Pesta Emas ATMI, Music Concert Timur “Kobarkan Api Vokasi”

Spread the love

Solo (Poskita.co)

Politeknik Akademi Tehnik Mesin Industri (ATMI) Solo,  telah memasuki tahun pesta emas. Alumni ATMI sukses dengan para alumninya menyebar di seantero Indonesia, turut membangun dan mewarnai Indonesia. ATMI  merpakan perintis sekolah vokasi di Indonesia.

Menyambut pesta emas ATMI, sekaligus sebagai penghormatan atas dedikasi Romo Johann Balthasar Casutt SJ (1926-2012), digelar “Music Concert Timur, Inspired by Father Casutt’s Mission of Life”  oleh Peni Candra Rini dengan tema “Kobarkan Api Vokasi”, di De Tjolomadu Concert Hall, Desa Malangjiwan, Kecamatan Colomadu, Minggu (28/9/2018).

Peni Candra Rini merupakan komposer, pencipta lagu, sinden, penyanyi kontemporer, dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Ia telah tampil di berbagai panggung tidak hanya di Indonesia tetapi juga melanglang di lima benua.

Peni Candra Rini
Peni Candra Rini, foto Arip pengenpinter

“Music Concert Timur menampilkan 12 komposisi lagu,  kolaborasi gamelan Jawa, dipadu dengan musik kontemporer. Lagu-lagu ini menceritakan tentang Romo Casutt, sejarah ATMI, dan pesan nilai-nilai kehidupan yang diberikan ATMI kepada lulusan- lulusannya,”  kata Peni Candra Rini kepada Poskita.co.

Music Concert Timur  juga berkolaborasi dengan Koor Anak Purbayan, yang dikomandani Putu Indrati, dan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Vitalis ATMI. Tata panggung yang spektakuler dipadu dengan background seniman kondang dari Solo Guh S Mana.

Apa alasan Peni mengambil repertoar Timur? Menurutnya, Timur  berlatar pada Romo Casutt dari bumi bagian Barat (negara Eropa),  yang mengabdikan dirinya di Indonesia, negara di bagian Timur bumi ini.

“Beliau hidup di sebuah negara yang memberi harapan dan keyakinan,   menjadi pemimpin perguruan tinggi vokasi terbaik, dan tetap bekerja dalam diam, santun, rendah hati, jauh dari hingar bingar kehidupan. Timur menggabungkan karakter Timur dan Barat untuk menyampaikan pesan. Timur didedikasikan untuk memberikan penghargaan kepada Romo Casutt, yang memberi pondasi  pembenahan ATMI, menjadi contoh hidup bagaimana disiplin tingkat tinggi diterapkan,” ucap Peni.

 

Guh S Mana, foto Arip pengenpinter

Lagu pembuka Candle, merupakan quotes Romo Casutt, Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. “From a piece of papaer, turn on, future goal, angels begin to sing. Serve, giving, water, direction, a way of obedience. Bire, berbicara tentang kasih sayang secara umum. Love is not love until love is in the given. Juara, suatu keyakinan tentang proses dan pencapaian tiada henti. Timur, semangat dalam berkarya Romo Casutt. U, sosok yang menjadi inspirasi bagi generasi penerus.  Jangkar, penyatuan Romo Casutt dan mahasiswa ATMI, spirit kehidupan masa depan. Name, wujud cinta, kekaguman, doa siswa ATMI untuk sang inspirator.  Atisadu, persembahan dan penghormatan untuk guru yang menjadi suri tauladan, jiwa welas asih dan lembah manah. Langit, membawa perubahan positif dunia ini. Kidung, ungkapan kasih sayang dalam kesenyapan. Gaung, masa depan ATMI yang selalu tumbuh dan berkembang. Song for Romo, ucapan terima kasih kepada Romo Casutt.

Ketua Panitia 50 Tahun ATMI Indra Wardana, menyatakan  pagelaran seni menampilkan 12 lagu, dengan iringan musik kontemporer maupun gamelan Jawa. Aksi ini sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Romo Casutt yang mengelola ATMI menghasilkan calon tenaga industri di seluruh penjuru tanah air, dan menggelorakan nilai-nilai kehidupan bagi alumninya.

Adapun lagu-lagu  yang ditampilkan merupakan hasil perenungan mendalam dari buku biografi Romo Casutt SJ (Direktur ATMI Solo 1971-2000), bertitel ‘Dalam Senyap Bangun Pendidikan Vokasi di Indonesia.’ Buku ini ditulis A. Bobby PR,  penerbit Kompas Gramedia.  Sebelum acara puncak, digelar Perayaan Ekaristi Pesta Emas 50 Tahun ATMI Solo dipimpin Uskup Mgr Dr Robertus Rubiyatmoko, sekaligus sebagai Perayaan Michael Day 2018.

 

Sejarah ATMI

John Prasojo, dalam situ atmi.ac.id dijelaskan dengan gamblang tentang sejarah perkembangan ATMI. Pada tahun 1962  para Jesuit bersama-sama orang Swiss mendirikan SMK Mikael, yang merupakan cikal bakal pendidikan vokasi di Indonesia. Enam tahun kemudian, pada tahun 1968, didirikan ATMI (Akademi Teknik Mesin Industri) Surakarta, dengan hanya menerima 25 mahasiswa dan semua dalam satu program studi, Teknik Mesin. Tujuan pendirian akademi ini adalah agar lulusannya bisa mengikuti perkembangan teknologi. Untuk melatih kultur teknik, mereka mendatangkan instruktur dari Swiss yang bertugas mendidik sekaligus membentuk kultur teknik. Pada tahun selanjutnya, pada tahun 1972, di Semarang didirikan PIKA, sekolah industri kayu. Semua sekolah ini dikelola dengan sentuhan dan cita rasa Swiss yang kental dengan nilai-nilai disiplin, jujur, tangung jawab, kerja keras dan inovatif.

Lima pilar nilai ini yang menjadi roh penggerak seluruh dinamika dan sendi-sendi kehidupan di sekolah-sekolah tersebut. Dari tahun ke tahun jumlah mahasiswa bertambah banyak, seiring dengan semakin banyaknya industri manufaktur yang mencari lulusan ATMI. Pada tahun 2004, bertambah dua Program Studi, yakni Teknik Mekatronika dan Teknik Perancangan dan Mesin, dengan jumlah seluruh program studi 180 orang. Pada tahun 2017 ATMI membuka program D-4 untuk prodi Teknik Mesin dan Teknik Perancangan, dengan kapasitas mahasiswa seluruhnya sebanyak 234 mahasiswa per angkatan.

Sampai saat ini ATMI tidak hanya menyediakan tenaga terampil untuk industri. ATMI juga terlibat aktif dalam membidani pendirian dan pengelolaan beberapa sekolah vokasi lainnya, sebut saja Polman Bandung, Polman Astra, Politeknik Soroaco, ATMI Cikarang, Politeknik Sugar Group Lampung, dan ATMI Christo Re Maumere. Di level sekolah menengah atas, ATMI juga terlibat dalam pembinaan puluhan sekolah vokasi di Indonesia. Bersama Pemkot Solo, pada tahun 2007, ATMI juga ikut mendirikan Solo Techno Park (STP), yang menjadi cikal bakal Training Centre ATMI. (FOTO: Arip pengenpinter)

COSMAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *