Geliat Islam Eksklusif Transnasional di Kampus

Spread the love

SOLO, POSKITA.co – Sebagai arena sosial yang lekat dengan narasi akademik, kampus juga tak luput dari serangkaian kegiatan yang kerap dilakukan mahasiswa.  Sebagaimana aneka jurusan keilmuan yang terdapat di dalamnya, aneka gerakan mahasiswa juga seperti menemukan tambatan di ruang-ruang kampus. Sebut saja gerakan mahasiswa dengan latar belakang sekuler hingga agama.

Menurut  Okky Tirto, dari LPPM UNUSIA Jakarta, Media Campaign Coordinator,  menariknya, gerakan mahasiswa dengan latar belakang agama tidak tampil sebagai narasi tunggal. Sementara kalangan menjadikan Islam sebagai spirit atau akar tradisi, kelompok ini kemudian cenderung bersifat moderat dengan Islam arus utama sebagai titik pijaknya. Pergerakan  Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) termasuk dalam kelompok ini.

“Pada sisi lainnya ada kelompok gerakan mahasiswa yang lebih bersifat kultural secara pola gerak. Kelompok ini tidak terinstitusionalisasi sebagaimana kelompok lainnya. Fokus aktivitas kelompok ini lebih kepada pemurnian akidah dan syariah sebagai instrumen pokok dalam kehidupan sehari-hari. Kelompok ini dikenal dengan nama ‘Salafi’,” ujarnya dalam pers release yang diterima Poskita.co, Kamis, (23/5/2019),

Dikatakan Okky Tirto, kecenderungan kelompok salafi ini lebih terpusat pada kajian agama dan relatif apolitis. Sementara kelompok lain adalah yang memaknai politik sebagai bagian yang tak terpisahkan dari dari agama. Kelompok ini semisal Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang secara pemikiran terinspirasi oleh Ikhwanul Muslimin dan Gema Pembebasan yang berafiliasi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dalam temuan tim peneliti LPPM UNUSIA di UNS Surakarta, kegiatan Lembaga Dakwah Kampus atau LDK terintegrasi dengan Matakuliah Agama yang diampu oleh dosen-dosen agama Islam.

Sementara di IAIN Surakarta pada 2016 tercatat seorang aktivis LDK ditangkap aparat sebagai terduga teroris. Pihak Kampus memecat yang bersangkutan sebagai mahasiswa. Saat ini, LDK yang dikenal dengan UKMI atau Unit Kegiatan Mahasiswa Muslim merupakan titik aktivitas aktivis Tarbiyah atau KAMMI. Berangkat dari UKMI sebagai basis kaderisasi, KAMMI bergerak menguasai BEM sebagai arena politik mahasiswa. Sempat tergeser oleh PMII di BEM pada 2016, kader kami mengalami penyusutan. Namun demikian hingga kini masih tercatat sekitar 700 kader.

KAMMI di IAIN Surakarta dengan kisaran separuh yang terbilang aktif. Berbeda dengan KAMMI yang tampil terang-terangan, Gema Pembebasan di UNS dan IAIN Surakarta terbilang sangat berhitung dalam menyelenggarakan aktivitas terutama pasca pembubaran HTI. Tidak menyertakan logo HTI merupakan bagian dari langkah yang dilakukan, meski kegiatan terus berjalan.

Menyikapi kondisi demikian, sempat keluar respon dari pihak kampus semisal UNS dengan pelarangan penggunaan cadar bagi dosen perempuan. Belakangan surat ini dicabut karena menjadi kontroversi. Selain itu, belum tampak respon yang lebih otoritatif berkenaan dengan keberadaan gerakan Islam bercorak Eksklusif Transnasional di Kampus.

Kegiatan itu dihelat sebagai rangkaian riset tim peneliti LPPM UNUSIA Jakarta bersama PSPP LPPM UNS menghelat diskusi publik dengan tema ‘Islam Eksklusif Transnasional Merebak di Kampus-kampus Negeri’.

Sosialisasi hasil penelitian ini dihadiri oleh para peneliti: Naeni Amanullah, SSos MSi (LPPM UNUSIA Jakarta), Ahmad Hafid M Ag (IAIN Surakarta) dan Bahar Elfudllatsani SH MH (Lakpesdam NU Surakarta).

Pandangan para pakar juga dapat disimak dari Prof Dr Hermanu Joebagio (Guru Besar UNS) Dr Zainul Abbas (IAIN Surakarta), di ruang seminar FISIP UNS diakhiri dengan buka puasa bersama. (COSMAS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *