Aksi SD Mapan Meriahkan Hajad Ageng Jagalan 2018

Spread the love

SOLO (poskita.co) – Puncak acara Hajat Ageng Jagalan 2018, sebagai salah saru event budaya lokal di Kota Solo berlangsung dalam sebuah karnaval pada Minggu (4/11/2018) sore. Walikota Solo, FX. Hadi Rudyatmo datang langsung untuk menyaksikan iring-iringan Karnaval Hajat Ageng Jagalan kali ini. Duduk di panggung utama yang dibangun di depan Balai Kalurahan Jagalan, Rudi tampak menikmati satu per satu perform dari rombongan peserta.

Salah satu perform dari peserta karnaval yang mampu menarik perhatian penonton adalah rombongan peserta dari Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 Jagalan yang biasa disebut SD Mapan Jagalan. Tak tanggung-tanggung, iring-iringan SD Mapan langsung dipimpin oleh Kepala Sekolah, Parimin, berseragam pandu Hizbul Wathan, Parimin membawa sekitar 80 siswa untuk tampil menyemarakkan Hajad Ageng Jagalan.

Dengan cucuk lampah, seorang siswi berpakaian Solo Batik Carnival, rombongan SD Muhammadiyah 8 Jagalan menampilkan beberapa potensi ekstra kurikuler, seperti tari-tarian, pencak silat Tapak Suci, dokter kecil, pandu Hizbul Wathan serta tim futsal yang semuanya melakukan perform di depan tamu-tamu kehormatan termasuk Walikota FX Hadi Rudyatmo dan beberapa anggota DPRD Kota Solo dari Jebres.

Menurut Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 8 Jagalan Solo, Parimin, pihaknya menyambut antusias ajang Hajat Ageng Jagalan ini untuk menunjukan eksistensi SD Muhammadiyah 8 Jagalan yang mempunyai visi sebagai sekolah berbudaya serta beradab.

“Kita tunjukkan apa yang ada pada kita. Kita mengajarkan secara ekstra kurikuler tentang ketrampilan-ketrampilan yang meningkatkan potensi dan bakat anak. Itu menjadi salah satunya, sementara adab-adab lain yang kita kembangkan adalah masalah ibadah yang semuanya ditujukan sesuai visi kita,” ujar Parimin yang ditemui di sela-sela acara Hajat Ageng Jagalan 2018.

Kegiatan Hajat Ageng Jagalan merupakan acara untuk menggali potensi yang ada dari beberapa kampung yang dimiliki oleh Kalurahan Jagalan Kecamatan Jebres Kota Solo. Selama ini, salah satu ikon yang dimiliki oleh Jagalan adalah keberadaan Tempat Penyembelihan Hewan sapi dan babi milik pemerintah. Sedangkan kampung-kampung di Jagalan dengan cerita yang dimiliki secara berbeda-beda. Seperti Kampung Kalangan adalah tempat dimana abdi dalem kalang tinggal.

Sorogenen menurut cerita yang berkembang terbentuk karena daerah itu adalah tempat tinggal abdi dalem Sorogeni. Bororejo terbentuk karena daerah itu mulanya adalah tempt yang ramai dari kata boro dan banyak orang yang berdatangan atau rejo. Kampung Belik, diberi nama belik karena daerah itu dulu terdapat sebuah belik atau sebuah sumber mata air yang digunakan masyarakat sekitar untuk kebutuhan sehari-hari. Kini daerah tersebut semakin kecil dan lambat laun berkurang. Ada juga Kampung Tekenan yang merupakan wilayah yang digunakan pada akhir abad 19 untuk menyortir hewan-hewan yang akan masuk ke tempat penjagalan.

Juga ada kampung bernama Kandang Pitik, daerah yang terbentuk karena dulu tempat itu merupakan tempat untuk memelihara ayam atau pitik. Dan Kampung Pakasa yang letaknya berada di dekat Balai Kalurahan Jagalan, dulu dikenal menjadi pusat Perkumpulan Kawula Surakarta (PKS), yang tumbuh dan berkembang sebagai organisasi politik lokal di surakarta sekitar tahun 1930-an.

Kegiatan Hajat Ageng Jagalan sendiri berlangsung setiap tahun sejak tahun 2010 seiring dengan digelarnya berbagai kegiatan bermuatan budaya lokal yang diinisiasi langsung oleh Pemerintah Kota dengan menggerakkan warga di kampung-kampung yang ada di Kota Solo. (Udi H. Djamil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *