Sangiran Idola Kegiatan Outing Class 

Spread the love

SRAGEN (poskita.co) – Meski berada tak jauh dari Kota Solo, tak bisa dipungkiri masih banyak kaum muda terutama kalangan pelajar yang belum pernah pergi ke Museum Sangiran. Berbagai cara dan upaya dilakukan agar kunjungan ke museum menjadi salah satu yang diwajibkan oleh sekolah. Museum Sangiran yang berada di Kalijambe Kabupaten Sragen, kini bisa menjadi idola kegiatan outing class para pelajar untuk belajar sekaligus refreshing.

Balai Pelestari Situs Manusia Purba (BPSMP) yang biasa disebut Museum Sangiran, masih menjadi idola bagi sekolah untuk mengantarkan siswa-siswanya melakukan outing class. Pihak pengelola Museum Sangiran sendiri berharap, setidaknya para pelajar bisa mempunyai kebanggaan atas Museum Sangiran dan lebih jauh lagi bisa berpartisipasi dalam melestarikan Situs Manusia Purba ini.

Kegiatan outing class dari berbagai sekolah memang menjadi salah satu sasaran dari para pengelola museum. Rombongan para pelajar untuk mengenal dekat keberadaan museum adalah cara efektif bagi eksistensi museum itu sendiri.

Kehadiran ratusan hingga ribuan pelajar setiap harinya di Museum Sangiran membuktikan bahwa Balai Pelestari Situs Manusia Purba ini masih menjadi idola bagi kegiatan outing class. Seperti yang terlihat pada hari yang bukan hari libur, Senin 9 Oktober 2018, keramaian di Museum Sangiran terasa dengan kehadiran ratusan pelajar dari Sekolah Dasar dan SMP/MTS di kawasam Solo Raya.

Bagi para pelajar yang baru pertama kali mendatangi Museum Sangiran, mereka merasakan pengalaman dan ilmu-ilmu pengetahuan baru yang sebelumnya hanya diajarkan secara teori.

“Pak guru mengajak kita ke Sangiran, supaya kita bisa tahu sejarah manusia purba. Ini sangat menyenangkan,” kata Gilang, siswa SDIT Muhammadiyah Al Kautsar Kartosuro, Sukoharjo, yang datang berombongan dengan dua bus.

Sedangkan salah satu guru SDIT Al Kautsar, Ahmad Mudzakir menyebut, dirinya sengaja membawa anak didiknya ke Museum Sangiran dalam rangka pelajaran tematik sejarah.

“Awalnya anak-anak merasa biasa saja, namun setelah melihat film tentang Sangiran, mereka terlihat excited dan bersemangat untuk melihat di ruang pamer,” ujar Ahmad Mudzakir, kepada poskita.co sebelum meninggalkan Museum Sangiran.

Sementara itu, Kepala Seksi Pemanfaatan BPSMP Sangiran, Iwan Setiyawan Dimas menjelaskan, pemutaran film tentang Situs Manusia Purba Sangiran pada saat awal kunjungan adalah hal penting untuk memberi pemahaman para pelajar dan pengunjung lainnya.

Hal itu diharap menjadi bekal untuk memahami sejarah mulai awal geologi sampai penghunian sekarang ini dengan format audio dan visual akan mudah dipahami. Kemudian akan diperlihatkan langsung di ruang pameran, termasuk di dalamnya koleksi-koleksi yang ada.

“Persentase pelajar dan pengunjung lebih tinggi dalam memahami, karena adanya pengulangan dalam bentuk film dan menonton di ruang pamer. Apalagi ditambah dengan narasi dan diskripsi secara verbal seperti brosur dan poster, sehingga lebih bisa dipahami,” tandas Iwan Setiyawan Dimas kepada posita.co  di ruang kerjanya, Selasa(9/10/2018).

Selain SDIT Al Kautsar Kartosuro, rombongan lain yang datang menggunakan 16 minibus yaitu para pelajar dari Madrasah Tsanawiyah Negeri Simo Boyolali. Mereka memilih Museum Sangiran sebagai arena outing class-nya, selain Candi Prambanan sebagai pilihan lainnya. (Udi)

Caption Foto:
Siswa-siswa dari SDIT Al Kautsar Kartosuro tampak antusias berada di Museum Sangiran. Di museum ini pengunjung bisa belajar sejarah manusia purba dan Sangiran dijuluki sebagai The Home Land of Java Man. Kepala Seksi Pemanfaatan BPSMP Sangiran, Iwan Setiyawan, berharap para pelajar bangga dengan situs Sangiran yang menjadi satu-satunya di dunia. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *