Rel Sepanjang 10.000 KM Diaktifkan

Spread the love

SOLO (poskita.co) – Rel kereta api 10.000 KM akan segera diaktifkan lagi sekaligus kereta api bandara diselesaikan. Tidak hanya itu, jenis rel sendiri masih butuh standarisasi sekaligus kereta api listrik. Hal ini disampaikan Staf Ahli Menteri Kementerian Perhubungan, Budi Prasetyo di sela-sela seminar nasional Civil Week di kampus UNS yang berakhir Kamis sore (8/11).

“Pemerintah menargetkan program 10 ribu kilometer rel kereta api rampung pada 2030 mendatang,” jelasnya.

Rel sepanjang itu seperti Aceh, Sumatra, Kalimantan dan Papua serta pulau Jawa yang segera direaktifkan. Tidak ada ada alasan lagi tidak ada penumpang karena ini fasilitas untuk masyarakat. Kemudian tahun depan diprioritaskan untuk Papua yang letaknya di pinggir pantai sehingga dimanfaatkan dan mendorong masyarakat menggunakan kereta.

“Rencananya malah Papua yang lebih dulu akan dibangun. Sehingga tidak hanya membangun jalan saja, tapi juga rel kereta api. Harapannya, ada penumpang dan ada yang menarik untuk dikembangkan,” sambungnya.

Ada dua opsi, yakni membangun rel dengan lebar jalan 1.067 milimeter atau menghidupkan kembali jalur rel yang lama dengan lebar 1.435 milimeter. Lantas terkait bandara, ada aturannya bagi bandara baru harus ada stasiun kereta seperti di Bandara Adi Sumarmo yang akan beroperasi 2019. Kemudian bandara Kulonprogo, Bandara Suta, Bandara Padang serta bandara sebagian sudah integrasi dengan stasiun kereta.

“Pada prinsipnya, semuanya dibangun sampai 10 ribu kilometer. Saat ini bandara-bandara besar sudah mempunyai jalur rel kereta api. Kami sudah punya kebijakan jika membangun bandara baru juga ada rel kereta api juga. Rencananya, kereta bandara Kulonprogo sudah bisa dioperasikan 2019 mendatang,” imbuhnya.

Direktur Utama PT INKA, Budi Noviantoro, mengaku pihaknya bermimpi dalam menjadi produsen kereta cepat. Targetnya, 2025 mendatang PT INKA sudah bisa membuat uji coba kereta cepat sejauh 50 kilometer dengan kecepatan 400 kilometer per jam. Jika pemerintah memiliki 10 ribu kilometer pada 2030, maka pihaknya hanya butuh 50 kilometer saja untuk test track kereta cepat. Tujuan Jakarta-Surabaya dengan kecepatan 300 kilometer per jam atau kira-kira membutuhkan waktu 2 jam 57 menit dengan berhenti di enam stasiun. (Agung Santoso)

Caption Foto:
Seminar Nasional CIVILWEEK 2018 di auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS). Staf Ahli Menteri Kementerian Perhubungan, Budi Prasetyo menyampaikan materi rel. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *