Tuti Bonek Wanita Dobrak Lautan ke Eropa

Spread the love

SOLO, POSKITA.co – Di balik senyum ramah wanita khas Jawa bernama Sri Tutie Rahayu ternyata garang di luasnya lautan Indonesia. Bahkan besutan tangannya menghasilkan para sarjana handal di bidang kemaritiman serta dikenal di negara Eropa seperti Jerman. Dan inilah akhirnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta memberikan Anugerah Pers 2019 kepada 22 tokoh yang satu diantaranya adalah dia.

“Saya sangat surprise sekali mendapatkan penghargaan ini dan saya cukup terkejut. Dan semua ini tidak lepas dari adanya peran media semuanya,” katanya usai acara penghargaan Anugerah Pers 2019 Jawa Tengah di Hotel Lor In, Jumat (16/03/2019) malam kemarin.

Ibu dari dua anak ini justru dikenal berjuluk Singa Betina dan juga Bonek Wanita (Bonita). Dia menjabat Direktur Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin) yang berdiri sejak tahun 2012 di Semarang dan penggagas Pelayaran Kebangsaan Mahasiswa Indonesia. Sederet prestasi disandangnya ternyata pernah nekat menantang berkelahi mahasiswa ketika mahasiswanya berkelahi ketika sulit dilerai.

“Demi sebuah kedisplin maka saya cari mahasiswa yang berkelahi. Saya ajak di ujung pelabuhan naik mobil. Bagi yang menang akan melawan saya,” kenangnya ketika mengajarkan pendidikan karakter mahasiswa.

Tutie mengatakan, keberhasilannya memimpin dan membesarkan satu-satunya politeknik maritim di bawah Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) tidak lepas dari media. Sejak ditunjuk sebagai direktur, dirinya sempat kebingungan merekrut dosen yang akan mengajar. Padahal sesuai dengan amanat undang-undang kalau syarat untuk menjadi dosen minimal pendidikan S2. Sementara para nakhoda, engineering selama ini hanya mengantongi sertifikat saja.

“Nakhoda itu bukan akademisi, itu adalah praktisi. Dan mereka hanya mengantongi sertifikat saja. Kemudian ada Perpres nomor 10 tahun 2012. Dan akhirnya, kami bisa mendapatkan dosen,” ucapnya.

Maritim di negara eropa seperti Jerman sangat ketat tapi pendidikan kampusnya diakui oleh negara lain. Dan ternyata bangsa Indonesia tidak bodoh tetapi juga sama dengan negara lain sehingga diterima. Ucapnya terakhir, pelaut tangguh akan lahir dari gelombang dengan turbulensi tinggi. (Agung Santoso)

Caption Foto:
Direktur Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin) mendapatkan penghargaan dari PWI Surakarta, Jumat (15/3).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *