Petani Tembakau di Klaten Tetap Berjasa Dukung DBHCHT

Spread the love

KLATEN (poskita.co) – Kepala Pusat Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Dr Irham MSc, menggelar sosialisasi program Srawung Kawruh terkait perkembangan pertembakauan yang ada di wilayah Kecamatan Trucuk, di RM Lestari Palar, Trucuk, Senin siang (1/10/2018).

Dalam acara Srawung Kawruh ini hadir belasan petani tembakau dan Kepala Desa di wilayah Kecamatan Trucuk yang basis pertanian dengan tanaman tembakau. Pusat Studi Asis Pasifik ini beralamat di kompleks UGM Yogyakarta Bulaksumur B-13.

Camat Trucuk, Bambang Haryoko SSos MM menyatakan, wilayah Kecamatan Trucuk dengan basis petani tembakau ada di Desa Mireng, Jatipuro, Wonosari, Palar, Bero, Sumber, Karangpakel dan Mandong. Para petani tembakau di wilayah Kecamatan Trucuk ini kebanyakan jenis tembakau jantur dan asapan.

“Kita berharap hasil pertembakauan ini bisa meningkatkan kesejahteraan para petani tembakau itu sendiri. Tapi untuk acara pertemuan Srawung Kawruh hanya diundang petani tembakau ada 6 kelompok tani dari tiga desa, yaitu Palar, Sumber dan Wonosari. Tembakau itu bahan utama rokok, padahal tidak menyehatkan, tapi sangat digeluti petani dan menjadi salah satu usaha dengan pendapatan tinggi,” jelas Camat Bambang.

Salah satu pejabat dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Klaten, Ir Warsito mengatakan, tantangan petani tembakau memang besar. Di Klaten, ini termasuk kaya akan sumber air, hal ini juga bisa mendukung pengairan pertanian di Klaten, seperti umbul Brintik dan Ngingas.

Camat Trucuk, Bambang Haryoko, ikut hadir dalam acara yang dikemas Pusat Studi Asia Pasifik UGM Yogyakarta bersama para petani tembakau di Trucuk.

Saat ini petani tembakau tidak bisa bikin rumah, seperti tantangan petani tembakau saat mau panen diterjang hujan. Kata Warsito, dulu pemerintah getol melarang merokok, tapi kini sudah tidak lagi. Dan ada plesetan, merokoklah yang banyak, biar menambah pendapatan untuk DBHCHT atau dana bagi hasil cukai hasil tembakau.

“Jasa para petani tembakau sangat besar, sebab selama ini mampu menghasilkan pendapatan besar lewat DBHCHT. Namun kenyataannya, terkadang saat akan panen, seringkali ada tantangan, seperti diterjang hujan. Hasilnya juga seringkali kurang memuaskan,” ujar Warsito.

Dikatakan pula, bagi kelompok tani tembakau bisa mengajukan permohonan berupa multivator, pompa diesel, roda tiga, rumah pengering, dan lainnya. Namun demikian, permohonan tetap antri untuk mendapatkan pemihakan bantuan di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Klaten.

Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kecamatan Trucuk, Sudarna, juga menyampaikan informasi terkait pola tanam yang dilakukan para petani di wilayah Kecamatan Trucuk. Ratusan hektar lahan pertanian saat ini juga variatif, tidak saja menanam tembakau, akan tetapi juga jagung dan kedelai.

“Lahan pertanian yang ada di wilayah Kecamatan Trucuk itu selama ini tidak dikelola sendiri, akan tetapi ada semacam kelompok tani dengan saling berbagi informasi, entah soal pupuk, pola tanam dan sebagainya. Karena juga ada program pemerintah kaitan ketahanan pangan jenis pajale atau padi, jagung, kedelai, maka para petani tidak hanya menanam tembakau,” ujar Sudarna. (aha)

Caption Foto Atas:
Koordinator PPL Kecamatan Trucuk, Sudarna, sedang sampaikan berbagai informasi terkait pola tanam dan berbagai info seputar pertanian di Rumah Makan Lestari, Desa Palar, Trucuk, Senin siang (1/10/2018). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *