PC PMII Surakarta Siap Menangkal Radikalisme, Merajut  Persatuan dalam Keberagaman

Spread the love

Solo (Poskita.co)

Keberagaman merupakan sunnatullah. Indonesia tidak boleh terpecah belah karena faham radikal, persatuan harus dirajut dalam semangat toleransi dan keberagaman.

Prof Hermanu Joebagio MPd, Ketua Pusat Studi Pancasila UNS Surakarta, menyatakan fondasi bangsa dibangun berdasar kemanusiaan. Melalui kemanusiaan yang mengakar di masyarakat, memiliki rasa toleransi yang tinggi.

“Berdasarkan hasil riset, di fakultas science, banyak mahasiswa yang dikuasai pemikiran radikal. Maka, saya menggandeng PMII menjadi salah satu kekuatan untuk turut memerangi kelompok radikal. Namun saya ingatkan, studi harus tetap jalan, jangan sampai terbengkalai,” kata Prof Dr Hermanu Joebagio, saat pelantikan PC PMII Kota Surakarta 201802019,  dan talkshow kebangsaan  bertema : Merajut Persatuan dan Semangat Toleransi dalam Keberagaman, Sabtu (22/9/2018), di Kampus UNU Mojosongo.

Sumartono Hadinoto, dari Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) mengungkapkan nilai luhur tata kehidupan masyarakat kita turut merawat kebhinekaan.

“Kalau  kita tidak merawat kebhinekaan, bukan Indonesia,” ucap Sumartono Hadinoto.

Sumartono menyinggung soal maraknya hoax. Menurut pengakuannya, hoax sudah merebak sejak kerusuhan Mei 1998.

“Dulu, belum ada handphone dan android saja sudah banyak hoax, banyak berita bohong yang dibuat tentang kerusuhan Mei. Apalagi sekarang ini, berita bohong menyebar dengan mudah di media sosial (medsos),” ucapnya.

Sumartono juga bercerita tentang pengalamannya berkecimpung di organisasi, ia pun sering mengalami rasialisme.

“Selama 30 tahun berorganisasi di berbagai bidang, termasuk di olahraga, rasialisme sering dialaminya. Termasuk dunia olahraga yang menjunjung kejujuran, fairnes. Tapi saya jadi sadar, semua itu bukan karena suku, agama dan organisasi, tetapi manusianya. Jadi, untuk meminimalisir itu semua, generasi muda harus bekerjasama,” kata Sumartono.

Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah, Gus Sholahudin Aly,  menyatakan keberagaman adalah sunnatullah, hukum alam, sesuatu yang niscaya.

“Yang diperlukan dalam menyikapi keragaman adalah saling mengenal satu sama lain. Dalam terminologi Jawa, saling mengenal ini dikenal dengan srawung,” ujar Gus Sholah yang juga aktivis antihoax di Solo Raya.

Soal maraknya radikalisme, Gus Sholah punya pandangan akibat globalisasi dan salah tafsir terhadap ayat suci.

“Radikalisme itu dipicu dua hal, pertama dampak globalisasi yang kemudian memicu berbagai kelompok mengembangkan analisis sekaligus menghadapinya. Salah satunya kemudian memicu untuk membangun sentimen kelompok, yakni identitas agama. Ini diperparah dengan membanjirnya informasi lewat sosial media (sosmed) yang jauh dari kaidah jurnalistik. Ini akan menghasilkan provokasi-provokasi yang semakin menyuburkan sentimen kelompok. Kedua, terjadinya salah tafsir terhadap ayat suci,” ucap Gus Sholah.

Faikar Romdhon,  wasekjen PB PMII menyatakan PMII harus mampu  mempertahankan budaya yang baik dan budaya baru yang baik. PMII harus mampu  mengambil nilai-nilai zaman yang baik.

“Mempertahankan NKRI  adalah harga mati,” ujar Faikar Romdhon.

Aufal Absor, salah satu panitia pelantikan PC PMI Kota Surakarta, mengungkapkan acara utama pelantikan pengurus baru, dilanjutkan dengan sarasehan tentang keberagaman, persatuan, dan toleransi.  Merajut persatuan dan toleransi dalam keberagaman.

COSMAS

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *