di Balai Kota Surakarta, beberapa waktu lalu. Acara ini digelar atas kerjasama  Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) KAS, Komisi Karya Misioner Kevikepan Surakarta, dan Komisi Kitab Suci Kevikepan Surakarta.

Menurut Ki Janthit, sebagai seniman ia harus berbuat untuk bangsa dan negara. Salah satunya dengan membuat wayang dan diberi nama Jaga Wangsa (wayang jaga bangsa). Melalui wayang bisa bebas mengkritik, tanpa ada yang tersinggung, karena dalang tidak berpihak.

“Kalau bangsa ini sudah tidak rukun, ya tinggal tunggu waktunya saja. Kalau potensi konflik, pasti ada. Kita sebenarnya hanya pekewuh saja.  Wong Jawa iku pekewuhan. Sawah pasti ada rumputnya. Lagu Didi Kempot, nandur pari thukule suket teki. Itu kenyataan. Harus kita hadapi,” kata Ki Janthit.

Sementara KP Bambang, lebih menyoroti pada fenomena Didi Kempot. Bagaimana antusiasnya masyarakat, muda hingga tua, hadir menyaksikan aksi Didi Kempot dalam melantunkan lagu-lagu yang dianggap mewakili  suasana hati. Tanpa melihat agamanya, semua menjadi satu hanya  karena Didik Kempot. Ambyar.

“Didi Kempot mampu menyatukan semua perbedaan, tanpa melihat agama, tanpa melihat usia, pandangan politik berbeda lebur jadi satu,” kata Bambang.

KH  Dian Nafi, sangat mendukung sarasehan kebangsaan, yang salah satunya masyarakat kesulitan untuk menemukan titik temu.

“Salah satu kesulitannya adalah, bagaimana mengekspresikan hal-hal yang sifatnya dogmatis, ke dalam cara hidup yang baru, modern, dinamis,” ucap KH Dian Nafi.

Lalu, apa yang penting dari kerukunan?

Menurutnya, ada empat  hal ini penting kerukunan: kebenaran, keadilan, keluhuran, dan kerukunan. Sementara seuatu dianggap benar memiliki 6 kaitan:  benar secara hukum, keilmuan, faktual, perikatan, motif, keyakinan.

“Manusia  sebagai makhluk  berpeluang untuk memperbaiki diri sendiri. Kalau tidak bisa,  kata Gus Dur  tidak bernilai budaya. Kita harus berbesar hati, positif thinking bahwa manusia mampu memperbaiki dirinya,” ujar Dian Nafi.

Menurut Cosmas, humas bagian media,  menjelaskan sebelum sesi tanya jawab, diisi  Tari Sufi dari Lesbumi NU berkolaborasi dengan Saxophone oleh Hugo Budi Hartoko, dan Pianis Flow CP Narendra, dengan  iringan instrumen lagu Ndherek Dewi Mariyah.

“Ini menjadi simbol tentang kerukunan umat beragama di Surakarta, berkolaborasi antar agama untuk mencapai kerukunan dan perdamaian,” ujar Cosmas.

Sarasehan lintas agama ini sangat menarik, diharapkan menjadi agenda rutin sehingga potensi konflik antar agama bisa diminimalisir, syukur bisa dihilangkan sama sekali.

ARYADI/COS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *