Sambut Tahun Baru Jawa, Gereja St Antonius Purbayan Hadirkan Pengrawit dan Koor Anak-anak  

Spread the love

Solo (Poskita.co)

Bagi sebagian orang, datangnya tahun baru Jawa disambut dengan ikut menonton Kyai Slamet (kebo bule) diarak di jalan utama di Solo. Umat di Gereja St Antonius Purbayan, melakukan proses yang berbeda dengan melaksanakan Bojana Suci Warsa Enggal Jawi 1 Suro 1952, dengan mendatangkan Pengrawit dan Koor Anak-anak SD Kanisius Serenan Giriwoyo.

Mardi Santosa

Rm A Mardi Santosa SJ, dalam homilinya, diantaranya menyinggung tentang orang Jawa  dalam menyambut malam satu suro.  Bagi Mardi Santosa, perayaan satu suro harus dimaknai sebagai peletakan dasar perjuangan  dalam kehidupan.

“Sebelum masuk malam satu suro, dijalani dengan keheningan.  Harapannya, kita meletakkan perjuangan kita kepada garis sang hyang paraning dumadi,” ujar Mardi Santoso.

Walau masih belia, karena memang masih duduk di sekolah dasar, anak-anak tersebut sangat piawai membawakan lagu-lagu rohani dengan iringan karawitan. Mereka fasih menabuh bonang barung, gong, kethuk kenong, kendhang, dan sebagainya. Sementara anak-anak yang lain, memerankan sebagai kelompok koor atau wiraswara.

“Kami membekali anak-anak sejak dini mungkin untuk mengenal kesenian tradisional, khususnya seni karawitan. Harapannya, kelak mereka ini menjadi duta seni dan bisa menjadi ujung tombak dalam melestarikan budaya Jawa,” kata  Agustinus Mringsisari, Kepala SD Kanisius Serenan, Baturetno, Wonogiri, saat ditemui

Agustinus Mringsisari

 

Selain menghadirkan pengrawit dan koor, juga menghadirkan performing art dari Koor Anak Purbayan, yang lebih dikenal dengan KAP.  KAP dibawah komando Kak Iin dan Bunda Joelia,  menampilkan lagu Ilir-ilir, dan malam itu terasa begitu menyentuh jiwa, karena terjadi perpaduan etnik Jawa dengan suasana gerejawi.

“Kami ingin anak-anak terlibat aktif, kreatif dan turut melestarikan lagu-lagu Jawa,” ucap Joelia.

Pada akhirnya, perayaan satu suro, menyambut tahun baru Jawa, terasa istimewa dan terkesan di hati umat, menjadi ajang perenungan yang mendalam.

Tak kalah menarik dan nyamleng, usai Bojana Suci, umat bisa menikmati hidangan mulai dari bubur lemu, bakso, kacang, klepon, dan makanan lainnya yang telah disiapkan emak-emak hebat dari berbagai lingkungan Purbayan. Wah… luar biasa.

COSMAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *