Mafindo Solo Raya: Merawat Akal Sehat

Spread the love

SOLO, POSKITA.co – Hingga sekarang ini, banjir berita hoax masih memenuhi media sosial. Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Solo Raya telah menginjak usia dua tahun, salah satu wadah bagi relawan anti hoax Solo Raya yang peduli dan tak mengenal lelah memerangi berita hoax.

“Selama perjalanan dua tahun, syukur alhamdulillah kita masih waras. Keberadaan komunitas yang peduli tentang hoax, fitnah, di masa elektoral ini. Kita terus merawat akal sehat. Apresiasi perlu diberikan kepada teman-teman. Saya melihat ada optimisme di antara kita semua. Kalau bukan kita yang bekerja untuk membuat masyarakat waras ya siapa lagi. Mengandalkan pemerintah saja juga tidak mungkin. Pemerintah juga butuh support. Kita mengarah pada organisasi. Ada ketua, pengurus dan lain sebagainya. Supaya kerja kita ke depan lebih efektif. Supaya kita bisa lebih berkontribusi. Tidak muncul konflik,” kata Ketua Mafindo Solo Raya Guntur Wahyu N, saat merayakan Dua Tahun Mafindo Solo Raya di sebuah Rumah Makan, Pasar Gede, Solo, Sabtu (01/12/18).

Anggota Presidium Mafindo Niken Satyawati menuturkan, dihitung sejak beberapa founder Mafindo berkumpul di Cikini, dan dijadikan sebagai hari lahir Mafindo. Untuk Mafindo Solo Raya sudah banyak kegiatan yang dibuat, Salah satunya Bedah iklan hoax.

“Hebatnya, para pembicara yang diundang luar biasa dan tentunya tak berbayar. Massa yang hadir mahasiswa ISI. Mafindo terus bekerjasama, banyak karya infografis yang kita reproduksi dari karya anak-anak ISI,” kata Niken.

Diceritakan Niken, lalu, dibuatlah acara di CFD, 11 Desember, 6 kota sepakat mendeklarasikan. Acara tersebut minim anggaran, semua bantingan (urunan), dan bisa bikin acara yang heboh.

Acara Mafindo selanjutnya mengelar karya mahasiswa ISI berupa ilustari doodle. Setiap bulan Mafindo Solo Raya juga tampil di RRI, dengan tema yang selalu baru.

“Di Mafindo ada empat pilar, yang bisa dibreak down, menjadi program. Pertama, menelusuri fakta. Kedua, literasi digital. Ketiga, advokasi. Keempat, silaturahmi. Mengundang dari banyak elemen. Karena pertemuan di dunia nyata berbeda dengan pertemuan di dunia maya. Di dunia nyata lebih lunak. Lawan akan menjadi teman ketika bertemu di dunia nyata.

Puguh Tri Warsono, presidium Mafindo, menyatakan Mafindo sebagai organisasi baru, benar-benar mulai dari nol. Tidak diikuti logistik yang kuat. Diakui oleh stake holder baik dari dalam maupun luar negeri.

“Menunjukkan bahwa Mafindo secara berkegiatan relatif efektif. Gerakan relawan berasal dari masyarakat. Melawan hoax. MAHS sekarang dinamakan Mafindo Solo Raya, menjadi benteng. Banyaknya relawan dari Soloraya, menjadi komite di pengurus pusat,” ucap Puguh.

Ke depan, Puguh berharap yang menjadi titik berat Mafindo, konsentrasi dalam edukasi dan public campaign. Menyadarkan kepada masyarakat terkait bahaya hoax. Selain itu, upaya tidak akan berarti apa-apa, kalau penegakan hukum tidak tegas.

“Kita dorong upaya penegak hukum agar tegas menegakkan hukum agar Indonesia bebas hoax. Selain itu, sinergi dan silaturahmi dengan berbagai organisasi, bekerja sama dan bersinergi. Menjadikan Mafindo semakin militan, dan mengangkat nama Mafindo,” ujarnya.

Gunharjo, salah satu relawan berharap, Mafindo bisa hadir di tiap kabupaten. Nanti ada Mafindo Sukoharjo, Karanganyar dan daerah lain di Solo raya. Minimal ada diskusi anti Hoax di Kabupaten-kabupaten.

“Mereka butuh pencerahan. Banyak guru-guru, tugasnya mencerdaskan bangsa, tapi malah turut menyeber hoax. Alasannya macam-macam, salah satunya tidak tahu kalau hoax. Harapan saya minimal diskusinya hadir di kabupaten lain,” kata relawan asal Sukoharjo ini.

Syifaul Arifin merasa senang bisa bergabung dengan Mafindo Solo Raya. Hoax sudah begitu parah. Hanya saja, sekarang sudah masuk tahun politik.

“Mafindo harus tetap independen. Setiap orang memang memiliki preferensi politik yang berbeda, tetapi relawan harus tetap independen,” ujar Syifaul, yang juga aktivis AJI.

Giri Lukmanto,  lebih banyak bercerita tentang dampak perkembangan teknologi yang luar biasa pesat. Konflik pun terjadi di berbagai negara, dan banyak yang menuding dan mengarah ke media sosial, salah satunya facebook.

“Google mulai sadar, ternyata konflik di berbagai negara seperti Myanmar, Suriah, akibat facebook. Whatsapp juga menjadi alat propaganda di Brazil,” kata Giri.

Sementara Nino berpendapat banyaknya orang berpendidikan tinggi, tapi malah ikut menyebar hoax, karena memang malas berpikir.

“Mereka berhenti berfikir. Mereka menyerahkan kepada orang lain untuk berfikir. Saya sering mengutip ini. Dunia pasca kebenaran. Ada dua hal yang berkontribusi. Paham post modernisme dan relativisme. Kebanyakan masyarakat kita pahami religius. kecendurngan post modernisme yang terjadi orang mempercayai yang dia sukai. Yang perlu diperhatikan generasi milenial. Ini masalah yang harus diselesaikan,” kata Nino.

Ipung Kurniawan berharap Mafindo menjangkau anak-anak, konsep simple, fun.

“Lagu anak-anak yang simple, namun konteksnya yang luar biasa. Selain itu daya ingat anak-anak luar biasa. Saya berharap Pak Anton membuat lagu anti hoax yang bisa menyenangkan untuk anak,”  ujar Ipung.

Pada acara Dua Tahun Mafindo Solo Raya Merawat Akal Sehat,  dilakukan potong tumpeng. Pemotongan tumpeng dilakukan Guntur, Ketua Mafindo Solo Raya, lalu  diberikan kepada anggota presidium nasional, Puguh dan Niken, mantan kepala suku. Sukses, Mafindo Solo Raya.

COSMAS

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *